Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Muslim Thailand: Catatan Perjalanan ke Bangkok Oleh: Ridwan Arif, M.Ud., Ph.D., Tuanku Bandaro

Ridwan Arif, PhD, Tuanku Bandaro 

Minggu, 20 Januari 2019

(bagian ke-2)

Sekitar jam 7 pagi sang sahabat sudah sampai di hotel tempat saya menginap. Ia mengulurkan sebuah handphone. “Yang penting kamu bisa menghubungi keluargamu dulu,” ujarnya, yang mengisyaratkan bahwa HP yang dibelikan untuk saya hanyalah HP dengan harga standar namun bisa dihubungkan dengan internet. Lalu ia mengajak sarapan.

Kami makan nasi sejenis nasi uduk di Jakarta atau nasi lemak di Malaysia. Alhamdulillah selera saya mudah beradaptasi. Setelah sarapan saya diantar ke sebuah kamar di apartemen milik sang sahabat. 

Apartemen ini berada di kawasan Ramkhamhaeng University. Setelah meletakkan pakaian di kamar, sang sahabat mengajak saya ke masjid yang berada di seberang sungai rumah orang tua sang sahabat, juga tidak jauh dari apartemen. Untuk sementara sang sahabat meninggalkan saya di masjid karena ada urusan.  

Ketika di masjid, saya merenung sendirian. Saya merasa bersyukur. Betapa tidak, dulu saya tidak pernah membayangkan akan berada di kota Bangkok ini. namun, jika Allah menghendaki, ada saja jalannya. Ketika mendaftar masuk program S3 di International Islamic University Malaysia (IIUM) semua calon mahasiswa mesti mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris. Maklum, sebagai universitas internasioanal, tentu bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, selain bahasa Arab pada beberapa mata kuliah ilmu-ilmu keislaman. 

Selain calon mahasiswa fakultas hukum, nilai hasil tes yang dinyatakan lulus adalah 550 (band 6). Jika tidak memenuhi nilai ini, maka calon mahasiswa harus masuk ke kelas bahasa Inggris yang disediakan oleh pihak universitas. Yang bertanggungjawab menyelenggarakan program ini ialah Center for Languages and Pre-University Academic Development (CELPAD). Penentuan level kelas calon mahasiswa berdasarkan nilai hasil tes. Jika hasil tes band 1 misalnya, maka ia ditempatkan di level 2, begitu seterusnya. 

Alhamdulillah, nilai hasil tes saya band 4. Karena itu saya ditempatkan pada level 5. Maka mulailah saya mengikuti kuliah bahasa Inggris sebagai program pra-universitas, dari senin sampai Jum’at. Sebelum lulus kelas bahasa Inggris maka tidak dibenarkan mengambil mata kuliah yang lain.        

Kelas bahasa Inggris telah mempertemukan saya dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia. Selain Indonesia dan Malaysia ada yang dari Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Arab Saudi, Palestina dan lain-lai. Di antara mereka ada yang mengambil program S1, S2 dan S3.  

Di kelas bahasa Inggris inilah saya kenal dengan sahabat asal Bangkok ini. Nama Thailand-nya adalah Rungsan Puthong, sedangkan nama Islamnya adalah Muhammad Nuruddin. Di kelas kami memanggilnya Mister Rungsan. Walaupun ia warga kota Bangkok, namun ia bukan mualaf. Ini karena nenek moyangnya berasal dari Pathani, Thailand Selatan. 

Menurut sejarah, pada masa dahulu ketika kerajaan Siam (Thailand) menaklukkan Kesultanan Pathani, ia membawa orang-orang Pathani ke Bangkok sebagai tawanan perang. Inilah asal usul masyarakat Islam di kota Bangkok. 

Menurut seorang penulis Thailand asal Pathani, Isma Ae Muhammad, secara umum Muslim di Thailand dapat dibagi kepada tiga kelompok. 1) Muslim Thai tanpa memandang asal usul etnis, yang mendiami Bangkok dan kawasan sekitarnya sehingga ke utara Chiang Mai dan Timur Laut atau juga sempadan Kemboja; 2) Muslim selatan atas termasuk Satun Krabi, Phuket dan sekitarnya yang asal keturunan Melayu sudah diintegrasi menjadi Thai sepenuhnya; 3) Melayu Patani yang mendiami wilayah perbatasan selatan. Poin ke-3 yaitu Muslim Pathani, secara etnis adalah Melayu, karena itu secara kultural mereka lebih dekat dengan orang Malaysia dan Indonesia. Di samping bahasa Melayu sebagai bahasa asal, mereka juga bisa berbahasa Thailand.

Lebih lanjut menurut Isma, ketiga-tiga kelompok ini berbeza dari segi pengalaman sejarah yang membentuk sentimen tersendiri. Poin 1 dan 2 semakin larut dan menyatu dalam masyarakat Thai. Sedangkan golongan ke-3, belum larut sepenuhnya dalam masyarakat Thai sebahagian besarnya, termasuk dirinya sendiri.

Golongan 1 yang terdiri dari tawanan perang Pathani, orang Cham yang pernah menjadi tentara bantuan kepada kerajaan Siam, India Muslim yang datang bersama Inggeris (British), keturunan Farsi (Persia) sejak Ayuthaya, dan di utara Cina Muslim yang lari dari revolusi di China. Mereka semua menerima hakikat menjadi warga Thai sepenuhnya.

Golongan ke 2, sebahagian besar adalah orang Melayu yang menjadi ujung negara Kedah (Malaysia) dan ada juga sisa keturunan kerajaan Ligor. Oleh kerana mereka ujung Kedah, mereka pasrah sejak 1940-an lagi ketika beberapa sekolah agama mulai diajar dalam bahasa Thai atau sepenuhnya pada tahun 1970-an. Antara faktor kehilangan bahasa Melayu sebelah sana, sekolah agama menggunakan bahasa Thai sebagai pengantar menggantikan bahasa Melayu. Manakala golongan ke-3, orang Pathani seperti yang ada sekarang. Sentimen dan pengalaman sejarah mereka berbeda dengan dua golongan di atas. 

Di kelas bahasa Inggris, walaupun berasal dari Negara yang berlainan, hubungan kami sesama peserta kelas cukup akrab. Di antara peserta kelas, Mr Rungsan adalah mahasiswa yang paling senior dari segi umur, yaitu 40-an. Sedangkan saya baru 32 tahun. Yang paling muda 18 atau 19 tahun, calon mahasiswa program S1. Setelah Mr Rungsan pulang ke Bangkok, sekali-sekala kami masih berkomunikasi melalui aplikasi line atau fb messenger. Dalam komunikasi tersebut, ia sering mengajak saya untuk mengunjungi Bangkok. Saya jawab insyaallah. Alhamdulillah niat itu akhirnya terwujud jua ketika ini. benar apa yang dinyatakan pepatah minang:

Ka tiku pai mamain

Linggundi ambiak ka ditanak

Sungguh suku balain-lain

Dek budi bisa bagai dunsanak 

Walaupun beda kewarganegaraan, namun karena budi bisa terjalin hubungan akrab seperti kerabat.

Di kawasan Ramkhamhaeng University saya tidak merasa berada di Kota Bangkok. ini karena di kawasan inilah banyak warga Muslim bermukim, baik keturunan Pathani seperti Mr Rungsan maupun warga Pathani yang baru merantau ke Bangkok. Di trotoar kita menyaksikan banyaknya Melayu-Pathani yang berjual makanan. Karena itu mencari makanan halal di kawasan ini bukanlah sutau masalah. (Bersambung)    

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies