![]() |
| Ketua Profetik Indonesia, Firdaus menziarahi para ulama di kota Padang. |
Padang — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tradisi ziarah kubur kembali dilakukan masyarakat sebagai bentuk persiapan spiritual dan refleksi diri. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai keimanan, mengingat kematian, serta mendoakan orang tua, guru, dan para ulama yang telah wafat.
Ketua Yayasan Profetik, Firdaus, yang juga dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat, mengatakan bahwa ziarah kubur memiliki nilai pendidikan spiritual yang sangat penting bagi masyarakat, terutama dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.
“Ziarah kubur mengajarkan kita kesadaran bahwa hidup ini sementara. Ketika seseorang mengingat kematian, maka akan tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, serta mempersiapkan ibadah Ramadhan dengan lebih sungguh-sungguh,” ujarnya saat melakukan ziarah ke makam ulama di Kota Padang.
Menurut Firdaus, ziarah kepada orang tua merupakan bentuk bakti yang tidak pernah terputus meskipun mereka telah wafat. Doa anak yang saleh menjadi salah satu amal jariyah yang terus mengalir pahalanya kepada orang tua di alam kubur. Momentum menjelang Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, memohon ampunan bagi mereka, sekaligus mempererat hubungan emosional dalam keluarga.
Selain orang tua, ziarah kepada guru dan ulama juga memiliki makna penting dalam tradisi keilmuan Islam. Guru dipandang sebagai orang tua ruhani yang telah memberikan ilmu, membimbing akhlak, dan menunjukkan arah kehidupan kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, mendoakan guru yang telah wafat merupakan bentuk penghormatan sekaligus menjaga keberkahan ilmu yang telah diperoleh.
“Ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah. Ketika murid mendoakan gurunya, maka pahala itu akan terus mengalir. Ini bagian dari adab dalam menuntut ilmu yang perlu terus dilestarikan dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Firdaus menambahkan bahwa tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan juga menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri. Kesadaran bahwa kehidupan manusia memiliki batas waktu diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih serius dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan, seperti memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbaiki hubungan sosial dengan sesama.
Ia berharap kegiatan ziarah kubur tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, tetapi benar-benar dimaknai sebagai sarana memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta memperkuat hubungan sosial dalam keluarga dan masyarakat.
“Dengan hati yang lebih bersih dan kesadaran akan tujuan hidup, kita berharap Ramadhan dapat dijalani dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah, sehingga setiap kesempatan hidup harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan,” tutupnya.

