![]() |
| Air menggenangi rumah masyarakat di Ulakan Tapakih, sejak Rabu malam. |
ULAKAN TAPAKIH, 12 FEBRUARI 2026—Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, kembali dilanda banjir pada Rabu malam (11/2) setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak sore hingga larut malam. Meluapnya aliran sungai serta buruknya drainase di beberapa titik menyebabkan genangan air dengan cepat merendam permukiman warga dan lahan pertanian, terutama sawah dan ladang jagung yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat setempat.
Banjir kali ini disebut warga sebagai salah satu yang cukup mengkhawatirkan karena datang saat sebagian besar petani berada pada fase penting dalam siklus tanam. Air yang menggenangi lahan dengan ketinggian bervariasi mengancam tanaman padi yang sedang memasuki masa pembentukan bulir hingga menjelang panen, serta tanaman jagung yang berada pada fase pertumbuhan produktif. Jika genangan berlangsung lama, petani memperkirakan potensi gagal panen akan meningkat dan kerugian ekonomi sulit dihindari.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa bencana ini bukan yang pertama dalam beberapa waktu terakhir. Pada kejadian banjir sebelumnya, petani terdampak telah mengikuti proses pendataan yang diminta oleh pihak berwenang sebagai dasar pemberian bantuan. Namun hingga saat ini, mereka mengaku belum menerima dukungan khusus yang signifikan. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga petani, khususnya yang berada pada kategori ekonomi menengah ke bawah, semakin tertekan karena harus menanggung kerugian berulang tanpa kepastian pemulihan.
Berdasarkan data sementara dari masyarakat dan aparat nagari, puluhan hektar lahan pertanian mengalami kerusakan akibat banjir terbaru ini. Selain padi dan jagung, beberapa tanaman palawija juga dilaporkan terendam. Di beberapa lokasi, aliran air membawa lumpur dan material yang berpotensi merusak struktur tanah serta menghambat pertumbuhan tanaman pada musim tanam berikutnya. Para petani khawatir bahwa meskipun air surut dalam waktu dekat, dampak jangka panjang terhadap produktivitas lahan tetap akan terasa.
Situasi ini tidak hanya memengaruhi sektor pertanian, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga petani. Banyak di antara mereka yang mengandalkan hasil panen sebagai sumber utama biaya hidup, pendidikan anak, serta kebutuhan sehari-hari. Dengan ancaman gagal panen yang berulang, sebagian petani mengaku terpaksa meminjam dana tambahan untuk mempertahankan usaha tani, sementara yang lain mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan sementara di luar sektor pertanian.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret dan responsif. Selain pendataan ulang kerusakan yang lebih akurat dan transparan, warga juga mengharapkan bantuan berupa bibit unggul, pupuk, alat pertanian, hingga bantuan finansial sebagai stimulus pemulihan ekonomi. Mereka menilai bahwa respons cepat sangat penting agar para petani dapat segera melakukan penanaman ulang dan meminimalkan kerugian yang lebih besar.
Di sisi lain, warga juga mendorong adanya solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir yang terus berulang, seperti perbaikan sistem irigasi, normalisasi sungai, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang berkelanjutan. Harapannya, kejadian serupa tidak lagi menjadi ancaman rutin yang merugikan masyarakat setiap musim hujan, sehingga ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan petani dapat lebih terjamin di masa mendatang. (*dy)

