![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“L’Islam habite notre avenir.” — Roger Garaudy(1913-2012), Promesses de l’Islam(1981).
Iran pasca gencatan senjata dengan Amerika Serikat sejak 8 April 2026 berada dalam kondisi yang penuh ambivalensi.
Di satu sisi, jeda ini membuka ruang diplomasi, tetapi di sisi lain Teheran menegaskan bahwa perang belum berakhir.
Tuntutan Q0 yang terdiri dari sepuluh poin menjadi syarat utama bagi Iran untuk melanjutkan proses perdamaian.
Pencabutan sanksi ekonomi, pengakuan atas kontrol Iran di Selat Hormuz, penghentian serangan militer AS dan Israel, serta jaminan non-intervensi politik adalah inti dari tuntutan tersebut.
CNN Indonesia melaporkan bahwa Iran menilai penerimaan tuntutan ini sebagai “kekalahan bersejarah dan telak bagi Washington,” sebuah klaim yang memperkuat legitimasi internal Teheran sekaligus menekan posisi Amerika di kawasan.
Namun, analisis kritis menunjukkan bahwa gencatan senjata ini lebih tepat dibaca sebagai jeda strategis. Iran memanfaatkannya untuk mengonsolidasikan posisi domestik dan memperkuat klaim kemenangan di mata publik.
Prediksi realistisnya, dua pekan ke depan akan menjadi ujian apakah jeda ini bisa berkembang menjadi perdamaian permanen atau sekadar intermezzo sebelum konflik kembali meletus.
Jika sanksi tidak benar-benar dicabut atau kontrol Iran atas Selat Hormuz diperdebatkan kembali, eskalasi bisa muncul kembali.
Amerika Serikat kemungkinan akan berusaha menekan agar tuntutan tersebut dilonggarkan, sementara Iran akan terus menggunakan retorika kemenangan untuk menjaga legitimasi internal.
Kondisi ini, sedikit banyak dapat dibaca melalui lensa pemikiran Roger Garaudy.
Roger Garaudy lahir pada 17 Juli 1913 di Marseille, Prancis, dan wafat pada 13 Juni 2012 di Chennevières-sur-Marne.
Ia dikenal sebagai filsuf, politisi, dan intelektual yang semula aktif dalam tradisi Marxisme, bahkan sempat menjadi anggota Partai Komunis Prancis.
Perjalanan intelektualnya ditandai oleh keterlibatan dalam politik, kritik terhadap kapitalisme maupun komunisme, serta pencarian spiritual yang akhirnya membawanya memeluk Islam pada 1982.
Sebagai penulis produktif, Garaudy menghasilkan banyak karya yang mengulas filsafat, agama, dan peradaban, di antaranya Promesses de l’Islam(1981) yang menyoroti janji peradaban Islam bagi dunia, serta Biographie du XXe siècle: le testament philosophique(1985) yang menjadi refleksi atas abad ke-20 sekaligus testamen filosofisnya.
Dari kedua karya ini , ia menekankan pentingnya dialog antarbudaya, peran agama sebagai sumber nilai universal, dan filsafat sebagai alat kritis untuk menyingkap kegagalan modernitas.
Biografi singkatnya memperlihatkan seorang pemikir yang berani menempuh jalan panjang dari Marxisme menuju Islam, dengan keyakinan bahwa masa depan umat manusia hanya dapat dibangun melalui keterbukaan, solidaritas, dan penghargaan terhadap pluralitas peradaban.
Garaudy dikenang sebagai sosok yang menjembatani dunia Barat dan Islam, serta sebagai intelektual yang menempatkan filsafat dan agama sebagai fondasi bagi peradaban yang lebih manusiawi.
Untuk sedikit lebih kritis, Muhsin Al-Mayli, yang lahir pada 1940-an dan masih aktif sebagai akademisi serta penulis hingga dekade 1990-an, menggunakan kisah Garaudy untuk menegaskan relevansi Islam dalam percaturan global.
Dalam Pergulatan Mencari Islam: Perjalanan Religius Roger Garaudy(Paramadina 1996), ia menyoroti hakikat filsafat dan peradaban Islam melalui pengalaman Garaudy.
Diulas bahwa pencarian Garaudy dari Marxisme menuju Islam bukan sekadar perpindahan agama, melainkan pergulatan filosofis yang menemukan Islam sebagai jawaban atas krisis modernitas.
Ia menekankan bahwa pengalaman Garaudy menunjukkan bagaimana filsafat dan agama dapat saling melengkapi dalam membangun peradaban dan negara.
Al-Mayli mengutip pandangan Garaudy bahwa “agama tidak boleh dipandang sekadar dogma, melainkan sebagai sumber nilai universal yang dapat menuntun manusia keluar dari krisis modern.”
Dengan kata lain, Islam, dalam pandangan ini, bukan hanya sistem kepercayaan, melainkan janji peradaban yang mampu menghadirkan keadilan sosial, solidaritas, dan keterbukaan.
Merujuk pada Biographie du XXe siècle: le testament philosophique(1985), ia menilai bahwa modernitas Barat dengan fondasi rasionalisme dan materialisme telah gagal menjawab kebutuhan terdalam manusia akan makna dan keadilan.
Ia menekankan bahwa “agama tidak boleh dipandang sekadar dogma, melainkan sebagai sumber nilai universal yang dapat menuntun manusia keluar dari krisis modern.”
Pandangan ini relevan dengan situasi Iran, yang menempatkan agama dan peradaban Islam sebagai fondasi legitimasi politik sekaligus alternatif terhadap hegemoni Barat.
Sementara itu, dalam Promesses de l’Islam (1981), Garaudy menegaskan bahwa Islam adalah peradaban yang mampu menjadi jembatan antara Timur dan Barat, sekaligus menawarkan visi masa depan yang lebih manusiawi.
Ia mengingatkan bahwa peradaban Islam telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Al-Biruni, yang berperan penting dalam perkembangan filsafat, sains, dan teknologi.
Pandangan ini memberi kerangka analitik bahwa tuntutan Iran bukan sekadar strategi politik, melainkan bagian dari narasi peradaban yang menempatkan Islam sebagai mitra penting dalam membangun dunia yang lebih adil dan berimbang.
Dengan demikian, kondisi mutakhir Iran pasca gencatan senjata dapat dipahami sebagai fase penuh ketegangan yang sarat simbol politik, tetapi juga sebagai momentum yang membuka peluang bagi lahirnya paradigma baru.
Jika tuntutan Q0 dipenuhi, Iran akan mengklaim kemenangan peradaban atas hegemoni Barat.
Jika tidak, konflik berpotensi kembali meletus. Dalam kerangka pemikiran Garaudy, filsafat berfungsi sebagai alat kritis untuk menyingkap kegagalan modernitas, sementara agama berperan sebagai sumber nilai yang dapat menuntun negara dan masyarakat menuju tatanan yang lebih manusiawi.
Iran kini berada di persimpangan yang akan menentukan apakah jeda ini menjadi awal perdamaian permanen atau sekadar babak baru dalam siklus konflik yang tak berkesudahan.
#coversongs:
Lagu “Le temps qui passe” karya Lara Louise dirilis pada 6 Juli 2020 sebagai single jazz berbahasa Prancis.
Maknanya berpusat pada refleksi tentang waktu yang terus berjalan, menghadirkan nuansa melankolis sekaligus hangat lewat aransemen akustik.
#credit foto cover buku terjemahan Roger Garaudy dan fotonya serta @KompasTVMakassar1
warga Iran menggelar aksi massa di kota Teheran.

