![]() |
Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan
Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
tiktok @ririeaiko_djaf
_(Puisi esai ini diangkat dari kisah Martha Christina Tiahahu, pahlawan nasional dari Maluku yang terjun ke medan perang melawan penjajah Belanda pada tahun 1817 dalam usia 17 tahun.)_
---000---
Di tanah yang asin oleh air mata dan garam,
di antara desir angin yang membawa kabar duka,
dan denting perahu kayu yang beradu di dermaga,
seorang anak perempuan lahir dari rahim perkasa.
Ia tumbuh tanpa mengenal kata ketakutan,
menjadi pejuang di barisan depan.
Martha Christina Tiahahu (1)
Nama yang lahir di tengah riuh rendah cerita perang,
tentang tanah Maluku yang dirampas paksa,
tentang harga diri yang diinjak sepatu baja.
Bagi Martha,
keberanian adalah caranya bernapas,
simbol resistensi yang enggan ditindas.
Tahun 1817 meletus,
langit Maluku berubah pekat.
Tak lagi biru,
merah memendam amarah yang berkarat,
yang disimpan terlalu lama
di dalam dada yang sesak.
Di barisan rakyat yang bermodal tekad,
di antara tubuh-tubuh yang berteriak menuntut hak,
perempuan muda berdiri tegak menantang peluru dan maut.
Desa Ouw dan Ullath
menjadi saksi bisu, (2)
seorang perempuan tangguh
dengan sebilah parang kokoh,
enggan tunduk
pada rantai penjajahan yang angkuh.
--000--
Rambutnya panjang terurai
tertiup angin laut,
bukan mahkota emas yang ia sematkan,
melainkan kain merah
simbol keberanian yang akut.
Di sampingnya, Paulus Tiahahu,
ia bukan hanya seorang ayah,
tapi api yang membakar semangat Martha
ketika peluru-peluru Belanda merajalela.
Saat peluru habis di medan laga,
ia memimpin barisan perempuan melempar batu pada wajah-wajah
kuasa yang pongah.
Perlawanan kukuh dari tangan yang sering dianggap lemah.
---000---
Namun, sejarah seringkali
memiliki alur yang pelik.
Benteng Beverwijk menjadi saksi kejatuhan yang sunyi. (3)
Ayahnya ditangkap,
sang pelindung terbelenggu,
Di depan matanya Martha menyaksikan
maut menjemput sang ayah.
Dunianya patah,
namun ia menolak untuk pasrah.
Tahun 1817 kapal Evertsen
membawa tubuh-tubuh yang dilumpuhkan
meninggalkan tanah yang mereka jaga.
Kebebasannya direnggut.
Ia diasingkan menuju tanah Jawa
menjadi tawanan yang terhina.
Martha memilih sebuah jalan yang sunyi.
Ia menolak setiap suap dari tangan musuh.
Baginya nasi dari penjajah
adalah racun yang melukai harga diri.
Tubuhnya kian lemah,
wajahnya kian kuyu dan keruh,
namun sorot matanya tetap tajam
sebagai remaja pejuang.
Ia pun memilih mati
bukan sebagai tawanan,
melainkan sebagai seseorang
yang tak pernah benar-benar
berhasil ditaklukkan.
Dua hari sebelum tahun berganti,
jasadnya dilarung ke Laut Banda. (4)
Tak ada nisan,
tak ada gundukan tanah yang asri,
hanya ombak yang mendekapnya dengan penuh doa.
Martha bukanlah perempuan
penghuni sudut rumah yang sepi.
Ia adalah parang yang tajam,
semangat yang menyala,
aroma pejuang yang masih tercium di antara cengkeh dan pala.
Catatan:
(1)https://vredeburg.id/id/post/martha-christina-tiahahu-srikandi-belia-dari-nusa-laut
(2)https://youtu.be/4pGrCbgHjpA?si=3c9RlM_qZngac0-M
(3)https://id.wikipedia.org/wiki/Paulus_TiahahuKisah
(4)Wafatnya Martha Christina Tiahahu di Laut Banda

