Type Here to Get Search Results !

Merdeka Harga Mati, Sumatera Barat Membaur dan Kompak

Oleh: Duski Samad

Pesan Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi pada acara Jalan Sehat Kerukunan (16 Agustus 2025) yang dihadiri Kanwil Kemenag, FKUB, Forkopimda, dan pimpinan ormas keagamaan menegaskan kembali bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang rukun, membaur, dan kompak. Kesadaran ini tidak sekadar jargon, melainkan realitas historis, sosial, dan empiris yang terbukti sejak masa kolonial hingga kini.

Landasan Historis

Sumatera Barat memiliki tradisi keterbukaan sosial dan kultural. Nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) menjadi dasar integrasi agama dan adat, yang secara historis menciptakan ruang akomodasi bagi keanekaragaman.

Diaspora Minangkabau: Perantau Minang telah membaur di seluruh Nusantara dengan identitas rumah makan Padang yang diterima semua etnis dan agama (Yulizar, 2020).

Pahlawan Nasional: Tokoh-tokoh Sumatera Barat seperti Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, dan Rasuna Said diterima luas oleh bangsa Indonesia, mencerminkan keterbukaan dan peran Minangkabau dalam integrasi nasional.

Fakta Empiris dan Sosial

1. Kampung Multietnis.

Hampir semua kota di Sumatera Barat memiliki kampung etnis seperti Kampung Jawa, Kampung Nias, Kampung Keling, hingga Kampung Cina. Penamaan tersebut menunjukkan adanya pengakuan sosial dan penerimaan masyarakat lokal terhadap kehadiran komunitas pendatang (Abdullah, 2015).

2. Rumah Ibadah Non-Muslim.

Data Kemenag Sumatera Barat menunjukkan rumah ibadah non-Muslim sudah berdiri sejak lebih dari satu abad dan tetap aman hingga kini. Kondisi ini menunjukkan resiliensi sosial dan kerukunan lintas iman yang relatif stabil (Kemenag Sumbar, 2023).

3. Bahasa Minangkabau sebagai Lingua Franca.

Bahasa Minang digunakan tidak hanya antar sesama etnis Minang, tetapi juga antar etnis, agama, bahkan pendatang dari luar negeri. Hal ini memperlihatkan bahasa sebagai instrumen integrasi sosial (Navis, 1986).

4. Ekonomi dan Sosial Budaya.

Kehadiran pedagang kaki lima, pengusaha kuliner, dan UMKM pendatang diterima baik oleh masyarakat. Fakta ini membuktikan ekonomi menjadi media perekat sosial, bukan pemicu konflik (Pranoto, 2019).

Kasus Kontemporer

Beberapa konflik yang muncul akhir-akhir ini lebih bersifat insidental dan seringkali dipicu oleh kesalahpahaman segelintir orang, lalu diperbesar oleh komentar warganet (netizen).

Fenomena ini sejalan dengan temuan riset Setara Institute (2022) bahwa banyak konflik berbasis agama atau etnis lebih dominan dipicu oleh provokasi media sosial ketimbang persoalan substansial.

Analisis Akademik

Melalui perspektif sosiologi integrasi (Parsons, 1967) dan teori modal sosial (Putnam, 2000), kerukunan di Sumatera Barat dapat dipahami sebagai hasil dari:

Norma sosial ABS-SBK yang melembaga.

Jaringan sosial yang inklusif antara Minang dan pendatang.

Trust (kepercayaan) yang terbangun dalam aktivitas ekonomi, budaya, dan interaksi sehari-hari.

Kesimpulan

Jejak sejarah, pengalaman sosial, dan fakta empiris membuktikan bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang membaur dan kompak.

Nilai ABS-SBK menjadi fondasi penerimaan terhadap keragaman.

Kehadiran kampung etnis, rumah ibadah non-Muslim, dan penerimaan ekonomi pendatang memperkuat fakta kerukunan.

Konflik yang muncul bersifat minor, lebih karena salah paham dan provokasi media sosial.

Dengan demikian, pesan “Merdeka Harga Mati, Sumatera Barat Membaur dan Kompak” bukan hanya retorika, tetapi refleksi dari realitas sosial yang perlu terus dipelihara sebagai modal harmoni bangsa.

Referensi 

Abdullah, T. (2015). Sejarah Sosial Sumatera Barat. Jakarta: LP3ES.

Kemenag Sumatera Barat. (2023). Data Rumah Ibadah di Sumatera Barat. Padang: Kanwil Kemenag Sumbar.

Navis, A. A. (1986). Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: PT Gramedia.

Putnam, R. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.

Setara Institute. (2022). Laporan Indeks Toleransi Indonesia. Jakarta: Setara Institute.

Yulizar. (2020). Diaspora Minangkabau dan Identitas Kuliner. Padang: Andalas University Press.

*Ketua FKUB Sumatera Barat

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.