Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

In Memoriam Ali Mukhni, Guru Bupati Berlegacy Oleh: Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Ali Mukhni 

Tanawwa'ul asbab finnal mauti wahid (sebab dapat saja beragam, namun kematian tetap saja satu). Apabila datang ajal, tidak sedikitpun dapat dimundurkan dan dimajukan, (QS. al-A'raf/7:34). Ungkapan dan ayat di atas langsung mengelebat dalam pikiran penulis, ketika pukul 12.00 tengah hari, hari Sabtu, tanggal 28 Oktober 2023 dalam telepon suara bergetar menyampaikan wafatnya Haji Ali Mukhni tanpa melalui perawatan dari sakit, Innalillahi wainna ilaihi rajium. 

Kabar duka begitu cepat menyebarnya melalui media sosial dan begitu pula sahabat, dan sanak saudara berkumpul ramai di rumah duka Kampung Jaho Kota Pariaman, kaba baik ba imbauan, kaba buruk ba hambauan masih cukup kuat adanya dalam masyarakat Padang Pariaman dan Kota Pariaman. 

Setelah hari kedua wafat ini, selesai pemakaman di tanah kelahirannya di Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman, adalah pantas diungkapkan kenangan legendaris yang telah beliau torehkan, insyaallah karya pengabdian terbaiknya menjadi investasi amalnya dihadapan Allah swt. 

Pilihan judul guru kepala daerah berlegacy maksudnya untuk menyatakan awal karir almarhum adalah guru olah raga diangkat pertama kali di Provinsi Bengkulu. Beliau pernah menceritakan kepada penulis di Provinsi tetangga ia dibimbing dan sekaligus mentor beliau almarhum Bapak Sabri Zakaria (Mantan Kepala PU tersukses di Sumatera Barat). 

Dalam jejak sejarah hidup beliau kembali ke Padang Pariaman sebagai guru olah raga, bersamaan itu juga aktif sebagai pengusaha, dan kelak menjadi Wakil Bupati mendamping almarhum H. Muslim Kasim. Karir beliau terus meroket sampai menjadi Bupati selama 2 (dua) priode, 10 tahun dengan 2 orang wakil Bupati H.Damsuar dan Suhatri Bur yang kini menjadi Bupati Padang Pariaman. 

RECOVERY PASCA GEMPA 2009

Saat gempa besar 30 September 2009 Ali Mukhni adalah wakil Bupati mendampingi almarhum Muslim Kasim. Ketika tahun 2010 ia terpilih menjadi Bupati dengan wakil Bupati Damsuar yang dipublikasi media sebagai pamong senior dan berpengalaman di Pemerintah, tentu Bupati dapat dengan mudah mengkoordinasikan, mencari terobosan dan membangun jaringan dengan nasional untuk memperbaiki fasilitas pendidikan, dan kebutuhan umum lainnya. 

Dalam recovery ekonomi dan koneksi dengan nasional dan pengusaha orang sukses di rantau, seorang Guru Besar ( Professor) di Perguruan Tinggi umum Sumatera Barat pernah menyampaikan pada penulis, jika ingin tahu siapa kepala daerah yang mau berjam-jam, bahkan tidur di ruang tamu menunggu Mentri untuk urusan ekonomi, pendidikan dan pembangunan daerahnya, ya itulah Ali Mukhni Bupati Padang Pariaman.

Perjalanan penulis mencermati recovery pasca gempa 2009, Kabupaten Padang Pariaman harus menyatakan bahwa daerah termasuk yang cepat bangkit. Kesadaran masyarakat nagari, dukungan perantau, dan tentu tak terlepas motivasi, kebijakan dan dukungan kepemimpinan kepala daerah adalah hasil nyata kebangkitan masyarakat dari kesulitan hidup, menuju lebih baik. 

Sukses pembangunan fisik, mental dan keharmonisan masyarakat pasca trauma gempa beberapa kali, begitu juga musibah longsor, banjir bandang dan bencana lainnya, adalah buah dari ketahanan kolektif adat, budaya dan agama yang kuat di dalam sistem sosial kemasyarakatan. Peran Bupati Ali Mukhni bertemu langsung dengan tokoh, mengunjungi dengan cepat dan sigap setiap bencana, memenuhi undangan kegiatan masyarakat dalam segala ragamnya adalah faktor pengikat dan percepatan recovery masyarakat. 

MODAL MILITANSI 

Kiprah dan sepak terjang Ali Mukhni memimpin Padang Pariaman, menurut yang penulis lihat, dengar, tanya dari orang sekitarnya, laporan media, pengakuan masyarakat, dan stakeholder bahwa kekuatan yang sulit menandingi Ali Mukhni adalah militansinya dalam mendapatkan program, mengawasi kerja di lapangan, mengendalikan kerja aparatur, dan bertemu dengan masyarakat. Ketahanan fisiknya bekerja melebihi jam rata-rata pegawai negeri 8 jam, adalah wujud dari sikap dan tekad yang militan. Tokoh masyarakat Sikabu menyampaikan benar-benar sulit mengikuti cara bekerja Bupati Ali Mukhni, mana mungkin Bupati mengontrol proyek Mean Stadion Sumatera Barat yang terletak di Nagari Sikabu Lubuk Alung berkali-kali, bahkan pukul 22.00 malam berani naik ke stadion ketinggian 100 meter untuk menceknya. 

Modal militansi yang melekat dalam diri Ali Mukhni begitu efektif dalam tugas-tugas melobby, menyakinkan penentu kebijakan, mengawasi pekerjaan dan terus mensosialisasikan apa manfaatnya, untung rugi proyek yang diperjuangkan selalu disampaikan kepada tokoh masyarakat, tamu dan siapa saja yang diyakini dapat mendorong percepatannya. Sebutan militansi yang dimaksud disini adalah keseriusan, kesungguh-sungguhan, tidak pernah cepat menyerah, ulet dan penuh keyakinan diri, karakter seperti itu kuat dan melekat pada kepribadian Bupati dua priode ini. 

Dalam ungkapan kearifan bahwa orang Minangkabau itu haus ilmu pengetahuan dan lapar kemajuan, dapat ditemukan dari pola pikir, militansi perjuangan dan kerja keras almarhum Ali Mukhni yang penulis kenal langsung atau melalui media. 

Plus minus dari sikap, perilaku dan style kepemimpinan militansi yang dipraktekkan Ali Mukhni, adalah modal besar yang faktanya membawa perubahan yang signifikan bagi pembangunan Kabupaten Padang Pariaman. Seorang peneliti menyampaikan dalam satu kali menelusuri daerah di Padang Pariaman, beruntung masyarakat ketika pemimpin daerahnya dapat bekerja sungguh, lihat saja jalan aspal hitam sampai ke pelosok nagari, dan capaian pembangunan berjangka panjang, seperti Pendidikan. 

LEGACY PENDIDIKAN 

Sebagai Bupati dengan basis pendidikan dan tugas awal guru, maka Ali Mukhni telah memberikan perhatian lebih pada dunia pendidikan. Tinggalan dalam pendidikan sangat nyata dan memberi manfaat luas pada masyarakat dan bangsa. 

Secara lugas, tegas dan jelas penulis sampaikan apresiasi kepemimpinan Ali Mukhni, telah bekerja melebihi dari prestasi dan reputasi, dapat dikatakan sudah menjadi legacy. Legacy adalah capaian kinerja yang monumental dan kelak akan dikenang lama oleh generasi mendatang. 

Hemat penulis talenta ulet, tabah dan jarang bosan dalam meloby dan mengurus soal pendidikan ditunjukkan Ali Mukhni dalam merebut lokasi Madrasah Insan Cendikia di Kabupaten Padang Pariaman, kini sudah menjadi legacy yang patut disyukuri semua pihak. Penulis sejak awal banyak mengikuti perkembangan, loby dan kinerja Ali Mukhni ketika masih menjadi Wakil Bupati atas arahan Bupati Muslim Kasim (alm), lebih lagi ketika ia sudah menjadi Bupati sejak periode awal dan baru dapat berdiri pada periode kedua kepemimpinannya.

Berkali-kali bertemu dengan pejabat utama di Kementerian Agama RI, beberapa kali pula dibantu fasilitasi oleh putra Padang Pariaman Prof. Dr. Armai Arief, MA, berdialog meyakinkan Mentri Agama, Sekjen, Dirjen Pendidikan Islam berbuah manis untuk masyarakat Padang Pariaman.

Hemat penulis kegigihan Bupati Ali Mukhni mengurus penempatan dua pendidikan kejuruan Sekolah Pelayaran dan Sekolah unggul Islam, MAN Insan Cendikia di Padang Pariaman adalah dimotivasi mentalitas pendidik yang kuat disamping juga visi pendidikan mobilitas sosial untuk kesejahteraan lebih baik.

Legacy pendidikan yang berjangka panjang adalah pembangunan kawasan terpadu Tarok City. Jalan berliku, debat di DPRD, di lapau, opini di media online, komentar di media mainstrem, dukungan, dan kritik terhadap keberadaan Pembangunan Kawasan Terpadu Pendidikan Tinggi dan Pusat Pelatihan adalah kerja yang menjadi legacy bernilai tinggi bagi peradaban dan kemajuan Sumatra Barat. Siapapun Bupati terpilih dalam Pilkada 2020 Desember mendatang diminta untuk melanjutkan Tarok City sebagai kawah candra dimuka SDM Sumatera Barat. 

Setelah beliau mengakhiri pengabdiannya sebagai Bupati, hampir semua tokoh pendidikan di Sumatera Barat menanyakan bagaimana masa depan Tarok City yang digadang-gadang sebagai pusat pendidikan dan pelatihan di kawasan Sumatera. Entahlah, masyarakat dan tak terkecuali cendikiawan peduli pendidikan tidak bisa berbuat banyak, kecuali takdir yang akan ditunggu. 

Keseriusan dan perhatian di masa kepemimpinan Ali Mukhni untuk mendirikan Masjid Agung Syekh Burhanuddin di Ulakan dan Masjid di IKK Parit Malintang adalah legacy yang tak dapat tidak, jelas dicatat sejarah. Kinerja Bupati tentang kemasjidan yang ditunaikan dalam masa kepemimpinan 10 tahun, mendapat penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat, yang diserahkan pada Bupati Ali Mukhni tanggal 13 Januari 2020 lalu. 

Legacy 10 tahun kepemimpinan Ali Mukhni yang dirasakan besar sekali manfaatnya adalah Pembangunan Mean Stadion di Sikabu Lubuk Alung. Stadion olah raga berskala nasional yang representatif di atas ketinggian, lalu dilengkapi pula dengan akses jalan lingkar Duku Sicincin, jalan Kabupaten yang memudahkan akses ke semua arah adalah kerja bernilai tinggi bagi masyarakat dan percepatan kemajuan daerah. 

Kedua kerja bernilai strategis dan membawa manfaat luar biasa bagi masyarakat Sumatera Barat, juga mengalami nasib yang sama dengan Tarok City. Stadion Sumatera Barat yang sudah dipakai untuk Pembukaan MTQ Nasional, kini tak ada gerak hidup, anggaran penyempurnaan sudah 2 tahun off, bahkan sudah tak terawat lagi. 

Jalan lintas Pasar Usang - Sicincin untuk mengatasi kemacetan di Lubuk Alung dan juga melewati IKK Kabupaten di Parit Malintang, nasibnya juga tengah menunggu hidup atau mati, selesai atau jadi bangkai pembangunan jadi sejarah gelap pemimpin di belakangnya. 

KRITIK KONSTRUKTIF

Kritik konstruktif adalah energi bagi kepemimpinan. Mendengar suara di lapau dan dibincang informal, hampir dapat dipastikan bahwa kritik itu tak pernah habis di Piaman. Kepemimpinan dengan sistim pemilihan langsung, sadar atau tidak telah menyandera dan atau membuat pemegang otoritas sulit sepenuhnya dapat menjalankan tugas. Beban moral, hutang budi, rasa tidak enak, persepsi yang terbangun, atau dibangun adalah hambatan psikologis bagi pemimpin untuk sukses dalam menjalankan amanah.

Birokrasi sarat kepentingan dan distribusi kewenangan Kabupaten, Provinsi dan Pusat, ditambah pula dengan APBD, APBN dan segala jenis pembiayaan proyek adalah sasaran kritik yang tentu memerlukan kepiawaian pimpinan menjelaskannya kepada masyarakat dan mempertanggungjawabkan kepada BPK. 

Kritik yang tidak kalah pentingnya adalah dari masyarakat yang umumnya semua minta dikunjungi Bupati, pasti tidak semuanya dapat dipenuhi. Walau sudah diwakili oleh pejabat eselon dua atau tiga, kepuasan masyarakat belum tentu terpenuhi, ini juga menjadi pemicu kritik pada Bupati. 

Sebagai bahagian akhir ingin ditegaskan bahwa tulisan ini adalah pandangan subyektif penulis, catatan yang melekat di memory penulis berinterkasi langsung atau membaca laporan kinerja Pemerinta Daerah. Namun perlu dicatat bahwa fakta-fakta dari pembangunan, wujud nyata dari kinerja 10 tahun kepemimpinan Ali Mukhni, legacy pendidikan, agama, Stadion berskala Nasional, sarana jalan, fasilitas umum, relasi sosial yang harmonis dengan masyarakat dan buah kepemimpinan yang dirasakan masyarakat adalah realita yang tak mungkin dipungkiri. Ungkapan ini terasa tepat, 

Ba suluah matohari ba galanggang mato rang banyak. Putih kapeh dapek di liek, putih hati ba keadaan. 

Tidak cukup kata-kata dan kalimat yang bisa disusun untuk menyatakan legacy almarhum Ali Mukhni, walau harus diakui kelemahan dan kekurangan tentu ada, yang tentu harus di maafkan. 

Sebagai anak nagari Padang Pariaman, penulis harus berani menyatakan bahwa jejak hidup dan kerja pengabdian almarhum Ali Mukhni adalah satu di antara tonggak kemajuan (mailstone) Kabupaten Padang Pariaman maju dan berjaya. Doa masyarakat untuk tempat terbaik, sorga jannatun naim, bagi almarhum adalah keharusan yang terus dipanjatkan kepada sang pemilik hidup, Allah subhanahuwata'ala.

*Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies