Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Membaca Tradisi Ziarah dan Mengaji Pusara Jelang Puasa Masyarakat Padang Pariaman

Jemaah Al-Wasilah Padang Pariaman sedang ziarah di makam Papan Tinggi di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Tradisi ziarah ke makam ulama dan mengaji di pusara, sepertinya menjadi tradisi tersendiri di Padang Pariaman, Sumatera Barat menjelang Ramadhan tiba.

Terutama sejak bulan Rajab hingga sehari akan memasuki bulan puasa, masyarakat daerah ini menyibukkan diri dengan ziarah ini.

Sejak dari ziarah dekat, ke sejumlah makam ulama yang ada di Sumatera Barat hingga ziarah jauh ke Banda Aceh dan tanah suci Mekkah dan Madinah, dalam program umrah.

Ada banyak tempat ziarah di Sumbar ini. Paling banyak dapat kunjungan oleh jemaah dari Padang Pariaman itu, adalah Uwai Limopuluah Malalo, Syekh Abdul Wahab Calau, Sijunjung.

Terus Syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh Muhammad Yasin Tanjung Ampalu, Sijunjung, Syekh Alumma Koto Tuo, Agam hingga Syekh Abdurrauf as-Singkili, Banda Aceh.

Tentu masih banyak lagi tempat ziarah. Baik di Padang Pariaman sendiri maupun di luar daerah yang panjang kalau kita tulis di sini.

Ada banyak kelompok jemaah pula di daerah ini. Hampir setiap nagari punya guru dan ulama tersendiri pula dalam mewiridkan tradisi ziarah ini.

Tapi, ziarah ini bagian dari ibadah yang bertujuan untuk mengingat kematian, dan bertawashul lewat berkah guru di makamnya, kepada Yang Maha Kuasa.

Bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti kita masuki. Hanya waktu, kapan dan dimana kita meninggal dunia yang tidak kita ketahui.

Itu rahasia Allah SWT terhadap hamba-Nya. Termasuk juga ulama, adalah pewaris nabi yang harus ikut berpisah dengan dunia ini.

Itulah salah satu inti dari kita pentingnya untuk ziarah. Betapa hebatnya ulama ini, banyak ibadahnya, tinggi ilmunya, tapi tetap saja menemui maut ketika ajalnya tiba.

Lewat berkah guru dengan membaca zikir dan shalawat, jemaah yang sedang ziarah juga berharap, Rajab dan Syakban yang sedang dan telah dilewati, bisa memberikan berkah tersendiri, sehingga bisa pula sampai pada Ramdhan.

Ya, Ramadhan bulan yang mulia. Penuh dengan rahmat dan berkah, serta tempat bulan memperbanyak ibadah.

Bulan Ramadhan juga sebagai bulan ujian bagi umat Islam. Ujian untuk meningkatkan derajat taqwa seseorang, mampu mengendalikan hawa nafsu pasca Ramadhan nantinya, karena sebulan dilatih untuk menahan seluruhnya.

Nah, untuk memantapkan puasa yang sudah di depan mata, setidaknya jemaah ini mempersiapkan segala-galanya. Termasuk persiapan batin, dengan menziarahi para guru dan wali Allah.

Sebagai daerah tujuan wisata religi utama dengan adanya Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman, masyarakat daerah ini pun kerap melakukan ziarah keluar daerah.

Di Aceh, baik di Aceh Singkil maupun Banda Aceh, masyarakat Padang Pariaman ini paling tersebut banyak datang ziarah ke situ.

Kenapa? Karena garis yang lurus. Guru Syekh Burhanuddin Ulakan paling populer itu, adalah Syekh Abdurrauf as-Singkili.

Oleh guru-guru, ziarah ini juga disebut sebagai bagian dari upaya kita membelanjakan harta di jalan Allah SWT.

Dipastikan, tidak ada orang yang miskin karena terlalu sering ziarah. Banyak mengeluarkan harta untuk ziarah. Tapi itu tadi. Penting meluruskan niat untuk ziarah.

Karena dalam ziarah juga terselip amal ibadah lain, seperti sedekah. Dari tradisi ziarah, baik ziarah jelang puasa maupun ziarah lainnya, terlihat menggerakkan semua sektor ekonomi masyarakat itu sendiri.

Mengaji pusara

Jelang puasa, masyarakat daerah ini juga mewiridkan mengaji pusara. Dua atau tiga hari jelang puasa masuk, masyarakat ramai di pandam pekuburan.

Pandam pekuburan ini ada yang milik kaum dan banyak yang milik korong dan nagari.

Biasanya di setiap penutupan wirid di surau atau Jumat terakhir jelang puasa, pemimpin masyarakat menyampaikan pemberitahuan, bahwa kita mengaji pusara hari itu, tolong sampai menyampaikan.

Masyarakat yang ada kuburan orangtua atau keluarganya di sebuah pandam pekuburan itu, membawa nasi dan makanan saat mengaji pusara itu.

Tempat mengajinya sengaja dibangun sebuah balai-balai atau pondok dengan agak memanjang. Di balai-balai itulah orang siak dan masyarakat membaca kaji dan doa secara bersama, lalu makan setelah itu, serta saling meminta maaf satu sama lainnya, karena puasa akan tiba. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies