Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kisah Dalimi Abdullah 8

Dalimi Abdullah.

Sigi24.com---Sekolah di PGAAN enam tahun sangat sulit. Orang yang masuk sekolah itu adalah pilihan, anak cerdas dan anak pintar tentunya. Buktinya, dari sekian banyak yang ikut ujian akhir PGAP di Pasaman, hanya dua orang yang beruntung, dan boleh melanjutkan ke PGAAN Padang itu. 

Satu dari dua orang, Dalimi Abdullah. Anak pintar, dan selalu juara umum di kelas, sejak dari sekolah SR di Balai Belo, Maninjau sampai ke sekolah PGAP di Salibawan. Sebuah peruntungan baik, pertanda masa depan yang cerah tentunya. 

Kakak dan kakak ipar Dalimi Abdullah sangat senang melihat prestasi yang dicapainya dalam sekolah. Termasuk prestasi akhir, yang akan mengantarkannya masuk sekolah PGAAN Padang. 

M. Dinar mewanti-wanti Dalimi Abdullah menjelang berangkat ke Padang. Ya, wanti-wanti sebagai peringatan dan pesan kebaikan, karena akan berpisah tinggal setelah Dalimi Abdullah sekolah di Padang. 

PGAAN Padang adalah sekolah orang pilihan. Di sana sekolah sistim gugur. Tak boleh mengulang bagi yang tak naik kelas. Yang tidak naik kelas langsung gugur, dan harus pulang kampung atau pindah ke sekolah lain. 

Di tambah Padang, kota yang terbilang maju tahun 1964, Dalimi Abdullah akan memulai sekolah di sana. Maju bilang dibandingkan dengan daerah dan kota lainnya di Sumatera Barat. Bagi anak yang tak siap mental masuk kota itu, siap-siap saja untuk ikut arus, dan hanyut bersama kemajuan kota yang terus semakin maju dan berkembang. 

Betapa banyak anak-anak kampung yang sekolah di PGAAN Padang itu dengan modal yang serba terbatas. Artinya, keinginan para orangtua untuk menyekolahkan anak di situ cukup tinggi, sesuai kapasitas sekolah itu tentunya. 

M. Dinar menggambarkan ke Dalimi Abdullah, banyaknya orang gagal di situ, sementara orangtuanya sudah susah payah membiayai. 

Kadang dengan meminjam beras, salang tenggang dengan tetangga, demi anak bisa sekolah di situ. Namun, sang anak gagal. Gagal, karena terbawa arus oleh perubahan sosial dari kampung ke kota yang sangat tinggi. 

Contoh, ceritanya sekolah di Padang. Saat pulang kampung ketika libur, gayanya minta ampun. Maklum, sudah tinggal sekian tahun di Padang, tiba pulang kampung gaya berubah. Tetapi di bangku pendidikan gagal. 

Familiar di kampung kala itu istilah "rancak di labuan". Ini yang oleh M. Dinar sangat diwanti-wanti ke Dalimi Abdullah menjelang berangkat ke Padang. 

Sempat gagal, ya siap-siaplah untuk mengayunkan cangkul di kampung. Garaplah sawah dan ladang peninggalan orangtua. Paling sesekali disuruh jadi khatib, tanda pernah sekolah agama. 

Dalimi Abdullah jangan sampai begitu. Harus rajin dan pintar di sekolah. Prestasi sejak sekolah dulu harus terus ditingkatkan. Berhemat, dan jangan larut dalam kemajuan Kota Padang. 

Wujudkan cita-cita orangtua, raih masa depan dengan prestasi. Artinya, jangan gagal sekolah di PGAAN itu. Kalau gagal, akan sengsara akibatnya. 

Pondasi agama yang cukup kuat di usia muda itu, membuat Dalimi Abdullah tak lupa akan kewajibannya. Kewajiban seorang muslim yang tahu akan perintah dan larangan dalam agama. 

Rajin ibadah, gemar membaca Quran, dan tentunya tak lupa berdoa untuk setiap memulai langkah baru dalam tingkatan pendidikannya. Berdoa juga diiringi dengan kesungguhan. 

Dia tidak ingin lalai dan lengah dalam belajar. Uang sekolah yang ditanggung oleh M. Dinar, kakak iparnya, tidak disalahgunakannya. Dia jawab dengan prestasi dan prestasi selama di PGAP Salibawan. 

Sampai lulus, dan berhasil dengan sangat baik masuk PGAAN Padang. Dalimi Abdullah sudah tahu, bahwa belajar di Padang nantinya lebih berat lagi ketimbang di Salibawan. 

Dalimi Abdullah tidak ingin, uwai, adik, kakak, dan kakak iparnya kecewa. Kesungguhannya dalam belajar harus ditingkatkan, supaya tidak gagal di PGAAN Padang itu.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies