![]() |
Tanggapan atas Tulisan Reiner Emyot Ointoe
Rabu, 8 April 2026, saya pertama kali membaca tulisan Reiner Ointoe yang berjudul “Membaca Fakta-Fiksi Paus Perempuan” di beranda facebook. Judulnya kontroversi. Dan biasanya kontroversi itu menarik bagi pembaca. Awalnya, saya membaca sekali saja. Selesai.
Bagi saya yang memiliki pengetahuan kendati sedikit soal Pope Joan, tulisan itu membuka cakrawala berpikir saya. Minimal saya mendapatkan tambahan wawasan dan sudut pandang yang lain. Termasuk informasi baru yang lebih kontemporer.
Namun saya kemudian terpanggil untuk menuliskan secuil pemikiran tentang tema itu. Bukan semata karena tulisan ReO-sapaan akrab Reiner, tapi karena ada tanggapan balik dari “teman” saya yang kemudian diposting juga di kolom komentar.
Sekadar intermezzo, saya dan ReO tidak hanya berteman di dunia maya tepatnya di platform facebook. Di dunia nyata, ReO adalah senior saya di dunia jurnalistik. Dalam beberapa kesempatan, kami pernah dalam “perahu” yang sama. Makanya, kami sering bersua dan akrab.
Kembali ke tulisan ReO-yang sering saya sapa Mner. Saya menilai, dalam tulisan tersebut penulis justru berusaha mengambil jarak dengan kebenaran soal Pope Joan. Penulis tidak pada posisi menilai tapi memilih dengan bertanya: fiksi atau fakta?
Menjawab itu, penulis menyitir kata-kata dari Gary Mc Avoy (1946-2025) dalam novelnya The Confessions of Pope Joan (2025). Termasuk melansir karya Rosemary dan Pardoe tentang Misteri Paus Joan (2007). Dalam tulisan itu jelas disebutkan bahwa buku-buku itu bergenre fiksi, rekaan atau novel. Novel itu memadukan fiksi sejarah dengan intrik kontemporer. Kendati mengandung unsur sejarah tapi bukan karya ilmiah, esai atau biografi yang berdasarkan fakta dan data. Novel-novel itu mirip Angels & Demons karya Dan Brown, Michelangelo's Secret dan film Conclave.
Fakta Sejarah?
Benar bahwa cerita tentang Pope Joan pernah hadir dalam sejarah. Tapi tidak berarti bahwa Pope Joan pernah ada. Dari berbagai literatur disebutkan, cerita tentang Pope Joan muncul di abad pertengahan atau abad ke-13. Cerita atau lebih tepatnya gosip, muncul di kalangan biarawan Dominikan. Stephen of Bourbon dan Jean de Mailly yang menulis cerita ini sebagai bagian dari buku kumpulan ilustrasi kotbah. Buku itu bukanlah laporan jurnalistik atau buku sejarah tapi lebih bersifat dongeng moralitas. Tujuannya satir, agar para imam tidak banci atau lemah.
Pasca reformasi, cerita ini dipungut oleh para polemikus untuk menyerang Vatikan. Cerita atau legenda itu kemudian didramatisir dan menjadi bahan propaganda. Bahkan hingga saat ini, tak jarang cerita itu diangkat ke permukaan untuk mendiskreditkan Kepausan.
Padahal dalam literatur akademik, para sejarawan sepakat bahwa cerita itu bukan fakta sejarah tapi legenda, dongeng, urban legend. “Cerita ini tersebar luas, tetapi bersumber dari penulis yang tidak jelas otoritasnya,” kata sejarawan Bartholomeo Platina (1479). Ia skeptis dan sama sekali tidak percaya dengan cerita itu. Sejarawan-sejarawan yang lebih modern dan non Katolik juga berpendapat serupa.
Penghapusan Sejarah?
Dari saduran yang saya peroleh dari beberapa sumber, Gereja Katolik mengambil posisi terbuka dengan sejarah. Termasuk sejarah kelam yang pernah terjadi. Ada satu dua oknum Paus yang korup, ada yang bermoral bejad. Tapi ada puluhan Paus yang kudus hidupnya.
Gereja berani untuk mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang terjadi dalam sejarah. Gereja adalah rumah orang-orang berdosa yang mencari keselamatan. Sepanjang gereja sedang berziarah di dunia ini dan di huni oleh manusia fana, sepanjang itu pula terus gereja terus membaharui diri menuju kesempurnaan.
Dalam konteks ini, gereja menolak mengakui Paus Joan, bukan karena aib atau malu, tapi karena dia tokoh fiksi. Kepausan juga tidak pernah berniat menghapus cerita Paus Joan dalam sejarah atau menulis kembali sesuai versi yang diinginkan. Jika memang ada itikad untuk itu, Kepausan sejak awal bisa saja menghilangkan cerita itu dalam sejarah. Apalagi yang menemukan cerita dan menelaah secara ilmiah cerita itu adalah biarawan Katolik. Tapi itu tidak dilakukan, karena gereja berupaya untuk berdiri di atas fakta sejarah yang valid dan teruji. Bukan di atas dongeng fantasi yang dipaksakan menjadi kenyataan.
Penutup
Paus Joan bukanlah kebenaran yang disembunyikan. Atau sejarah yang ditulis untuk berpihak pada Kepausan. Paus Joan adalah legenda, mitos, dongeng, tak lebih. Bukan karena keinginan penguasa, tapi karena tidak ada data otentik, tak punya bukti material yang mengafirmasi sosok itu pernah ada. Kronologi sejarah Kepausan yang tertata rapi, hampir mustahil menyisipkan Paus Joan.
Biarlah cerita Paus Joan tetap menjadi gosip dalam imajinasi liar. Bahwa cerita itu pernah ada, kendati sosok tidak tidak pernah ada. Atau seperti kata ReO, “Malah lebih bisa mengukuhkan cakrawala spiritualitas”. Akhirnya, terima kasih atas diskursusnya Mner. (Oleh: Lexi Mantiri)

