Type Here to Get Search Results !

Kolektor Artefak Kebudayaan

oleh ReO Fiksiwan

“Budaya nasional yang demikian itu seharusnya tidak boleh diterima begitu saja tanpa sikap kritis.” — Tod Jones (50), Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad ke-20 Hingga Era Reformasi (2015).

Pagi ini, jelang beberapa jam memasuki hari pertama puasa Ramadan, laman Facebook Dr. Fadli Zon(54), Menteri Kebudayaan RI pertama, menampilkan kunjungannya ke rumah legenda musik cadas(rock) Indonesia, Ahmad Albar(79) alias Iyek, ditemani adiknya, Camelia Malik. 

Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan juga bagian dari tradisi panjang Fadli Zon dalam merawat artefak budaya. 

Sebelumnya, melalui podcast pribadinya, ia kerap mengajak budayawan dan seniman berdiskusi tentang sejarah budaya dan seni Indonesia kontemporer.

Dalam kunjungan kali ini, Fadli membawa 60 kaset dan 10 piringan hitam rekaman musik God Bless, band yang didirikan Iyek bersama iparnya, mendiang Fuad Hasan, serta Soman Lubis, Donny Fatah(75) dan Ludwig Lemans pada 1973. 

Koleksi itu mencakup karya awal seperti Setan Tertawa dan Huma di atas Bukit — soundtrack film Layla Majenun(1975) besutan sutradara Sumandjaja (1933-1985), ayahkandung sastrawati dan artis, Djenar Mahesa Ayu — hingga album peringatan 40 tahun God Bless. 

Semua artefak musik tersebut ia minta ditandatangani langsung oleh Ahmad Albar, menjadikannya bukan sekadar benda koleksi, tetapi juga saksi hidup perjalanan musik rock Indonesia.

Tak banyak yang tahu, sejak masa aktivis mahasiswa, Fadli telah membangun Library Fadli Zon di kawasan Benhil, Jakarta Pusat. 

Di sana tersimpan ribuan buku dan artefak seni-budaya dari masa klasik hingga kontemporer sebagai koleksi pribadinya. 

Kesadaran sebagai kolektor artefak muncul jauh sebelum ia menjabat Menbud, dan kini semakin relevan dengan mandat UU Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, yang menekankan pentingnya restorasi dan pelestarian kreativitas kebudayaan Indonesia sebagai warisan dunia.

Refleksi atas praktik koleksi ini menemukan resonansi dalam karya Fiona Greenland(40), D.Phil. dalam Classical Archaeology(Oxford) dan Ph.D. dalam Sociology(Michigan) dalam Ruling Culture: Art Police, Tomb Raiders, and the Rise of Cultural Power in Italy (University of Chicago Press, 2021). 

Greenland, Associate Professor of Sociology di University of Virginia, menunjukkan bagaimana Italia, setelah mengalami kehilangan besar akibat penjarahan artefak (tomborola) oleh negara lain dan kolektor asing, membangun reputasi sebagai negara yang paling tegas melindungi warisan budayanya. 

Unit polisi seni(art police) menjadi instrumen utama dalam melacak, menyita, dan mengembalikan artefak curian. 

Artefak dipandang bukan hanya sebagai benda estetis, melainkan sumber legitimasi politik dan identitas nasional. 

Dengan demikian, kontrol atas artefak berarti kontrol atas narasi sejarah dan posisi negara dalam diplomasi internasional.

Dalam konteks Indonesia, praktik koleksi pribadi seperti yang dilakukan Fadli Zon dapat dibaca sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk meneguhkan identitas budaya nasional. 

Seperti yang ditunjukkan Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950–1965(2011), warisan budaya selalu menjadi arena perebutan makna dan legitimasi. 

Kolektor artefak, baik individu maupun negara, berperan penting dalam memastikan bahwa aset budaya tidak sekadar tersimpan, tetapi juga hidup sebagai sumber refleksi, kebanggaan, dan diplomasi.

#coverlagu:

Lagu “Huma di Atas Bukit” adalah salah satu karya paling ikonik dari grup rock Indonesia God Bless.

Rilis pertama: Album debut God Bless (sering juga disebut Huma di Atas Bukit) dirilis pada 2 Desember 1975 dalam format piringan hitam oleh label Pramaqua, kemudian pada 1976 dalam bentuk kaset.

mLirik ditulis oleh Sjuman Djaya (sutradara film Laila Majenun), bersama Ahmad Albar dan Donny Fattah.

#credit foto Fadli Zon di rumah Ahmad Albar diambil dari tayang facebook dan diedit oleh AI disertai tulisan di bawahnya.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.