Type Here to Get Search Results !

FTK, Si Sulung yang Harus Mendahului Zamannya: Refleksi Milad ke-63 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang

Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Dosen FTK UIN Imam Bonjol Padang

Usia 63 tahun merupakan perjalanan panjang pengabdian pendidikan. Bagi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Imam Bonjol Padang, milad menjadi kesempatan membaca sejarah, menilai keadaan, dan menentukan arah pembaruan. Kebanggaan terhadap masa lalu perlu menjadi tenaga untuk memperkuat kemampuan menyiapkan pendidik di tengah perubahan kelembagaan, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan digital.

Sebutan “si sulung” memiliki landasan sejarah. Fakultas Tarbiyah merupakan cikal bakal lembaga yang kemudian berkembang menjadi IAIN dan UIN Imam Bonjol Padang. Kedudukan tersebut memberikan kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk terus merawat mutu pendidikan agama di Sumatera Barat.

Si Sulung dalam Perjalanan Imam Bonjol

Pada 1962, Yayasan Imam Bonjol mengembangkan pendidikan Tarbiyah di Padang. Melalui SK Menteri Agama Nomor 92 Tahun 1963, tanggal 21 September 1963, Tarbiyah memperoleh status sebagai Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Prof. H. Mahmud Yunus menjadi tokoh penting dalam perjalanan awalnya.

Pada 29 November 1966, IAIN Imam Bonjol diresmikan berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 77 Tahun 1966. Tarbiyah menjadi bagian dari empat fakultas awal. Perubahan menjadi UIN pada 2017 kemudian memperluas cakupan pengembangan keilmuan Imam Bonjol. Dengan demikian, milad FTK bertumpu pada penegerian 1963, mendahului kelahiran institut pada 1966.

Sejarah ini menunjukkan bahwa Tarbiyah lahir dari kebutuhan masyarakat terhadap pendidik. Kehadirannya menghubungkan penguasaan ilmu agama dengan kecakapan mengajar, pembentukan akhlak, dan pengabdian sosial. Amanah tersebut terus hidup, sementara persoalan yang dihadapi guru semakin berkembang.

Sumber Guru Agama dan Cermin Pendidikan Sumbar

FTK memiliki posisi strategis sebagai sumber penyiapan guru agama bagi Sumatera Barat. Pendidikan Agama Islam dan pendidikan bahasa Arab merupakan bagian dari akar kelembagaannya. Bidang pendidikan yang dikembangkan kemudian meluas, termasuk pendidikan guru madrasah, bimbingan dan konseling, manajemen pendidikan, serta pendidikan profesi guru.

Guru agama bekerja pada wilayah yang menentukan kualitas kehidupan: membangun pemahaman, membiasakan ibadah, menanamkan kejujuran, dan mendampingi pertumbuhan akhlak. Di Minangkabau, pengabdian itu bersentuhan dengan pengamalan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Karena itu, FTK layak dipandang sebagai salah satu cermin sekaligus indikator mutu pendidikan agama Sumatera Barat. Kedudukan ini perlu dibuktikan melalui kualitas lulusan dan dampak pengabdiannya. Pendidikan agama daerah juga dibentuk oleh keluarga, madrasah, pesantren, surau, pemerintah, dan perguruan tinggi lainnya.

FTK perlu membangun peta kebutuhan guru, menelusuri pengabdian alumni, serta meneliti keadaan pembelajaran agama. Hasil penelitian harus kembali ke sekolah sebagai pendampingan dan perbaikan. Pengalaman alumni di lapangan pun perlu menjadi bahan pembaruan kurikulum. Hubungan timbal balik ini akan menjaga kedekatan kampus dengan kebutuhan masyarakat.

Alih Status: Tantangan dan Peluang

Alih status IAIN menjadi UIN menghadirkan tantangan dan peluang bagi FTK. Dalam ingatan banyak warga kampus, Tarbiyah dikenal sebagai fakultas yang sangat diminati. Kebutuhan guru dan harapan bekerja di bidang pendidikan menjadi daya tariknya.

Kini, FTK bersanding dengan pilihan studi yang semakin beragam, termasuk bidang sains, ekonomi syariah, dan program studi lainnya. Calon mahasiswa mempertimbangkan minat, pengalaman belajar, peluang kerja, serta perkembangan profesi. Nama besar dan usia kelembagaan perlu ditopang keunggulan yang dapat mereka rasakan.

FTK perlu memperjelas nilai pendidikan yang ditawarkannya. Lulusan harus menguasai ilmu, mampu mengajar, terampil menggunakan teknologi, dan siap menghadapi keragaman kebutuhan peserta didik. Informasi tentang perjalanan karier alumni juga perlu disajikan secara terbuka agar masyarakat memperoleh gambaran yang nyata.

Lingkungan universitas sekaligus membuka peluang kerja sama. FTK dapat mengembangkan teknologi pembelajaran bersama bidang sains, pendidikan kewirausahaan bersama ekonomi syariah, serta media pendidikan bersama bidang komunikasi. Pertemuan antardisiplin dapat memperkaya pendidikan calon guru dan memperluas ruang pengabdiannya.

Lubuk Lintah dan Pembaruan Fasilitas

Keberadaan FTK di Lubuk Lintah menyimpan sejarah dan kedekatan emosional. Namun, kritik mengenai infrastruktur yang terasa “jadul” dan fasilitas belajar yang masih manual perlu dijawab melalui evaluasi serta pembenahan yang jelas.

Calon guru membutuhkan pengalaman belajar yang sesuai dengan lingkungan pendidikan tempat mereka kelak mengabdi. Persiapan menghadapi pembelajaran digital memerlukan dukungan fasilitas, metode, dan layanan akademik yang memadai.

Pembenahan dapat dimulai dengan audit kebutuhan: kondisi ruang kuliah, jaringan internet, perangkat presentasi, akses bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, laboratorium microteaching, serta sumber belajar digital. Hasilnya menjadi dasar penentuan prioritas, anggaran, dan jadwal pelaksanaan.

Laboratorium microteaching perlu memungkinkan mahasiswa merekam praktik mengajar, meninjau penampilannya, lalu memperbaiki metode berdasarkan umpan balik. Sistem pembelajaran digital perlu membantu dosen mengelola bahan ajar, tugas, diskusi, dan penilaian secara teratur.

Modernisasi juga menyangkut layanan akademik. Administrasi yang sederhana, informasi yang mudah ditemukan, dan bantuan teknis yang responsif akan memperbaiki pengalaman mahasiswa. Lubuk Lintah dapat terus menjadi tempat lahirnya pendidik unggul apabila warisan sejarahnya disertai investasi pembaruan.

Madrasah Qur’an Scientia: Langkah Nyata Pembaruan

Di tengah tuntutan pembenahan tersebut, FTK terus bergerak. Semangat pembaruannya memperoleh bentuk nyata melalui Madrasah Qur’an Scientia. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, madrasah ini mengembangkan pembelajaran berbasis digital pada jenjang Madrasah Tsanawiyah. Kehadirannya mempertemukan pendidikan Al-Qur’an, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kecakapan teknologi dalam pengalaman belajar peserta didik.

Madrasah Qur’an Scientia dapat diperkuat sebagai laboratorium pendidikan bagi FTK. Dosen dan mahasiswa memiliki ruang untuk mengembangkan bahan ajar digital, menguji metode pembelajaran, melaksanakan praktik mengajar, serta meneliti perkembangan peserta didik. Pengalaman madrasah kemudian menjadi masukan bagi pembaruan pendidikan calon guru.

Pembelajaran digital perlu terlihat manfaatnya dalam pemahaman, kreativitas, kemandirian, dan karakter peserta didik. Penggunaan perangkat harus disertai pendampingan guru, keterlibatan orang tua, serta evaluasi hasil belajar yang terukur. Pengalaman ini dapat membantu FTK menentukan teknologi dan metode yang layak dikembangkan lebih luas.

Rencana membuka jenjang Madrasah Aliyah pada 2027 menjadi langkah lanjutan untuk membangun kesinambungan pendidikan. Persiapannya perlu mencakup kurikulum, tenaga pendidik, fasilitas, dan tata kelola yang mendukung integrasi Al-Qur’an, sains, serta kecakapan abad ke-21.

Melalui Madrasah Qur’an Scientia, FTK mempunyai kesempatan membuktikan kemampuannya mendahului zaman. Pembaruan yang dikembangkan di madrasah dapat menjadi sumber pengalaman dan inspirasi bagi sekolah serta madrasah lainnya di Sumatera Barat.

Menggerakkan Energi dari Zona Nyaman

Langkah maju tersebut perlu menjadi pemicu perubahan di seluruh lingkungan FTK. Lembaga yang lama menjadi pilihan utama dapat terbiasa dengan pola kerja yang mapan. Mahasiswa datang, perkuliahan berjalan, dan kelulusan berlangsung setiap tahun. Rutinitas demikian berisiko menunda kesadaran bahwa kebutuhan masyarakat telah berubah.

FTK memerlukan energi lebih untuk keluar dari zona nyaman. Energi itu perlu hadir melalui kepemimpinan yang menetapkan arah, dukungan anggaran, ruang inovasi bagi dosen, dan keterlibatan mahasiswa. Dosen yang mengembangkan metode baru membutuhkan fasilitas serta pendampingan. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk menilai pengalaman belajar dan mengusulkan perbaikan.

Perubahan harus memiliki ukuran keberhasilan. Peningkatan kemampuan praktik mengajar, kecakapan merancang pembelajaran digital, dan manfaat pendampingan bagi sekolah mitra merupakan ukuran yang dapat diperiksa. Evaluasi demikian membantu fakultas menentukan langkah berikutnya.

Pengalaman generasi senior merupakan modal penting. Pertemuannya dengan kecakapan generasi muda dapat menghasilkan pembaruan yang tetap berakar pada keilmuan dan adab. Keberhasilan Madrasah Qur’an Scientia pun perlu diolah menjadi pembelajaran bersama agar energi inovasinya menjangkau perkuliahan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

FTK Harus Mendahului Zamannya

Guru dituntut terus maju dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Karena itu, “pabrik” yang menyiapkan guru, yakni FTK, mesti mampu mendahului zamannya. Kampus perlu membaca perubahan, memperkirakan kebutuhan pendidikan, dan menyiapkan calon guru sebelum tantangan tersebut hadir di ruang kelas.

Kurikulum, kecakapan dosen, fasilitas, dan pengalaman belajar mahasiswa harus bergerak bersama. Mahasiswa perlu mengalami pembelajaran yang melatih mereka menyelidiki persoalan, menguji informasi, menghasilkan karya, menggunakan teknologi, dan bekerja dalam tim.

Peserta didik kini memperoleh informasi keagamaan melalui video pendek, media sosial, dan kecerdasan buatan. Guru perlu membimbing mereka memeriksa sumber, memahami konteks, serta membedakan dalil, pendapat, dan prasangka. Penggunaan teknologi harus disertai kejujuran akademik, ketepatan informasi, perlindungan privasi, dan etika komunikasi.

Pada saat yang sama, anak dan remaja membutuhkan perhatian manusia. Guru perlu mampu mendengar, memahami kesulitan, bekerja sama dengan keluarga, dan mendampingi peserta didik yang menghadapi tekanan kehidupan digital. Kemajuan teknologi harus memperkuat kemampuan guru menjalankan tugas kemanusiaan tersebut.

Lima Bekal Pendidikan Abad ke-21

Guru agama era digital mempunyai amanah mempersiapkan anak agar mampu hidup di abad ke-21. Pendidikan agama perlu membentuk kompetensi, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan karakter secara terpadu.

Kompetensi berarti menguasai pengetahuan agama dan mampu menerapkannya untuk menjawab persoalan kehidupan. Peserta didik perlu memahami hubungan antara ajaran yang dipelajari dengan keputusan dan perilakunya sehari-hari.

Kreativitas berarti mampu menemukan gagasan serta cara penyelesaian yang bermanfaat. Pembelajaran perlu memberi ruang bertanya, menyelidiki, dan menghasilkan karya dengan tetap menjaga tanggung jawab ilmiah serta nilai agama.

Komunikasi berarti mampu menyampaikan pikiran dengan jelas, mendengarkan, dan menjaga adab. Kecakapan ini berlaku dalam percakapan langsung maupun digital, termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat.

Kolaborasi berarti mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas tugas bersama. Peserta didik belajar bahwa keberhasilan juga dibangun melalui kesediaan membantu dan menerima kontribusi orang lain.

Karakter berarti memiliki iman, kejujuran, disiplin, empati, dan keteguhan moral. Karakter memberi arah bagi penggunaan ilmu, kreativitas, serta teknologi untuk kemaslahatan.

Kelima bekal tersebut perlu dilatih melalui kegiatan nyata. Peserta didik dapat diajak memeriksa informasi keagamaan di media sosial, mendiskusikan etika digital, membuat konten edukasi, dan melaksanakan proyek kepedulian sosial. Guru membimbing prosesnya sekaligus menilai pemahaman, kerja sama, dan tanggung jawab mereka. Madrasah Qur’an Scientia dapat menjadi salah satu tempat mengembangkan dan mengevaluasi praktik pendidikan tersebut.

Milad ke-63 menjadi momentum memperbarui amanah si sulung. FTK perlu memperkuat mutu lulusan, membenahi fasilitas, membuka kerja sama, dan menghidupkan budaya inovasi. Pengembangan Madrasah Qur’an Scientia serta rencana pembukaan Madrasah Aliyah pada 2027 menjadi bagian dari langkah membangun masa depan itu.

Dari Lubuk Lintah, pengabdian FTK harus terus menjangkau sekolah, madrasah, keluarga, dan masyarakat Sumatera Barat. Jika guru harus menyiapkan masa depan anak, FTK harus lebih dahulu menyiapkan masa depan guru. Di situlah kehormatan sejarah bertemu dengan tanggung jawab zaman.

Selamat milad ke-63 FTK UIN Imam Bonjol Padang. Bersama membangun pendidikan untuk peradaban. DS@05102026

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.