![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Satu-satunya jenis pekerjaan yang memungkinkan seorang perempuan yang cakap untuk merealisasikan kemampuannya secara penuh, untuk mencapai identitas dalam masyarakat dalam rencana hidup yang mencakup pernikahan dan peran sebagai ibu, adalah jenis pekerjaan yang dilarang oleh mistik feminin—komitmen seumur hidup terhadap seni atau sains, politik atau profesi.“ —- Betty Friedan(1921-2006), The Feminine Mystique(1963).
Di negeri para raja, tempat rempah-rempah dulu menjadi mata uang diplomasi dan darah, kini perempuan menuntut ruang di altar kekuasaan.
Megawati Soekarnoputri(78), sang matriark partai banteng, kembali meneguhkan tahtanya di Kongres PDIP ke-6, tak lama setelah amnesti kontroversial terhadap Sekjen Hasto Kristiyanto dan Gubernur Maluku Utara.
Di sisi lain, Sherly Tjoanda(42), terlalu muda, perempuan minoritas yang bangkit dari tragedi kapal meledak, melenggang sebagai kandidat kuat gubernur Maluku Utara.
Dua perempuan, dua medan politik, satu benang merah: kepemimpinan yang menantang simbolisme patriarki religius yang telah lama bersemayam di tanah Moloku Kie Raha.
Megawati bukan sekadar ketua umum. Ia adalah simbol kekuasaan yang menua bersama partainya, seperti pohon beringin yang tak tumbang meski akarnya membelit demokrasi internal di bawah bayang-bayang patrimonial.
Mbak Mega, begitu sapaannya, menyebut Hasto sebagai korban ketidakadilan, sementara publik bertanya-tanya apakah amnesti itu adalah zikir politik atau kalkulasi kekuasaan?
Di tengah ritual politik yang semakin menyerupai liturgi, Megawati tampil sebagai imam perempuan yang tak butuh restu dari para sultan.
Sherly Tjoanda, sebaliknya, adalah narasi baru yang tak terduga.
Seorang perempuan cantik Tionghoa-Kristen yang belum pulih dari luka bakar, namun sudah berdiri di panggung debat dengan tongkat dan tekad.
Ia menantang struktur kekuasaan yang selama ini dikawal oleh para sultan dan ulama, yang memeluk Islam sejak abad ke-15 dan menjadikan gelar "kolano" sebagai "sultan"—sebuah transformasi simbolik dari raja dunia ke wakil Tuhan.
Di tengah dominasi 75% Muslim, Sherly menang bukan karena politik uang, tapi karena politik luka dan harapan.
Betty Friedan dalam The Feminine Mystique menyebut bahwa perempuan telah lama dikurung dalam mitos domestik.
Megawati dan Sherly mematahkan mitos itu, bukan dengan slogan, tapi dengan tubuh politik yang bertahan.
Julia Kristeva(82), dalam Polylogue(1977), akan menyebut mereka sebagai subject-in-process, entitas yang terus berubah dan menolak dikunci dalam identitas tunggal.
Dikatakan Kristeva bahwa subjek manusia bukanlah entitas tetap, melainkan selalu berada dalam proses pembentukan dan transformasi melalui bahasa, pengalaman sosial dan politik, tentunya, dan dorongan bawah sadar.
Konsep ini merupakan bagian dari kritiknya terhadap teori psikoanalitik Lacanian, di mana Kristeva menekankan bahwa identitas tidak pernah utuh atau final, melainkan selalu bergerak dan berubah.
Ia menyebut subjek sebagai entitas yang “bermotilitas”—bergerak dan menolak dikekang oleh sistem simbolik yang kaku.
Sementara Naomi Wolf(62), aktivis feminisme, — melalui The Beauty Myth(1990) — mungkin akan mengkritik estetika kekuasaan yang masih menilai perempuan dari citra, bukan gagasan.
Tapi Sherly, dengan kaki berbalut perban, telah membalik logika itu: tubuhnya bukan objek, melainkan narasi.
Di Maluku Utara, para sultan masih menjadi penjaga gerbang simbolik.
Mereka adalah warisan Islamisasi abad ke-8, penjaga masjid dan madrasah, dan kadang juga penjaga patriarki.
Tapi kini, seorang perempuan berdiri di depan mereka, bukan sebagai tamu, tapi sebagai pemimpin.
Politik perempuan di sini bukan sekadar representasi, tapi revolusi simbolik.
Ia mengganggu tatanan lama, seperti ecofeminisme yang mengganggu logika dominasi atas alam dan tubuh perempuan.
Megawati dan Sherly bukan sekadar tokoh.
Mereka adalah metafora tentang bagaimana perempuan bisa menjadi pusat gravitasi politik, bahkan di tengah orbit kekuasaan yang maskulin dan religius.
Mereka adalah bukti bahwa patriarki bisa digoyang bukan dengan amarah, tapi dengan keberanian untuk tetap berdiri—meski dengan tongkat, meski dengan sejarah yang berat.
Dan jika para sultan masih percaya bahwa kuasa adalah warisan langit, maka Megawati dan Sherly adalah badai bumi yang datang tanpa permisi.
Mereka tidak meminta izin. Mereka menciptakan ruang. Dan ruang itu kini tak lagi milik laki-laki saja.

