Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah dan Spritual Kolaborasi Halaqah dan Madrasah

Para santri Madrasatul 'Ulum sedang mengikuti latihan pencak silat dasar. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Tak terasa perjalanan waktu begitu cepat dan kencang. Baru kemarin rasanya Jumadil Akhir tahun kemarin, sekarang sudah berada pula di penghujung Jumadil Akhir tahun ini.

Bagi keluarga besar Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, Jumadil Akhir adalah bulan bersejarah, bulan yang punya catatan tersendiri, karena di bulan ini Syekh H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, pendiri pesantren ini pergi keharibaan-Nya.

Tepatnya 19 Jumadil Akhir 1419 H, Buya Lubuk Pandan ini meninggal dunia. 

Mengambil dari tahun hijriah yang sekarang 1445 H, sudah 26 tahun Buya meninggalkan pesantren, meninggalkan keluarga dan tentunya berpisah dengan dunia seisinya.

Secara tahun Masehi, Buya lahir 1908 dan wafat 1996. Buya berusia 88 tahun, dan sebagian besar usianya dihabiskan untuk belajar dan mengajar.

Tercatat, Buya berguru ke banyak ulama, menuntut ilmu di berbagai tempat. Diantara gurunya, tersebut nama Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, Syekh Muhammad Yatim yang dikenal dengan Tuanku Ampalu dan Tuanku Mudiak Padang, Syekh Bonta Ulakan, Syekh Alumma Koto Tuo dan Syekh Muhammad Djamil Jaho.

Artinya, Buya mengkolaborasikan pendidikan halaqah dengan pendidikan madrasah. Di madrasah, tepatnya di Jaho, Padang Panjang, Buya tak lama di situ.

Sering naik kelas itu secara melampaui. Artinya, dari kelas dua dia bisa dinaikkan ke kelas empat. Begitu seterusnya, sehingga untuk tamat di Jaho, Buya tidak selama mengaji di Padang Bintungan dan Ulakan.

Buya seangkatan dengan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Sama tahun tamatnya, tapi ujian terakhir langsung dari Syekh Muhammad Djamil Jaho ke Buya, adalah mengajar di kelas yang isinya orang hebat dan pilihan.

Diantara isi kelas itu, adalah Syekh Zakaria Labai Sati, yang kelak mendirikan sekolah tarbiyah di Malalo, tak jauh dari Jaho, Padang Panjang.

Tiba saatnya mengajar atau mengabdi, sepertinya Buya yang asli Pakandangan ini tak bisa mempan di tarbiyah. Tapi lebih cocok di surau, dan buktinya sampai akhir hayatnya mengabdi di surau.

Di sini kita lihat, betapa daerah rantau Piaman tidak bisa dikembangkan pendidikan madrasah. Beda dengan daerah darek yang lebih cocok dengan madrasah.

Dari ini, kita menilai betapa Buya tidak anti terhadap perubahan, apalagi perubahan terhadap kebaikan.

Baginya, pendidikan surau dan sekolah atau halaqah dan madrasah, adalah sebuah metode yang inti dan tujuannya sama.

Sama-sama untuk mendalami ilmu pengetahuan, tafaqquh fiddin. Sempat di minta mengajar di salah satu madrasah di Pasaman Barat dan Koto Laweh Tanah Datar setelah menyelesaikan pendidikannya di Jaho, lalu memilih pulang kampung, dan menetap di Pakandangan.

Dan akhirnya menetap di Surau Kapalo Sawah Lubuk Pandan. Sebidang tanah yang diwakafkan oleh keluarga istrinya, dekat Surau Kapalo Sawah itu, didirikannya sebuah surau.

Dari surau inilah ditingkatkan menjadi Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum. Awal berdiri 1940, surau ini pun familiar sebagai "Surau Tuanku Shaliah".

Buya familiar sebagai Tuanku Shaliah. Nama Abdullah Aminuddin tak begitu tersebut. Tetapi dalam ijazah yang ditandatanganinya, tertulis H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah.

Buya tersebut sebagai ulama yang alim. Banyak beramal, beramal dengan ilmu, sehingga Buya digelari dengan Tuanku Shaliah.

Tuanku Shaliah ini tak sama dengan Tuanku Shaliah Sungai Sariak. Mereka dua ulama hebat, alim di bidangnya masing-masing.

Tuanku Shaliah Sungai Sariak lebih populer karena dianggap dan tersebut sebagai ulama keramat. Hampir setiap rumah makan urang awak di luar Padang Pariaman, sengaja memajang foto Tuanku Shaliah Sungai Sariak ini.

Sementara, Tuanku Shaliah Lubuk Pandan yang juga terkenal dengan Tuanku Shaliah Pengka, hanya familiar di kalangan ulama dan orang siak.

Tak banyak fotonya beredar. Ayahnya Syekh Muqaddam Sungai Rotan Pariaman. Seorang ulama hebat, alim dan mumpuni.

Dikabarkan, ke Syekh Muqaddam ini pernah berguru ayah Buya Hamka, Syekh H. Rasul. Anak Syekh Muqaddam ini ada yang jadi tokoh Muhammadiyah hebat di Kurai Taji Pariaman.

Pakiah Shaliah namanya. Buya dengan Pakiah Shaliah ini kakak beradik satu ayah dua ibu. Sama-sama anak dari Syekh Muqaddam.

Cerita Buya dulunya, kakaknya Pakiah Shaliah ini sering memberikan nasehat, sering menyuruh dan mencegah, dan menjadi sumber inspirasi tersendiri oleh Buya.

Berang acap pula. Kakak ke adiklah namanya. Tapi Buya tak pernah melawan. Nah, di sini semangat pembaruan, semangat perubahan tersemai dengan baik oleh Buya. 

Dalam bahasa Arab dikenal dengan "al mukhafadhutu ala kodimissholeh wal akhdu bil jadidi wal aslah". Karena selalu berakar pada tradisi inilah yang menyebabkan Madrasatul 'Ulum yang didirikannya seringkali disebut sebagai pendidikan surau tradisional.

Tradisi mengaji kitab kuning, ziarah ke makam ulama tetap menjadi wirid tersendiri di pesantren itu.

Metode dan gaya boleh berubah, tapi akarnya tetap kuat bertahan. Madrasatul 'Ulum memang tak sehebat pesantren lain.

Kondisi lahan pesantren yang tidak terlalu luas, membuat Surau Tuanku Shaliah ini tak bisa menampung lebih dari 200 santri.

Suraunya telah sekian kali mengalami perubahan. Dari sebuah bangunan kayu dulunya, kini sudah sebuah bangunan permanen berlantai dua.

Surau bertingkat ini sepertinya khas dari dulu. Sewaktu bangunan kayu, Madrasatul 'Ulum tetap berlantai dua.

Lantai dua khusus tempat shalat lima waktu secara berjamaah, tempat tinggal Buya, sekaligus tempat kegiatan perayaan, latihan pidato dan kegiatan serimonial lainnya.

Sama dengan kondisi sekarang, lantai dua tetap untuk ibadah, mengaji dan kegiatan perayaan. Sedangkan asrama santri selain di atas anjung itu.

Lantai dua atau di atas ajung tempat mengaji kelas tujuh. Kelas yang juga disebut "marapulai kaji" di Lubuk Pandan. Itu kelas yang langsung Buya menghadapinya tiap pagi.

Sejak berdiri hingga saat ini, di Madrasatul 'Ulum tercatat dipimpin oleh ulama-ulama yang kuat pertaliannya dengan tradisi pesantren itu sendiri.

Semasa Buya masih aktif di penghujung usianya, ikut H. Iskandar Tuanku Mudo memimpin dan mengajar di Lubuk Pandan.

Iskandar adalah ulama asli Lubuk Pandan, lama mengaji di Surau Kubu, Ujung Gunung. Dia pernah jadi anggota DPRD Padang Pariaman dari Golkar, tapi tak sampai satu periode karena meninggal dunia saat menjabat sebagai anggota dewan.

Iskandar pernah pula terpilih jadi Ketua Tanfidziah PCNU Padang Pariaman tahun 1994. 

Meskipun Iskandar lebih memilih NU sebagai wadah berorganisasinya, Buya tetap dengan khas awalnya. Khas gurunya di MTI Jaho, Syekh Muhammad Djamil Jaho, salah seorang ulama pendiri Tarbiyah Perti.

Buya ikut di dalam organisasi Tarbiyah Perti ini. Berkali-kali ikut iven organisasi, keberadaanya di organisasi ikut menentukan jalannya kebijakan organisasi yang lahir 1928 tersebut.

Lalu, H. Marzuki Tuanku Labai Nan Basa. Alumni Madrasatul 'Ulum asal Singgalang, Tanah Datar ini memimpin dan mengajar di Lubuk Pandan dari 1994 - 2020.

Masa kepemimpinan Marzuki ini cukup banyak dan signifikan perubahan di Lubuk Pandan. Surau kayu yang ikut rusak akibat gempa 2009, diganti dengan bangunan permanen, besar pula.

Marzuki wafat dan makamkan di Lubuk Pandan, dekat makam Buya, pas di belakang bangunan utama atau di mihrab Surau Lubuk Pandan.

Pasca Marzuki, estafet kepemimpinan dan keberlangsungan Madrasatul 'Ulum diteruskan oleh Marulis Tuanku Mudo. 

Alumni asal Kabupaten Solok yang tinggal di Sikabu Lubuk Alung ini tercatat memulai aktivitas kelanjutan pesantren ini tahun 2020.

Sementara, tokoh yang ikut berkontribusi dalam perubahan di Lubuk Pandan, tapi tak berperan sebagai pemimpin dan pengajar, adalah Buya Buchari Rauf.

Dosen IAIN yang pernah jadi anggota DPRD Sumbar dari PPP di zaman Orde Baru ini adalah tokoh yang sering dipanggil oleh Buya.

Soal bangunan, soal mendapatkan uang untuk operasional surau dan rehab bangunan, zaman itu Buya banyak memanggil Buchari Rauf ini.

Buchari Rauf terkenal orang yang lincah, punya banyak jaringan dari daerah hingga ke pusat.

Ada dua dekade yang kiprah Buchari Rauf terasa menonjol di Lubuk Pandan. Surau yang lantai duanya dari kayu, adalah Buchari Rauf motor penggeraknya terwujudnya surau itu.

Lalu, asrama depan berlantai dua, permanen juga kiprah Buchari Rauf. Kala itu dapat bantuan lewat aspirasi dia di DPRD Sumbar.

Latiful Khabir Tuanku Kaciak pun tak kalah kontribusi positifnya terhadap pembangunan fisik.

Pengusaha Rumah Makan Lubuk Idai ini lama jadi ketua pembangunan pesantren. Paling sibuk dan aktif masa pesantren ini dipimpin Marzuki.

Alumni lainnya pun demikian. Tak heran, setiap perubahan dan dinamika yang berlangsung di Lubuk Pandan, ada saja alumni yang ikut di dalamnya. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies