![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo
Jum'at hari ini adalah terakhir di bulan Sya'ban, insyaalah Jumat depan kita sudah berada di bulan Ramadhan 1447 H/2026. Untuk menyiapkan menymbut Ramadhan patut sekali dilakukan persiapan ruhaniyah yang baik dan bergerak kuat, Rasanya menjadi malu dirinya bila kedatangan Ramadhan tidak membawa perubahan yang berarti. Ramadhan selalu datang dengan cara yang tenang. Ia tidak mengetuk pintu kekuasaan dengan demonstrasi. Ia tidak mengguncang sistem dengan pidato revolusioner. Ia hadir dalam sahur yang sederhana, dalam lapar yang tertahan, dan dalam doa yang lirih menjelang berbuka. Namun justru dalam kesunyiannya itulah tersimpan daya perubahan yang besar—revolusi yang bekerja dari dalam.
Di saat bangsa ini bergulat dengan keganasan korupsi, kejahatan moral yang vulgar, serta amanah publik yang dirusak tanpa rasa malu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum koreksi paling mendasar. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah krisis nurani. Ia adalah bukti bahwa manusia gagal mengendalikan dirinya ketika diberi kekuasaan.
Al-Qur'an mengingatkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 7 bahwa apa yang ada di bumi dijadikan sebagai perhiasan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya. Jabatan, proyek, anggaran, fasilitas negara—semua itu adalah perhiasan ujian. Ketika ujian disalahpahami sebagai hak milik, lahirlah penyalahgunaan. Ketika amanah dipersepsi sebagai peluang memperkaya diri, lahirlah korupsi.
Akar terdalam korupsi adalah takatsur—mentalitas menumpuk tanpa batas. Dalam QS. At-Takatsur, Al-Qur'an menegur keras manusia yang dilalaikan oleh semangat bermegah-megahan hingga masuk kubur. Takatsur hari ini tidak hanya soal harta pribadi, tetapi juga akumulasi pengaruh, jaringan, dan kekuasaan. Banyak pelaku korupsi bukan orang miskin. Mereka cukup secara ekonomi, tetapi miskin kendali diri.
Di sinilah puasa menemukan relevansinya. Puasa adalah latihan batas. Ia mengajarkan imsak—menghentikan yang halal demi ketaatan. Jika seseorang mampu menahan makanan yang sah, mengapa ia gagal menahan uang yang haram? Jika ia sanggup menahan haus beberapa jam, mengapa tidak sanggup menahan godaan suap dan manipulasi?
Korupsi juga lahir dari ghurur—rasa tertipu oleh ilusi kekuasaan. QS. Al-Hadid ayat 20 menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, perhiasan, dan kesenangan yang menipu. Banyak pejabat merasa aman dalam jaringannya, merasa kebal hukum, merasa posisinya tak tergoyahkan. Ghurur membuat manusia lupa bahwa setiap kekuasaan akan berakhir dan setiap amanah akan dihisab.
Ramadhan mematahkan ilusi itu. Di hadapan lapar, semua manusia setara. Di hadapan ajal, semua jabatan gugur. Puasa membangun kembali kesadaran bahwa manusia diawasi Allah, bahkan ketika tidak diawasi publik.
Di sisi lain, budaya lahwun—keterlenaan dan hiburan tanpa batas—turut merusak moral publik. Al-Qur'an dalam QS. Al-An’am ayat 32 menyebut dunia sebagai permainan dan senda gurau. Ketika masyarakat lebih sibuk mengonsumsi sensasi daripada memperjuangkan integritas, ruang bagi penyimpangan semakin terbuka. Hedonisme menjadi norma, kesederhanaan dianggap kuno.
Ramadhan hadir sebagai manajemen perhatian. Ia memindahkan fokus dari pesta menuju perenungan, dari konsumsi menuju refleksi, dari kerakusan menuju kesadaran. Ia mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukan mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan diri sendiri.
Sesungguhnya krisis terbesar bangsa ini bukan hanya krisis regulasi, tetapi krisis amanah. Amanah publik diperdagangkan. Kepercayaan rakyat dikhianati. Dana pembangunan diselewengkan. Padahal Nabi Muhammad ï·º menegaskan bahwa tidak sempurna iman seseorang yang tidak menjaga amanah.
Ramadhan adalah madrasah integritas. Puasa adalah ibadah paling rahasia—tidak ada yang tahu kecuali Allah. Jika seseorang jujur dalam puasanya, tidak makan diam-diam meski tak ada yang melihat, maka sejatinya ia sedang membangun karakter kejujuran yang seharusnya terbawa ke ruang publik.
Revolusi Ramadhan bukan revolusi yang gaduh. Ia revolusi sunyi. Ia bekerja dalam hati para pemimpin, dalam nurani para pejabat, dalam kesadaran para pengusaha, dan dalam pilihan moral setiap warga. Ia tidak menumbangkan sistem dengan kekerasan, tetapi menumbuhkan integritas dengan kesadaran.
Jika Ramadhan hanya berhenti pada ritual berbuka bersama, tetapi tidak menghentikan praktik suap dan manipulasi, maka puasa belum membatin. Jika tarawih ramai, tetapi amanah tetap dirusak, maka yang berubah hanya jadwal makan, bukan karakter.
Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan anti-korupsi. Ia membutuhkan manusia-manusia yang takut kepada Allah dalam sunyi. Manusia yang sadar bahwa setiap rupiah akan dipertanggungjawabkan. Manusia yang memahami bahwa jabatan adalah ibadah, bukan fasilitas.
Ramadhan dan Strategi Revolusi Mental Bangsa**
Ramadhan selalu hadir dengan kesederhanaan yang hening. Ia tidak membawa manifesto politik, tidak pula menawarkan paket kebijakan publik. Namun justru dalam kesunyian itulah tersimpan kekuatan transformatif yang luar biasa. Jika bangsa ini berbicara tentang “revolusi mental”, maka sesungguhnya Ramadhan telah lama menyediakan cetak birunya.
Revolusi mental bukan sekadar perubahan perilaku di permukaan. Ia adalah perubahan cara berpikir, cara merasa, dan cara memaknai kekuasaan serta harta. Krisis bangsa hari ini—korupsi yang merajalela, kejahatan moral yang vulgar, serta amanah yang diperjualbelikan—tidak lahir dari kekurangan aturan, tetapi dari kegagalan mengendalikan diri. Ramadhan datang untuk memperbaiki akar persoalan itu.
Puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling konkret. Seorang muslim yang mampu menahan lapar dan haus sepanjang hari sebenarnya sedang melatih kemampuan menunda kepuasan. Dalam bahasa psikologi modern, ini disebut *delayed gratification*, fondasi utama integritas dan kesuksesan jangka panjang. Jika seseorang mampu menahan yang halal, seharusnya ia lebih mampu menahan yang haram. Di sinilah revolusi mental dimulai: dari kemampuan mengatakan “cukup” pada diri sendiri.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa apa yang ada di bumi adalah perhiasan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya (QS. Al-Kahfi: 7). Jabatan, kekuasaan, dan kekayaan bukanlah kepemilikan mutlak, melainkan ujian moral. Ketika ujian dipahami sebagai hak, lahirlah penyalahgunaan. Ketika amanah dipersepsi sebagai akses pribadi, lahirlah korupsi.
Ramadhan mengembalikan orientasi hidup dari dunia ke akhirat. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan diukur dari seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi seberapa bersih yang dipertanggungjawabkan. Mentalitas takatsur—menumpuk tanpa batas—yang menjadi akar ketimpangan sosial dan praktik koruptif, ditantang oleh pengalaman lapar. Lapar menyadarkan manusia bahwa kebutuhan hidup sesungguhnya sederhana.
Di sisi lain, Ramadhan juga menjadi momentum pembersihan hati (*tazkiyah*). Setiap malam, umat Islam berdiri dalam tarawih dan qiyamullail. Setiap hari, mereka membaca dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an. Ini bukan sekadar ritual spiritual, tetapi proses internalisasi nilai. Ketika ayat tentang amanah, kejujuran, dan keadilan dibaca berulang-ulang, ia membentuk kesadaran moral yang dalam.
Revolusi mental melalui Ramadhan juga tercermin dalam solidaritas sosial. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya distribusi ekonomi, tetapi pendidikan empati. Seorang yang berpuasa merasakan lapar, lalu ia berbagi. Empati inilah yang menjadi fondasi keadilan sosial. Tanpa empati, kekuasaan menjadi dingin dan kebijakan menjadi tidak berpihak.
Namun tantangan zaman tidak ringan. Budaya hedon dan distraksi digital menghadirkan “lahwun modern”—keterlenaan yang membuat manusia jauh dari refleksi. Ramadhan seharusnya menjadi momentum *digital fasting*, mengurangi distraksi, memperbanyak kontemplasi. Revolusi mental tidak mungkin lahir dari pikiran yang terus dipenuhi kebisingan.
Yang tak kalah penting, Ramadhan harus menyentuh kepemimpinan publik. Pemimpin yang berpuasa tetapi tetap hidup dalam kemewahan berlebihan dan tidak transparan, sesungguhnya belum membiarkan Ramadhan membatin. Revolusi mental tidak akan berhasil jika ia berhenti pada level individu tanpa menjangkau struktur kepemimpinan.
Bangsa ini telah memiliki regulasi anti-korupsi, lembaga pengawas, dan sistem hukum. Namun sistem tidak akan efektif tanpa manusia yang berintegritas. Ramadhan menawarkan pendekatan berbeda: membangun manusia dari dalam. Ia menanamkan rasa diawasi Allah, bahkan ketika tidak diawasi publik. Puasa adalah ibadah paling rahasia—dan dari kerahasiaan itu lahir kejujuran.
Jika Ramadhan dijalani dengan kesadaran revolusioner, ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan rekonstruksi karakter bangsa. Ia mengajarkan disiplin, empati, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Ia mengembalikan amanah sebagai kehormatan, bukan peluang.
Revolusi mental sejati tidak selalu lahir dari ruang sidang atau podium kekuasaan. Ia bisa lahir dari sajadah, dari perut yang lapar, dan dari hati yang tunduk. Ramadhan telah menyediakan madrasahnya. Tinggal apakah kita bersedia menjadikannya sebagai jalan perubahan. DS> 13022026.

