Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Integrasi Ilmu dan Islamisasi Ilmu Oleh: Duski Samad Tuanku Mudo dan Dafril Tuanku Bandaro

Halaqah itu pola pembelajaran duduk melingkar dihadapan guru, awalnya adalah metode pembelajaran di Pondok Pesantren. Adanya Pesantren di Indonesia 1062 masehi, ada yang menyebut 1365.

Madrasah baru berdiri akhir abad 19 yang pertama Madrasah Adabiyah di Padang sebagai pengembangan pondok pesantren dan sekaligus menghadapi sekolah Belanda. 

Halaqah itu membawa sentuhan dan menjadikan anak didik ilmu melekat di memory dan melekat di dada, karena berkah, sedangkan Madrasah yang sudah klasikal seringkali formal. 

Surau Halaqah, Madrasah dan Pondok Pesantren sejatinya tri tunggal institusi pendidikan umat yang memiliki segmen masing-masing, keunggulan berbeda dan alumni yang tidak sama kiprahnya. 

Madrasah kini leading, maju dan dapat menyaingi pada daerah tertentu Madrasah sudah menggeser Sekolah umum. Pondok Pesantren juga tak kalah perkembangan dan kemajuannya dengan inovasi yang berbeda. Tentang surau Halaqah belum banyak informasi yang menyebut keunggulan dan prestasinya. 

Narasumber Dafril Tuanku Bandaro guru penerima Madrasah Award 2023 menyampaikan bahwa kunci sukses itu ada lima yakni ikhlas, kerja keras, militan, update dan publikasi. Integrasi Halaqah dan Madrasah adalah tuntutan sejarah untuk berlari menjeput kemajuan umat dan bangsa. 

MENGURAI DIKHOTOMI ILMU

Mengkaji plus minus dunia pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah yaitu surau Halaqah, Madrasah dan Pondok Pesantren. Masih belum maksimalnya transformasi surau Halaqah ke Madrasah dan Pesantren moderen, satu akar masalahnya adalah masih belum selesainya konsep integrasi ilmu dan islamisasi ilmu pengetahuan. 

Pendekatan akademik tentang integrasi ilmu dan islamisasi ilmu dimaksudkan untuk mendekatkan jarak, atau menjembatani dikhotomi (pemisahan) antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Padahal tidak ada ruang pemisah dan jarak pembeda antara ilmu agama dengan ilmu umum, kecuali pada subyeknya yang memang berbeda. 

Konsep integrasi ilmu adalah landasan berpijak adanya lembaga pendidikan Madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan. Integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan merupakan konsep yang penting untuk pengembangan pengetahuan dan pemahaman yang holistik. 

Esensi dari integrasi ini adalah menyatukan perspektif agama dengan pemahaman ilmiah untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif dan holistik tentang dunia dan kehidupan manusia.

Pada dasarnya, ilmu pengetahuan berusaha untuk menjelaskan fenomena alam dan kehidupan dengan menggunakan metode ilmiah dan rasionalitas, yang disebut dengan ulul albab.(QS. Ali Imran/3: 190). 

Sedangkan ilmu keislaman menawarkan prinsip-prinsip dan panduan etika yang diambil dari ajaran agama Islam. 

Integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan melibatkan pengakuan bahwa kedua disiplin ini memiliki keunikan dan perspektif yang berbeda, namun dapat saling melengkapi.

Integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan memungkinkan penelitian dan pemahaman yang lebih dalam tentang fenomena-fenomena dunia nyata serta nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang terkandung dalam agama. Ini mengarah pada pengembangan pengetahuan yang berdasarkan pada paradigma gabungan antara pemikiran ilmiah dan pemikiran agama.

Secara praktis, integrasi ini dapat dilakukan melalui metode penelitian interdisipliner, di mana pemikiran dan perspektif agama digunakan sebagai panduan dan kerangka kerja dalam menafsirkan dan menganalisis data. Munculnya bidang-bidang seperti bioetika, studi lingkungan dari perspektif Islam, dan ekonomi Islam adalah contoh konkret dari integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan.

Esensi dari integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan adalah untuk memperkaya pemahaman kita tentang dunia ini, meluasnya wawasan, serta menghasilkan pengetahuan yang tidak hanya berdasarkan aspek ilmiah saja, tetapi juga mempertimbangkan aspek moral, etika, dan spiritual. Dengan demikian, integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas dan berkelanjutan mengenai realitas dunia dan kehidupan manusia.

Integrasi ilmu agama dengan ilmu pengetahuan menjadi kesadaran kolektif ilmuwan Islam, khususnya pada Perguruan Tinggi Agama Islam, IAIN yang semua program studi ilmu-ilmu keislaman kemudian bertransformasi menjadi UIN yang prodinya membuka semua cabang keilmuan. 

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN 

Sebelum ini, khususnya sejak awal kebangkitan Islam, awal abad ke 15 hijrah, sudah bergema seruan untuk Islamisasi ilmu pengetahuan, tokoh yang kuat mempromosikan al-Faruqi cendikiawan Malaysia. 

Islamisasi ilmu, atau sering juga disebut dengan "Islamisasi pengetahuan", merujuk pada upaya untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai keislaman ke dalam ilmu-ilmu pengetahuan non-agama. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman dan aplikasi ilmu pengetahuan dengan pandangan, nilai, dan etika yang berasal dari Islam.

Islamisasi ilmu melibatkan beberapa aspek, seperti:

1. Pemahaman Al-Quran dan Hadis: 

Islamisasi ilmu mencari pemahaman lebih dalam tentang ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan serta menerapkannya dalam konteks modern. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam teks-teks suci Islam kemudian diintegrasikan ke dalam pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Etika dan Moral: 

Islamisasi ilmu juga melibatkan integrasi nilai-nilai etika dan moral Islam ke dalam praktik ilmiah. Hal ini termasuk melibatkan pertimbangan etis dalam penelitian, penerapan teknologi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

3. Konsep dan Paradigma: 

Islamisasi ilmu juga mencakup pemikiran dan paradigma baru yang mencerminkan pandangan dunia Islam. Beberapa ilmuwan Muslim telah mengembangkan pemikiran dan pendekatan paradigma baru dalam bidang-bidang seperti filsafat, sains, ekonomi, dan sosial berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

4. Pengabdian kepada Masyarakat: 

Islamisasi ilmu juga menekankan pentingnya pengabdian ilmu kepada masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Ilmu pengetahuan diarahkan untuk memberikan manfaat bagi umat manusia secara menyeluruh, sesuai dengan tujuan Islam untuk kebaikan umat manusia.

Tujuan utama dari islamisasi ilmu adalah untuk mengintegrasikan pemahaman dan kontribusi Islam ke dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan sehingga dapat memberikan pandangan holistik dan solusi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan dunia kontemporer. Islamisasi ilmu juga penting dalam memelihara dan mengembangkan identitas keilmuan Muslim serta memperkaya khazanah ilmu pengetahuan global.

PERAN AKADEMISI

Kaum akademisi adalah mereka yang akrab dengan ilmu pengetahuan. Peran dan keberadaan akademisi dalam bidang ilmu pengetahuan sangat strategis. 

Peran akademisi sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Berikut adalah beberapa peran utama yang dimiliki oleh akademisi:

1. Penelitian: 

Akademisi memiliki peran utama dalam melakukan penelitian untuk memperluas pengetahuan di berbagai bidang. Mereka bertanggung jawab untuk mengembangkan teori baru, menemukan temuan baru, dan menyumbangkan pengetahuan baru untuk ilmu pengetahuan.

2. Pengajaran: 

Akademisi berperan sebagai pengajar di lembaga pendidikan seperti universitas dan perguruan tinggi. Mereka bertanggung jawab untuk mengajar dan membimbing mahasiswa dalam memahami konsep-konsep ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan mendapatkan pemahaman yang mendalam dalam bidang yang mereka pelajari.

3. Menulis dan Publikasi: 

Akademisi juga berperan dalam menulis dan menerbitkan karya ilmiah. Mereka menerbitkan artikel, buku, dan makalah ilmiah untuk berbagi penemuan dan pengetahuan baru dengan komunitas ilmiah dan masyarakat pada umumnya.

4. Kolaborasi: 

Akademisi sering kali bekerja sama dengan rekan sejawat dan institusi lain untuk melakukan penelitian kolaboratif dan pertukaran pengetahuan. Melalui kolaborasi ini, ide-ide baru dapat dikembangkan, sumber daya dapat digunakan secara efisien, dan pengetahuan dapat diperluas secara lebih luas.

5. Konsultan dan nara sumber: 

Akademisi dengan keahlian dan pengetahuan khusus mereka seringkali menjadi konsultan dan nara sumber bagi pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor industri. Mereka memberikan saran dan rekomendasi berdasarkan penelitian dan keahlian mereka untuk membantu dalam pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan.

Melalui peran-peran ini, akademisi berkontribusi secara signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan mendorong kemajuan dalam berbagai bidang pengetahuan.

PERAN ULAMA 

Ulama sebagai pemilik otoritas ilmu-ilmu keislaman, sejatinya memiliki peran besar bagi pengembangan ilmu secara keseluruhan, (QS. al-Baqarah/2:31). 

Peran ulama dalam pengembangan ilmu pengetahuan sangat penting. Sebagai pemimpin spiritual dan intelektual dalam masyarakat Muslim, ulama memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengembangkan, dan menyebarkan pengetahuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Berikut adalah beberapa peran ulama dalam pengembangan ilmu pengetahuan:

1. Menjaga Keseimbangan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan: 

Ulama bertanggung jawab untuk memastikan bahwa penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam. Mereka membantu membangun keseimbangan antara agama dan ilmu pengetahuan, sehingga penemuan baru dapat diakomodasi dalam kerangka keislaman.

2. Menafsirkan dan Memahami Ilmu Pengetahuan: Ulama memiliki pengetahuan mendalam tentang ajaran agama dan prinsip-prinsip Islam. Dengan demikian, mereka dapat membantu dalam menafsirkan dan memahami implikasi ilmiah dari penemuan baru. Mereka dapat memberikan panduan tentang bagaimana mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam kerangka keislaman.

3. Memberikan Arahan Moral dan Etika:

Ulama memberikan panduan moral dan etika kepada umat Muslim dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip agama dalam konteks ilmu pengetahuan.

4. Menyebarkan Pengetahuan:

Ulama juga memiliki peran penting dalam menyebarkan pengetahuan kepada umat Muslim. Mereka dapat mengajarkan konsep-konsep ilmiah secara jelas dan relevan dengan panduan agama. Mereka juga dapat membantu dalam mendidik masyarakat tentang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan dan mengembangkan pemahaman yang benar tentang ilmu pengetahuan dalam kerangka keislaman.

5. Membantu dalam Pengambilan Keputusan: 

Ulama sering kali diminta untuk memberikan panduan dan fatwa terkait isu-isu ilmiah, seperti bioetika atau keputusan teknologi yang kontroversial. Dengan pengetahuan agama dan pemahaman mendalam tentang ilmu pengetahuan, ulama dapat memberikan nasihat dan bimbingan kepada individu dan masyarakat dalam mengambil keputusan yang tepat.

Dalam kesimpulan, ulama memiliki peran yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Muslim. Mereka menjaga keseimbangan antara agama dan ilmu pengetahuan, menafsirkan dan memahami implikasi ilmiah, memberikan arahan moral dan etika, menyebarkan pengetahuan, dan membantu dalam pengambilan keputusan terkait ilmu pengetahuan.

Mencermati pentingnya kedudukan Islam dan ilmu pengetahuan maka adalah tuntutan kehidupan keduanya kembali disatu tubuhkan (integrasi dan islamisasi pengetahuan). Kerja strategis yang mesti dimulai adalah menempatkan lembaga pendidikan ulama, satu di antara halaqah, dengan pendidikan di Madrasah sebagai bentuk dari Sekolah Umum yang bercirikan agama. 

Begitu juga saatnya tidak melanjutkan dikhotomi akademisi dengan ulama, sekolah dengan madrasah, madrasah dengan halaqah, Perguruan Tinggi Islam dengan Perguruan Tinggi Umum. Setiap orang akan bekerja sesuai keahlian, profesional dan proporsional adalah cara terbaik untuk menghadapi masa depan yang terus berubah. (***)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies