Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kunjungan ke Bangkok, Sebuah Catatan Perjalanan Ridwan Arif, Ph.D Tuanku Bandaro

Ridwan Arif, Ph.D Tuanku Bandaro 

Jakarta-Bangkok. 

Sabtu, 19 Januari 2019. Lampu tanda isyarat kenakan sabuk pengaman baru saja dimatikan. Pramugari mulai membagikan makanan dan minuman kepada penumpang-penumpang yang telah melakukan pra-pesan sekaligus membuka peluang kepada penumpang yang ingin melakukan pemesanan. 

Awalnya saya ingin memesan nasi lemak, tetapi setelah ia melihat di brosur ada menu Nasi Padang Uda Remon, saya langsung memesan menu tersebut kepada pramugari. Untuk minuman saya memesan air mineral (Aqua) botol kecil. Ternyata walau sudah ke sana kemari, selera saya masih setia dengan menu masakan Minang sebagai pilihan pertama. 

Saya langsung menikmati makanan tersebut dengan lahap. Ni karena saya tidak sempat makan di Bandara Soekarno Hatta karena sibuk bersama security bandara melacak hp yang hilang sewaktu melakukan check-in. Untung saja sakit maag saya tidak kambuh.

Setelah makan saya mengeluarkan lembar jawaban ujian akhir semester (UAS) mahasiswa salah satu mata kuliah yang saya ampu. Lembar jawaban tersebut terpaksa dibawa karena target untuk menuntaskan pemeriksaan seluruh lembar jawaban mahasiswa sebelum berangkat ke Bangkok, tidak tercapai. 

Hanya lima mata kuliah yang bisa saya selesaikan. Sebelum memulai mengerjakan pemeriksaan lembar jawaban UAS tersebut, saya berkenalan dengan penumpang yang duduk di sebelah saya. “Are you Thai people?” saya mulai membuka pembicaraan. “Yes, I am” jawab wanita separuh baya tersebut. 

Sebelumnya saya sudah menduga bahwa wanita tersebut warga Thailand. Ia bercerita, yang tentu saja dalam bahasa Inggris, bahwa ia datang ke Jakarta dalam rangka liburan. Saya bergumam dalam hati, untung saya bisa “speaking English”, kalau tidak bagaimana saya bisa minta tolong kepada orang asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Dari obrolan awal dengan wanita ini, saya mendapat kesan, ia cukup ramah.

Saya menceritakan kepada wanita ini, saya bermaksud mengunjungi seorang sahabat di Bangkok. Alamat dan nomor kontak teman ini tersimpan di hp saya. Sedangkan hp saya baru saja hilang di Bandara Soekarno-Hatta saat mau boarding tadi. 

Saya khawatir kalau petugas imigrasi di Bangkok nanti menanya saya tentang alamat tempat nginap. Kalau saya katakan saya nginap di tempat teman, sedangkan saya tidak ada alamatnya, kan bisa berabe jadinya. Sedangkan di imigrasi KLIA pun, walaupun saya udah tercatat dalam sistem imigrasi pernah menetap lebih kurang 12 tahun di Malaysia, dengan status saya yang sekarang sebagai pelancong, masih ditanya tiket pulang. 

Di samping khawatir tidak lepas di imigrasi, tentu saja teman saya sudah menunggu saya di airport. Seandainya saya tidak ketemu sang teman, bagaimana cara saya menghubunginya? Karena itu, saya minta tolong kepada wanita tersebut untuk mengaktifkan hotspot hp-nya setelah mendarat di Don Mueang airport nanti, sebagai langkah berjaga-jaga jika saya gagal terhubung dengan wifi bandara. 

Rencananya setelah bisa online dengan laptop, saya akan menghubungi sahabat tersebut melalui messeger. Ternyata wanita ini cukup baik. Dia bilang “Okay, I will help you, don’t worry”. Setelah merasa tenang, saya melanjutkan pemeriksaan lembar jawaban UAS mahasiswa. Kalau tidak bisa diselesaikan semua dalam waktu 3,5 jam perjalanan ini, setidaknya tidak banyak yang tersisa. Di Bangkok bisa saya tuntaskan.

Don Mueang Airport

Pesawat Air Asia yang saya tumpangi mulai merendah. Lautan kilauan cahaya Kota Bangkok sudah kelihatan dari udara. Pertanda waktu mendarat sudah dekat. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat. Keluar dari pesawat, saya jalan bareng dengan wanita tadi. Sebelum sampai di imigrasi check-point, saya mengeluarkan laptop. Wanita tadi mengaktifkan hot spotnya. Saya buka messenger, langsung mencoba menghubungi sahabat saya, Mr. Rungsan melalui video call. Alhamdulillah, panggilan saya diterima. Mr Rungsan sudah menunggu di pintu kedatangan. Saya katakan, “Mr Rungsan, please sent your name card again. Your name card was saved in my handphone. My phone just lost in Jakarta airport”. Ia jawab, “Okay, I will send you right now”. Seketika itu juga foto name card Mr. Rungsan masuk di messenger. Saya langsung mencatat alamat dan nomor hp sang sahabat. Jika petugas imigrasi bertanya nanti, saya sudah bisa jawab. Saya matikan laptop kembali. Saya berjalan menuju imigrasi check-point. 

Sambil berjalan wanita tadi berkata, “Don’t worry, I will wait you until you passed immigration check-point”. Bimbang nanti saya ada masalah dan tidak bisa lepas, wanita ini menawarkan bantuan untuk menunggu saya dekat imigrasi check point sampai saya lepas. 

Antrian di imigrasi chek-point ini cukup ramai. Saya perhatikan kebanyakan pelancong dari China dan Korea. Sebagian ada bule dan warga Negara Malaysia. Saya lihat wanita tadi sudah menunggu dengan sabar di belakang imigrasi check-point. sebagai warga Negara tentu ia bisa lebih cepat keluar. Karena untuk warga Negara disediakan pintu check-point otomatis (auto gate). Pergerakan antrian cukup lamban. Ini karena pos untuk orang asing hanya 4 pos. sementara pelancong yang datang cukup ramai. 

Setelah antri lebih kurang 45 menit tibalah giliran saya. Kebetulan petugas imigrasinya seorang perempuan. Saya sedikit was-was kalau-kalau petugas ini banyak tanya. Alhamdulillah, ternyata petugas ini tidak ada melontarkan satu pertanyaan pun. Bahkan tak ada berkata sepatah kata pun. Setelah saya sodorkan paspor, ia langsung mengambil dan membubuhkan cap visa dan mengembalikan paspor kepada saya. Alhamdulillah. Saya merasa lega. Dada saya terasa plong. Wanita tadi tersenyum. Saya berjalan menuju pintu keluar kedatangan. Dari jauh Mr Rungsan sudah melambaikan tangannya. Ternyata ia sudah mengesan saya dari jauh. Saya balas dengan lambaian tangan. Setelah dekat, saya bersalaman dan berpelukan dengan Mr Rungsan. Saya ceritakan wanita ini yang menolong saya. Mr Rungsan bercakap-cakap dengan wanita ini dalam bahasa Thailand. Saya hanya menangkap, di akhir pembicaraan, Mr Rungsan mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut. Setelah itu saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada wanita tersebut dengan ucapan “Kopkun krap” yang sudah lama diajarkan Mr Rungsan kepada saya. Saya dan Mr Rungsan menuju tempat parkir di basement. 

Kami berangkat menuju rumah Mr Rungsan dengan mobilnya yang cukup mewah menurut saya. Sepanjang perjalanan kami ngobrol. “So you are a doctor now, Ridwan?” ujar Mr Rungsan membuka obrolan di mobilnya. Saya juga bertanya tentang perkembangan studi S3 nya. Dia memberi tahu saya, progress S3 nya udah lebih kurang 70 persen. Sebenarnya ia udah ingin segera menyelesaikan, tapi karena kesibukannya mengurus bisnis, membuat disertasinya jalan di tempat. Ia memiliki beberapa apartement di area berdekatan dengan Ramkhamhaeng University. 

Malam itu saya diantarkan ke sebuah hotel berdekatan rumahnya. Ia bilang, “Malam ini tidur di sini dulu, sebab apartement saya penuh. Insyaallah besok pindah ke apartement saya”. Bagaimanapun saya ucapkan Alhamdulillah. Walau mengalami musibah, kehilangan hp di saat sangat memerlukannya, akhirnya saya sampai di Bangkok dan bertemu dengan sahabat yang dituju. 

Sebelum sampai di penginapan, Mr Rungsan mengajak saya mampir di sebuah kedai makan. Kemudian saya diantar ke sebuah hotel. Sebelum pamit, Mr Rungsan bilang, “Insyaallah besok jam 7 pagi saya datang menjemputmu untuk sarapan”. Tentu saja bahasa pengantar antara saya dan Mr. Rungsan adalah bahasa Inggris. 

Malam itu saya tidur dengan nyenyaknya.     

(Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies