Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Dari VII Koto ke Koto VII, Menyambungkan Shatariyah Tuanku Bagindo Lubuak Pua dengan Syekh Muhammad Yasin

Pimpinan rombongan foto bersama dengan Walinagari Muaro, Hafizun Tuanku Mudo. (ist)

Senin 26 Februari 2024 itu bertepatan dengan separoh jalannya bulan Sya'ban. Dan menjadi wirid bagi pelanjut jemaah Tuanku Bagindo Lubuak Pua dalam melakukan ziarah.

Ziarah dekat namanya, terutama ke guru Tuanku Bagindo Lubuak Pua di Koto VII, setelah sebelumnya ziarah ke daerah yang jauh, Banda Aceh. Ziarah dekat tak sebanyak ziarah jauh.

Hanya satu bus pariwisata. Jemaah ini dipimpin Nursyamsu alias Bujang bersama Buya Bustanul Arifin Khatib Bandaro, memulai kegiatan ziarah di makam Tuanku Bagindo Lubuak Pua itu sendiri.

Tuanku Bagindo Lubuak Pua ini lebih populer, dan terkenal dengan ulama kharismatik, punya pengaruh yang amat sangat luar biasa.

Muhammad Umar nama lengkapnya. Tapi namanya tak semashur gelarnya Tuanku Bagindo. Hidup dalam rentang 1875 - 1955 M, dan mengembangkan ilmunya di Surau Pekuburan yang menjadi tempat kelahiran ulama besar dan alim dulunya hingga saat ini.

Nah, ziarah dekat di sejumlah daerah di Sumbar, Senin itu juga bagian dari mendalami tentang sosok Tuanku Bagindo itu sendiri dengan Shatariyah yang dikembangkannya di Surau Pekuburan.

Ya, napak tilas. Karena dari sekian banyak yang kami kunjungi hari itu, termasuk guru langsung Tuanku Bagindo di Koto VII, Tanjung Ampalu, Kabupaten Sijunjung.

Dari Lubuak Pua, perjalanan ziarah yang sekaligus menyambut datangnya bulan puasa ini berlanjut ke Malalo, Kabupaten Tanah Datar.

Ke makam Uwai Limopuluah. Nun jauh di atas bukit di Duo Koto Malalo. Uwai Limopuluah adalah ulama yang hidup dan mashur di abad XVII.

Djinang namanya. Setelah mengaji, dia bergelar "Pakiah Madjolelo". Menurut sejumlah sumber, dia hidup dalam rentang 1730-1930 M.

Mengembangkan kajian dan keilmuan di Malalo lewat tariqat Shatariyah, dan dia lebih mashur dengan sebutan Uwai Limopuluah Malalo.

Dari komplek makam itu, terhampar Danau Singkarak. Agaknya, legenda Danau Singkarak ini sama dahsyatnya dengan kebesaran nama Uwai Limopuluah Malalo.

Menyusuri jalan coran secara mendaki dan berliku. Tampak saat puasa menjelang, kunjungan jemaah ziarah kian lengang.

Hanya rombong kita saja saat itu. Tak bersua rombongan lain. Tapi kemarin-kemarinnya banyak jemaah ke situ. Dari Malalo, kami menuju Calau di Muaro, Kabupaten Sijunjung.

Dari Duo Koto Malalo, bus pariwisata lebih memilih jalur Sumani karena jalan pintas untuk menuju Solok.

Sebelum tiba di Sijunjung, kami istirahat siang di Masjid Raya Sumani. Agak lama, tapi tak lama amat. Sekedar menunaikan kewajiban rohani dan jasmani.

Shalat Zuhur dan makan siang. Setelahnya lanjut ke Calau. Pas tiba di komplek Surau Tinggi waktu Ashar pun masuk.

Ya itulah komplek makam Syekh Abdul Wahab. Terletak di Jorong Sumbarang Sukam, Nagari Muaro. 

Syekh Abdul Wahab berasal dari Sumpur Kudus, dan mengembangkan Shatariyah di Calau.

Dari Pasar Muaro, banyak jasa ojek menawarkan ke rombongan untuk bisa sampai di komplek makam tersebut.

Maka sebagian naik ojek, dan sebagian laginya lebih memilih jalan kaki saja, sambil menikmati alam Ranah Lansek Manih di sore menjelang senja itu.

Buya Bustanul Arifin Khatib Bandaro mengontak Walinagari Muaro Hafizun Tuanku Mudo. 

Walinagari ini adalah alumni Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah, Buluah Kasok, Sungai Sariak.

Dalam banyak literatur, Syekh Abdul Wahab ini angkatan ketiga setelah Syekh Burhanuddin Ulakan. Syekh Abdul Wahab berguru ke Syekh Abdul Muhsin dan Syekh Sultan Al-Kisai Ibnu Habibullah Ulakan.

Dan yang disebut terakhir, berguru ke Syekh Abdurrahman, murid langsung dari Syekh Burhanuddin Ulakan.

Diperkirakan, Syekh Abdul Wahab mengembangkan Shatariyah di Calau akhir abad 19 atau awal abad 20.

Oleh Tuanku Bagindo Lubuak Pua, Uwai Limopuluah Malalo dan Syekh Abdul Wahab Calau, dijadikan sebagai tempat wirid ziarah setiap setahun sekali.

Dan kami rombongan ini, bagian dari yang melanjutkan tradisi itu, di samping banyak jemaah lain di VII Koto Sungai Sariak yang mewarisi tradisi Tuanku Bagindo Lubuak Pua.

Selesai ziarah setelah sebelumnya menunaikan kewajiban Shalat Ashar di komplek makam, kami bersua dengan Walinagari Hafizun Tuanku Mudo.

Sudah sore, senja pun menjelang. Tujuan selanjutnya adalah Tanjung Ampalu. Memang tak jauh dari Muaro. Tapi karena sesekali ditempuh agak terasa juga jauhnya.

Tepatnya Jorong Aur Gading, Nagari Limo Koto, Kecamatan Koto VII, masih dalam Kabupaten Sijunjung. Di sinilah dulunya Tuanku Bagindo Lubuak Pua mendalami ilmu dan keilmuan dengan Syekh Muhammad Yasin.

Seorang ulama besar di zamannya, terkenal dengan karismatik. Makamnya di pinggir Batang Ombilin. Lama Tuanku Bagindo Lubuak Pua mengaji dulunya dengan "Beliau Koto VII" ini.

Selesai ziarah, kami pun Magrib di surau yang ada di komplek makam Syekh Muhammad Yasin ini. Ulama pengembang Shatariyah yang terkenal dengan banyak keramat.

Pernah suatu ketika Batang Ombilin meluap, dan merendam semua pemukiman di pinggir sungai itu. Tetapi, makam Syekh Muhammad Yasin tidak basah.

Setidaknya, rombongan ini mencoba mendalami dan menyambungkan Shatariyah Tuanku Bagindo Lubuak Pua dengan gurunya Syekh Muhammad Yasin.

Beliau berdua ini juga terkenal alim dan keramat, punya pengaruh besar di tengah masyarakatnya masing-masing.

Dari Koto VII, kami naik ke arah Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Tepatnya ke Tuan Kadhi. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies