![]() |
Oleh : Ririe Aiko
_“Ngapain bertahan jadi penulis? Kalau nyatanya nggak bisa bikin kaya.”_
Celetukan ini kerap saya dengar dari seorang teman yang dulu sama-sama memulai perjalanan di dunia literasi. Ia salah satu penulis yang pernah berada di puncak, menerbitkan satu buku yang meledak di pasaran. Lalu bukunya sempat dijadikan sebuah Film, namun, setelah euforia itu mereda, karyanya sepi pembeli. Ia pun kecewa, merasa karyanya dilupakan begitu saja. Sehingga ia harus menghadapi kenyataan, bahwa royalty yang pernah ia peroleh, tidak cukup untuk menopang hidupnya menuju sejahtera. Sistem yang ada seakan tidak mendukung penulis untuk terus berkarya, hingga akhirnya, dia memilih berhenti menulis dan beralih profesi.
Saya memahaminya. Karena tidak semua orang mampu bertahan menghadapi kerasnya realitas menjadi penulis, apalagi di negeri yang minim apresiasi terhadap literasi.
Saya sendiri yang memulai karier menulis sejak SMP, memenangkan beberapa lomba puisi, menulis skenario FTV, menekuni cerita horor, hingga menorehkan prestasi di berbagai lomba penulisan, bahkan pernah di tingkat ASEAN. Tapi, bagaimana dengan penghasilan? Apakah hasilnya sudah bisa disamakan dengan JK Rowling? Jawabannya adalah jauh dari kata sejahtera, meski dengan pengalaman yang bisa dibilang cukup lama di dunia menulis, tidak ada jaminan secara finansial kita bisa mapan dengan hanya menjadi penulis.
Seperti kata Denny JA, hanya 1% penulis di Indonesia yang bisa hidup sejahtera dari karyanya. Hal ini mencerminkan bahwa, betapa mirisinya nasib para penulis, jika mereka hanya mengandalkan hidup dari menulis. Tapi meski karier sebagai penulis bisa dibilang suram, saya tidak pernah bisa lepas dari dunia menulis.
Saya tetap menulis dan menulis. Sampai tanpa terasa tulisan saya sudah mencapai ratusan lebih jumlahnya. Bahkan entah sudah berapa banyak saya headline tanpa mendapat rewards. Bukan berarti saya tidak butuh royalty, tapi karena jika kita terlalu berekspektasi tinggi, kita akan mulai dihadapkan pada rasa kecewa yang besar dan bisa saja memutuskan untuk berhenti menulis.
Karena seperti yang kita ketahui, bahwa kita hidup di tempat yang minim apresiasi terhadap sastrawan, penulis atau pegiat literasi. Dengan adanya sistem seperti itu, jika kita berharap kesuksesan terlalu tinggi, kita akan banyak menuai kecewa dan bisa jadi memutuskan untuk berhenti menulis, karena merasa menulis tidak bisa mewujudkan ekspektasinya secara finansial.
Sebagai penulis sejati yang kita butuhkan adalah semangat tinggi untuk tetap menulis dan menanamkan pada diri, bahwa tidak semua pencapaian bisa diukur dengan nilai rupiah. Jadikan menulis bagian dari kehidupan, sebuah ruang berekspresi untuk memberi makna. Berbahagialah dan berbanggalah karena bisa menjadi Penulis. Karena penulis itu bisa menjadi satu bagian yang menorehkan sejarah dan meninggalkan warisan abadi berupa ilmu pengetahuan. Jadikanlah alasan itu untuk terus konsisten berkarya.
Setiap kata yang ditulis jika itu bisa menginspirasi, menghibur, atau bermanfaat bagi pembaca. Itulah “nilai kebahagiaan” yang tak ternilai.
Narasi ini saya tulis bukan karena saya menolak kesejahteraan dari menulis, siapa yang tidak ingin hidup layak dari karya? Tetapi, saya ingin para penulis muda, tidak menyerah untuk tetap menulis, meski tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana karier penulis di depan, semoga kita bisa tetap menjadi penulis yang tak hanya mengejar angka, tapi juga meninggalkan jejak kata yang bermanfaat bagi generasi bangsa.

