Type Here to Get Search Results !

Imitatio Atau Kepalsuan?

oleh ReO Fiksiwan

“Oleh karena itu, tidak mungkin sepenuhnya memisahkan orisinalitas dari pengaruh.” — Colin Burrow(50), Imitating Authors: Plato to Futurity(Oxford University Press, 2019).

Di tengah eskalasi kontroversi hukum dan hak cipta, kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh seorang anggota DPRD Tubaba, Tulang Bawang Barat, Eli Fitriayana(ET), yang resmi ditetapkan sebagai tersangka, menyeruak bak takdir Sysiphus. 

Meme yang beredar di laman X @Opposisi6890 memperlihatkan betapa isu keaslian dan kepalsuan bukan sekadar perkara administratif, melainkan menyentuh inti persoalan etika dan moral dalam kehidupan sosial.

John Wall(50), profesor filsafat dan etika di Rutgers University, dalam artikelnya Imitatio Creatoris: The Hermeneutical Primordiality of Creativity in Moral Life(2020), menekankan bahwa kehidupan moral manusia berakar pada kemampuan kreatif primordial. 

Etika, menurut Wall, bukan sekadar mengikuti aturan, melainkan meniru Sang Pencipta dengan cara mencipta secara otentik. 

Dalam kerangka ini, pemalsuan adalah tindakan amoral karena menolak panggilan manusia untuk mencipta secara jujur, merusak kepercayaan sosial, dan mengaburkan identitas budaya yang seharusnya lahir dari kreativitas asli. 

Dengqn demikian, pemalsuan ijazah bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pengkhianatan terhadap prinsip moral yang mendasar: panggilan untuk hidup autentik.

Irene L. Clark(69), profesor retorika di California State University, dalam bukunya Writing, Imitation, and Performance: Insights from Neuroscience Research(Routledge, 2022), mengaitkan imitatio dengan pedagogi menulis modern. 

Ia menunjukkan bahwa otak manusia belajar melalui pola imitasi, tetapi peniruan harus berkembang menjadi performance—yakni ekspresi kreatif yang otentik. 

Ketika seseorang berhenti pada tahap peniruan tanpa transformasi, lalu mengklaim hasil tiruan itu sebagai karya asli, tindakan tersebut menjadi amoral. 

Pemalsuan, dalam kerangka Clark, adalah imitasi yang gagal berkembang menjadi penciptaan. 

Motifnya bisa beragam: keuntungan ekonomi, prestise akademik, atau pengakuan sosial. Namun, secara etis, pemalsuan merusak tujuan pendidikan dan kebudayaan, karena menutup jalan menuju kreativitas otentik.

Kasus dugaan ijazah palsu yang menimpa seorang pejabat publik memperlihatkan bagaimana kepalsuan bukan sekadar persoalan legalitas, tetapi juga persoalan moralitas. 

Dalam perspektif Wall dan Clark, pemalsuan adalah bentuk penyangkalan terhadap panggilan manusia untuk meniru Sang Pencipta melalui penciptaan yang jujur dan inovatif. 

Ia adalah penyalahgunaan mekanisme imitasi, menjadikannya alat manipulasi demi kepentingan pribadi. 

Walhasil, imitatio sejati adalah jalan menuju penciptaan, sedangkan kepalsuan adalah jalan buntu yang meniadakan makna etika dan merusak fondasi budaya.

#coverlagu:

Album Sarjana Muda adalah debut studio Iwan Fals(64), dirilis pada 3 September 1981 oleh label Musica Studio’s. 

Album ini berisi sejumlah lagu yang kemudian menjadi klasik, seperti Oemar Bakri, Sarjana Muda, Bung Hatta, dan 22 Januari.

#credit foto diunggah dari laman X Opposisi6890

@Opposisi6890 dan diedit dalam bentuk sketsa oleh AI.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.