Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tuanku Dalam Gugatan? Oleh : Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Prof Duski Samad Tuanku Mudo 

Tema tulisan Tuanku Dalam Gugatan? yang menjadi core dari judul tulisan ini adalah meresponi dinamika pemikiran pro, kontra, berkenaan pengajian Tuanku saling memberi argumen yang mengemuka di media sosial, group whashaap, facebook, youtube dan media lainnya. 

Kritik, tudingan, tuduhan dan pandangan sesat, musyrik dan tidak ada nashnya dalam Islam beredar kuat disampaikan dalam pengajian, sengaja dibuatkan youtubenya, misalnya bid’ahnya Maulid Nabi, kemusyrikan pada praktik ziarah basapa ke makam Syekh Burhanuddin, haramnya bertawasul dengan ulama, termasuk mengunakan photo Ungku Salih untuk pelaris usaha, dan beberapa praktik keagamaan yang ada relevansinya dengan tugas fungsi dan esensi keberadaan Tuanku. 

Kritik praktik keberagamaan dari ulama, yang mengunakan laqab Salafi Wahabi, seperti penguna nama pena Tuanku Segeh, dan nama langsung Zulkifli Zakaria, termasuk ceramah Buya Viral Ristawardi Datuk Marajo yang dengan bahasa jelas, lugas dan cendrung provokatif mengkritisi praktik keagamaan masyarakat yang mentradisi dilingkungan jamaah yang pimpinannya adalah Tuanku. Realitas ini tentu seharusnya segera diberikan penjelasan oleh Tuanku, agar jangan menimbulkan kegaduhan sosial. 

Kelompok umat yang tergabung dalam pemahaman Salafi, Wahabi, dan penceramah yang berlatar puritan sebenarnya sudah lama mengritik praktik dengan terma bid’ah, khurafat, takhyul bahkan ada yang menempatkannya sebagai syirik, dengan stigma kultus guru dan taqlid. 

Dinamika pemikiran puritanisme Islam dengan tradisionalisme Islam adalah “lagu lama” yang kembali diputar oleh mereka yang suka mengambil keuntungan dari kehebohan sosial, atau disebabkan kaum tradisional, khususnya umat awamnya terjebak pada kultural (budaya) melebihi dari esensi agama.

MASALAH “LAMA” DENGAN KEMASAN BARU

Masalah-masalah lama yang kembali diberi kemasan baru melalui medsos youtube, dan vidio yang mengemuka dalam kritikan Salafi, Wahabi dan puritan banyak di antaranya: 

Pertama: Praktik ziarah kubur dan basapa ke makam Syekh Burhanuddin. Ziarah kubur yang sampai mengklutuskan kuburan, menyakini siapapun yang berkubur di sina dapat memberikan syafaat, meminta ke kuburan, adalah sama-sama tidak diterima oleh ulama (Tuanku) dan mereka yang berpaham puritan. Sayang sampai saat ini ulama tradisional belum memberikan panduan ziarah kubur, dan sepertinya “seolah-olah” pembiaran terhadap praktik masyarakat disekitar makam Syekh Burhanuddin Ulakan. 

Berkenaan ziarah kubur dan basapa ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan mestinya segera ditertibkan panduan oleh Tuanku, setidaknya ada penjelasan dan bimbingan keagamaan yang jelas tentang hukum, dalil dan adabnya. Bila hukum, dalil dan adabnya diuraikan dan diberi tabligh yang meluas oleh Tuanku, maka akan mudah dijelaskan bahwa masalah itu hanya sebatas adab dan etika berziarah.   

Kedua: Bertawassul kepada ulama, guru, mursyid dan orang saleh, perlu mendapat penegasan dan penjelasan tentang pengertian, makna, dalil-dalil, hukum dan kaifiat yang dibolehkannya bertawasul. Sayang pengkritik sering kali salah paham, baik karena ketidak mengertian konsep tawasul atau ada intrik kelompok. Perdebatan tawasul dalam tarekat naqsabandiyah adalah polemik cerdas abad 19 lalu, antara Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dengan ulama PERTI, yang ujungnya saling memahami dan menjadi wacana cerdas dalam buku karangan ilmiah yang menjadi khazanah keilmuan. 

Ketiga: Dzikir, atau disebut juga ratik dengan membaca kalimah thayyibah la ilaha illa Allah dilaksanakan sedemikian asyiknya sehingga ada yang kesurupan. Ratik tulak bala, ratik akhir Ramadhan, patang mambantai, kini sudah terbatas sekali surau yang melakukannya. Asal muasal, dan hukumya mesti diberikan tabligh oleh Tuanku yang memang sepertinya melegalisasinya. Jika itu dibiarkan akan berpotensi mendapat hujatan dan kritik dari mereka yang tak paham, mana yang adat, mana yang agama?

Keempat: Badikie sarafal anam ala Piaman dengan suara riuh rendah, tak jelas yang dibaca, iramanya yang tidak mengikuti nazam al-Quran, dilakukan saat peringatan Maulid Nabi di Surau ataupun di rumah penduduk. Penjelasan mengapa ada dzikir seperti ini?, apa dalil yang membolehkan, bagaimana kedudukan hukum dan seperti apap adab dzikir yang benar? Itu mesti pula dijelaskan, jika tidak akan terus menjadi sasaran kritik mereka yang tak tahu sejarah dan makna yang terkadung dalamnya. 

Kelima: Mangaji kematian sejak malam pertama, kedua, 3,7,14, 40 dan 100 hari yang Tuanku sebagai aktif bersama urang siak perlu pula diterangkan kembali oleh Tuanku era digital ini, apa dalil yang mengizinkannya, apa hukum dan adabnya menghadapi musibah kematian? 

Keenam: Kultus. Tuduhan kultus terhadap ulama karamah Ungku Salih yang photonya dijadikan ajimat oleh masyarakat di rumah makan dan toko-toko orang Piaman di perantau. Realitas ini mesti pula diberikan penjelasan apa maksud dan bagaimana mestinya. 

Ketujuh: Kesenian salawat dulang juga dikritik sebagai yang tidak baik dan harus dihentikan, Mestinya juga diberikan penjelasan lingkup budaya dan agama. 

Kedelapan: Khutbah bahasa arab, khutbah ayyam, tidak luput dari ciloteh Buya viral ini tidak ada artinya dan perlu dilakukan pembaharuan. 

Banyak lagi masalah yang akan mengemuka, sebab memang dakwah kultural yang dilakukan Syekh Burhanuddin, kemudian diwarisi Tuanku, perlu ada penjelasan bagi generasi milinial dan kaum rasional. 

TABAYYUN DAN TAZKIRAH

Harus diakui, kritik Salafi, Wahabi dan kalangan purintan sebenarnya wujud lain dari gugatan terhadap amalan atau kepemimpinan Tuanku, karena memang praktik keagamaan di atas mendapat dukungan dan legitimasi dari Tuanku. Maka untuk menjawab masalah khilafiyah, budaya dan praktik keagamaan yang tersambung dengan kalangan Tuanku di atas dapat dilakukan dengan mengunakan dua metode seiring sejalan, yaitu klarifikasi (tabayyun) dan pencerahan (tazkirah).

Tabayyun, klarifikasi dan atau meminta penjelasan kepada mereka yang bersuara lantang di media sosial tersebut adalah cara baik untuk menjaga kondusivitas sosial keumatan. Tabayyun sebaiknya dilakukan atas nama lembaga, bukan orang per orang, melakukan dialog atas nama Tuanku, jauh lebih efektif, dibanding person Tuanku dan dapat menghindari kesalahpahaman. Untuk itu perlu ada institusi sebagai LEGAL STANDING atau setidak-tidaknya ada pendapat hukum tentang realitas ini.  

Tazkirah (pencerahan) mesti pula disiapkan. Umat perlu diberikan bimbingan adab berziarah, dan seluruh praktik agama yang sudah menyatu dengan budaya. Mana yang ada dalil atau nashnya, mana pula yang hanya sebatas budaya, yang boleh saja ditinggalkan atau berbeda kaifiatnya. Mendidik umat moderat (wasthatiyah), menjaga kearifan lokal, tanpa harus merusak aqidah dan syariah adalah cara terbaik untuk menjaga kesucian Islam. 

Akhirnya ingin ditegaskan bahwa aktualisasi kepemimpinan Tuanku sebagai suluah bendang satu di antara aspek yang perlu mendapat prioritas di era medsos ini adalah membimbing umat agar lebih cerdas dalam ketaatan, moderat (wasthatiyah) dalam keberagamaan, menghargai kearifan lokal, dengan teguh memegang nilai-nilai dasar Islam (al muhafazhah ‘alal qadimis shaleh, wal akhzul bil jadidil ashlah). Tuanku juga diharapkan terus menempatkan diri dan komunitasnya secara jernih, khususnya dalam menyikapi arus politik praktis. 

Tuanku yang menjadi timses paslon atau dukung mendukung dalam Pemilihan politik elektroral adalah sulit dielakan, namun diminta untuk tidak “terjebak” pada prilaku transaksional, menghindari politik “belah bambu” dan tentu diminta teguh pada jati diri sebagai tokoh umat yang akan tetap bersama umat setelah pemilihan selesai. 

Jejak sejarah Tuanku di pusaran politik elektoral, sebagai “ganja batu” seperti penelitian Sadri Chaniago adalah bahan ajar yang mohon dipertimbangkan dengan matang oleh semua Tuanku, dalam kedudukan kapasitas mana saja, untuk menjaga marwah Tuanku. 

(DS. Materi Seminar Nasional dan Halalbihalal WA Group Silaturhami Tuanku kerjasama dengan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, Sabtu, 20 April 2024)

*Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies