Type Here to Get Search Results !

Perantau Kiaracondong, Riwayatmu Dulu

Oleh: Duski Samad

Kenangan di Kiaracondong, Bandung, 28 September 2026

Ada tempat yang kita datangi kembali bukan hanya untuk melihat bangunannya, melainkan untuk menemui ingatan. Bagi saya, Kiaracondong adalah salah satunya. Di sekitar stasiun ini, dahulu banyak perantau dari Sikabu Lubuk Alung dan berbagai nagari di Minangkabau menggantungkan harapan.

Sebelum masa Reformasi, merantau ke Bandung berarti berangkat membawa keberanian, sedikit bekal, dan pesan keluarga agar pandai menjaga diri. Sesampainya di kota, seorang perantau mencari pekerjaan sekaligus mencari orang yang mengenal kampungnya. Kabar tentang saudara, peluang usaha, dan keadaan di ranah berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain.

Bandung pada masa itu dikenang sebagai tempat yang mudah untuk mencari uang. Ada ungkapan di kalangan perantau: dua hari bekerja, hasilnya cukup untuk seminggu. Ungkapan itu menggambarkan besarnya peluang yang mereka rasakan ketika pesanan datang dan pekerjaan tersedia.

Banyak perantau menekuni industri rumahan: bordir, pembuatan jaket dan celana jin, menjahit, serta usaha konveksi. Ada yang memulai dengan mesin jahit sendiri, lalu usahanya berkembang hingga mempekerjakan sekitar 200 orang. Dari ruang kerja sederhana, mereka membuka penghasilan bagi banyak keluarga.

Nama Dini, Iqbal, dan Anas mengingatkan saya kepada para pengusaha konveksi pada masa itu. Syafi’i dan Anjah termasuk perintis awal perantau di Bandung. Usaha dan kebersamaan mereka kini tinggal kenangan, tetapi jerih payahnya merupakan bagian dari riwayat Kiaracondong yang layak dituliskan.

Dalam ingatan saya, Masjid Baiturrahman yang berdiri sejak 1992 di dekat Stasiun Kiaracondong menjadi salah satu penanda kehidupan tersebut. Orang menyebutnya masjid urang awak. Di sana, perantau dapat salat, berjumpa sesama orang Minang, mendengar kabar kampung, dan sejenak merasa dekat dengan rumah.

Kunjungan kali ini membawa saya ke Rumah Makan Minang Trio Buyung, milik orang asli Sikabu Lubuk Alung. Saat makan siang, rasa rendangnya membawa ingatan saya pulang ke kampung. Para pekerjanya juga ada yang berasal dari Jawa. Mereka bekerja bersama, sementara cita rasa Minang yang saya kenal tetap terjaga. Di rantau, makanan dapat menjadi penghubung yang kuat dengan asal-usul kita.

Seusai makan, kami melanjutkan percakapan sambil minum kopi dan teh. Kami bercanda ria dalam bahasa Sikabu. Cerita lama muncul satu demi satu, diselingi tawa dan pertanyaan tentang kawan-kawan seperantauan. Sungguh luar biasa: kenangan yang dibagikan bersama terasa seperti vitamin yang menambah energi untuk menjalani hari.

Kehidupan perantau tidak selalu mudah. Ada yang usahanya berhasil, ada pula yang harus memulai lagi setelah jatuh. Di tengah naik turunnya usaha, ada nasihat yang tetap terasa dekat: masalah perlu dipahami dan dibao santai, dibawa dengan kepala dingin. Jangan memendam masalah sendirian. Bicarakan dengan orang yang dipercaya, pikirkan jalan keluarnya, lalu hadapi setahap demi setahap.

Kiaracondong juga mengajarkan bahwa menjadi urang awak di rantau berarti membangun hubungan baik dengan lingkungan tempat tinggal. Masjid dan perkumpulan memberi rasa persaudaraan, sementara kehidupan bersama warga Bandung mengajarkan cara menjadi tetangga yang baik.

Generasi muda mungkin mengenal Kiaracondong sebagai tempat singgah dalam perjalanan kereta. Bagi generasi yang pernah menumpangkan harapan di sini, kawasan ini menyimpan nama-nama, jerih payah, doa, dan kisah saling membantu. Sebelum kisah itu hilang bersama para pelakunya, alangkah baiknya jika para perantau menuliskan kenangan mereka.

Saya kembali dari pertemuan ini dengan satu perasaan: kampung halaman tidak hanya berada di tempat kita lahir. Kadang ia hadir di sebuah masjid dekat stasiun, dalam rasa rendang, dalam cerita tentang mesin jahit dan pekerja konveksi, serta dalam canda berbahasa Sikabu yang membuat seorang perantau merasa pulang.

Catatan: Tahun pendirian dan riwayat Masjid Baiturrahman, serta rincian usaha dan tokoh yang disebutkan, mengikuti kenangan penulis dan dapat dilengkapi melalui arsip serta kesaksian para perantau.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.