![]() |
Oleh: Prof.Dr.H. Duski Samad, MA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia berpasang-pasangan, mempertemukan dua hati dalam ikatan suci, serta menjadikan perkawinan sebagai jalan membangun ketenteraman, kasih sayang, dan keberlanjutan kehidupan.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., teladan dalam membangun rumah tangga yang berlandaskan iman, kasih sayang, tanggung jawab, kesetiaan, dan kemuliaan akhlak.
Pada hari yang berbahagia ini, kita menyaksikan penyatuan dua insan, dua keluarga, dua latar budaya, dan dua orang Bhayangkara dalam ikatan perkawinan:
Iptu dr. Febri Indra Kusuma, putra dari Bapak Masri dan Ibu Nurmanis, dengan Iptu Disa Aurea Annita Nurefa, S.Psi., Psikolog, putri dari Bapak Kombes Pol Fahmi Cipta Dewantara, S.I.K. dan Ibu E. Efriyanti, S.Pd.
Perkawinan ini bukan sekadar pertemuan dua orang yang saling mencintai. Ia merupakan akad yang agung, mītsāqan ghalīẓā, janji kukuh yang disaksikan oleh keluarga, masyarakat, negara, dan terutama oleh Allah Swt.
Kepada kedua mempelai, izinkan kami menyampaikan tiga pesan penting: pesan langit, pesan bangsa dan negara, serta pesan keluarga.
Pesan Langit
Pesan pertama adalah pesan langit. Perkawinan bukan hanya urusan sosial dan budaya, melainkan bagian dari perintah Allah dan ibadah yang harus dipertanggungjawabkan.
Allah Swt. berfirman dalam Surah an-Nisā’ ayat 1:
«“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan.”»
Ayat tersebut menggunakan kata tasā’alūna, yang mengingatkan bahwa manusia hidup dengan saling membutuhkan, saling meminta, saling memberi, dan saling bertanggung jawab. Suami membutuhkan istri dan istri membutuhkan suami. Tidak ada yang lebih tinggi dalam martabat kemanusiaannya dan tidak ada yang boleh merasa paling berkuasa.
Iptu Febri dan Iptu Disa hendaknya membangun rumah tangga sebagai dua pribadi yang saling melengkapi. Ketika salah seorang sedang lemah, yang lain menguatkan. Ketika seorang menghadapi masalah, pasangannya menjadi tempat kembali. Ketika terjadi perbedaan, keduanya tidak berlomba untuk menang, tetapi bersama-sama mencari jalan terbaik.
Perkawinan bukanlah upaya mencari pasangan yang tidak mempunyai kekurangan. Perkawinan merupakan kesediaan menerima, memahami, dan menyempurnakan kekurangan masing-masing dengan cinta dan kesabaran.
Pesan langit yang kedua terdapat dalam Surah ar-Rūm ayat 21:
«“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”»
Allah menyebut tiga fondasi rumah tangga: sakinah, mawaddah, dan raḥmah.
Sakinah berarti ketenteraman. Rumah harus menjadi tempat yang menenangkan setelah suami dan istri menghadapi beratnya tugas serta tanggung jawab di luar. Jangan sampai rumah berubah menjadi tempat yang menambah tekanan. Jadikanlah rumah sebagai ruang yang aman untuk berbicara, didengar, diterima, dan dikuatkan.
Mawaddah adalah cinta yang diwujudkan dalam perhatian dan tindakan. Cinta bukan hanya diucapkan, tetapi diperlihatkan melalui kesetiaan, penghargaan, komunikasi, serta kesediaan melayani dan berkorban.
Adapun raḥmah adalah kasih sayang yang bertahan ketika usia bertambah, keadaan berubah, kesehatan menurun, dan kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Jika mawaddah membuat seseorang mencintai kelebihan pasangannya, maka raḥmah membuatnya tetap menjaga dan merawat ketika berhadapan dengan kekurangan.
Sebagai dua anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, ananda berdua memahami arti disiplin, pengabdian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Namun, ingatlah bahwa kesetiaan kepada tugas harus berjalan beriringan dengan kesetiaan kepada keluarga. Jangan sampai berhasil menjaga keamanan masyarakat, tetapi lupa menjaga ketenteraman rumah sendiri.
Pangkat dan jabatan berlaku di tempat tugas. Di dalam rumah tangga, yang hadir adalah seorang suami dan seorang istri yang saling mencintai, menghormati, membantu, dan bermusyawarah.
Pesan Bangsa dan Negara
Pesan kedua adalah pesan bangsa dan negara. Perkawinan tidak hanya membentuk hubungan pribadi, tetapi melahirkan unit terkecil yang menentukan kekuatan masyarakat dan masa depan bangsa.
Negara yang kuat lahir dari keluarga yang kuat. Sebaliknya, apabila keluarga kehilangan fungsi pendidikan, perlindungan, kasih sayang, dan pembinaan moral, masyarakat akan mudah mengalami keretakan.
Keluarga pertama-tama mempunyai fungsi religius. Rumah tangga harus menjadi tempat tumbuhnya iman, ibadah, rasa syukur, dan akhlak. Suami dan istri tidak hanya saling mengingatkan tentang kebutuhan dunia, tetapi juga saling menuntun menuju keridaan Allah. Bangunlah rumah yang dihidupkan oleh salat, doa, bacaan Al-Qur’an, kejujuran, dan rezeki yang halal.
Keluarga juga mempunyai fungsi ekonomi. Rezeki harus dicari dengan cara yang halal, dikelola secara terbuka, dan digunakan secara bertanggung jawab. Jangan biarkan persoalan keuangan menjadi sumber hilangnya kepercayaan. Keterbukaan, perencanaan, kesederhanaan, dan rasa cukup merupakan benteng penting bagi ketenteraman rumah tangga.
Fungsi berikutnya adalah pendidikan. Ayah dan ibu merupakan guru pertama bagi anak-anaknya. Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang disaksikannya setiap hari. Jika orang tua jujur, disiplin, saling menghormati, dan bertanggung jawab, nilai-nilai tersebut akan hidup dalam diri anak.
Keluarga juga menjalankan fungsi sosial budaya. Setiap keluarga membawa adat, bahasa, kebiasaan, dan nilai yang perlu dirawat. Perkawinan ini mempertemukan Jawa Barat dan Sumatera Barat. Perbedaan tersebut bukan jarak yang memisahkan, melainkan kekayaan yang memperluas keluarga.
Selanjutnya adalah fungsi perlindungan. Suami dan istri harus saling memberikan rasa aman secara fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Tidak boleh ada kekerasan, penghinaan, atau tindakan yang merendahkan martabat pasangan. Rumah harus menjadi tempat setiap anggota keluarga merasa terlindungi.
Keluarga juga mempunyai fungsi cinta kasih. Kesibukan, pangkat, dan tuntutan pekerjaan tidak boleh menghilangkan kelembutan. Sediakan waktu untuk berbicara, mendengar, berterima kasih, meminta maaf, dan menyatakan kasih sayang. Banyak rumah tangga tidak kekurangan harta, tetapi kekurangan perhatian.
Keluarga pun mengemban fungsi reproduksi dan keberlanjutan generasi. Anak merupakan amanah, bukan sekadar penerus nama keluarga. Mereka harus dipersiapkan menjadi generasi yang sehat, beriman, berilmu, berakhlak, mencintai bangsa, dan bermanfaat bagi kemanusiaan.
Kepada kedua mempelai yang sama-sama Bhayangkara, jadikan rumah tangga sebagai teladan bahwa pengabdian kepada negara dimulai dari pengabdian kepada keluarga. Integritas dalam tugas harus berakar pada integritas di rumah. Polisi yang kuat bukan hanya yang tegas menjalankan hukum, tetapi juga yang mampu menjadi pasangan penuh kasih dan orang tua yang dapat diteladani.
Pesan Keluarga
Pesan ketiga adalah pesan keluarga. Alhamdulillah, perkawinan ini mempertemukan dua keluarga besar dan dua kebudayaan yang kaya nilai: Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Dalam kehidupan berbangsa, kita dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda, tetapi tetap satu. Dalam rumah tangga pun demikian. Suami dan istri berasal dari keluarga, kebiasaan, pengalaman, serta lingkungan budaya yang mungkin berbeda. Akan tetapi, setelah akad nikah, keduanya dipersatukan oleh satu ikatan, satu tanggung jawab, satu kehormatan, dan satu tujuan hidup.
Perbedaan tidak boleh menjadi jarak, tetapi harus menjadi kekayaan. Perkawinan bukan proses menghilangkan identitas masing-masing, melainkan mempertemukan dua identitas dalam satu keluarga baru. Tidak perlu mempertentangkan mana adat yang lebih baik, sebab setiap kebudayaan mempunyai nilai luhur yang dapat saling melengkapi.
Budaya Minangkabau membawa semangat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, musyawarah, tanggung jawab keluarga, dan penghormatan kepada hubungan kekerabatan. Budaya Sunda membawa kelembutan, kesantunan, keramahan, dan semangat saling mencerdaskan, mengasihi, serta membimbing.
Apabila nilai-nilai luhur kedua kebudayaan tersebut dipertemukan, insyaallah akan lahir keluarga yang santun, religius, terbuka, tangguh, dan bertanggung jawab.
Berat Dipikul Ringan Dijinjing
Masyarakat Minangkabau mempunyai ungkapan:
«“Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”»
Yang berat sama-sama dipikul, yang ringan sama-sama dijinjing. Inilah hakikat kehidupan berkeluarga. Kebahagiaan tidak hanya dinikmati sendiri dan kesulitan tidak boleh dipikul seorang diri. Suami dan istri harus menjadi teman seperjalanan yang saling membantu dalam keadaan lapang maupun sempit.
Dalam rumah tangga, jangan ada seorang yang merasa paling berjasa dan jangan ada pula yang merasa dibiarkan berjuang sendirian. Tugas rumah, pekerjaan, pendidikan anak, pengelolaan ekonomi, pelayanan kepada orang tua, dan penyelesaian persoalan harus dipikul bersama sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing.
Pepatah Minangkabau juga mengajarkan:
«“Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun.”»
Ke bukit sama-sama mendaki, ke lembah sama-sama menurun. Artinya, perjalanan rumah tangga harus dilalui bersama. Ketika karier sedang naik dan kehidupan dipenuhi keberhasilan, jangan meninggalkan pasangan. Ketika keadaan menurun dan ujian datang, jangan pula saling menyalahkan.
Suami dan istri harus tetap berjalan berdampingan, baik ketika memperoleh promosi maupun ketika menghadapi kesulitan, ketika sehat maupun sakit, dan ketika rezeki lapang maupun terbatas. Jangan hanya bersedia menikmati keberhasilan pasangan, tetapi enggan mendampinginya ketika menghadapi kesulitan.
Seia Sekata dalam Musyawarah
Ada pula ungkapan Minangkabau:
«“Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.”»
Ungkapan tersebut menggambarkan persatuan yang kuat, seia sekata, dan kompak dalam menghadapi persoalan. Seia sekata bukan berarti suami dan istri harus selalu mempunyai pendapat yang sama. Perbedaan tetap dapat terjadi, tetapi perbedaan itu harus diselesaikan melalui musyawarah, bukan melalui pertengkaran dan tindakan saling menjatuhkan.
Kekompakan suami istri sangat penting dalam mendidik anak, mengelola ekonomi, menjaga hubungan dengan keluarga besar, dan mengambil keputusan. Jangan sampai keputusan ayah dibatalkan ibu di hadapan anak atau keputusan ibu direndahkan ayah di hadapan keluarga. Bermusyawarahlah terlebih dahulu, kemudian tampilkan kesatuan sikap.
Keluarga Minangkabau juga mengenal prinsip:
«“Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.”»
Anak dipelihara, kemenakan dibimbing, dan masyarakat diperhatikan. Ungkapan ini menegaskan bahwa keluarga tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri. Rumah tangga harus memberikan perhatian kepada anak, keluarga besar, tetangga, dan masyarakat.
Perkawinan Iptu Febri dan Iptu Disa tidak hanya diharapkan melahirkan keluarga yang bahagia, tetapi juga keluarga yang bermanfaat. Sebagai dua Bhayangkara, ananda berdua mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keluarga sekaligus melayani masyarakat.
Silih Asah Silih Asih Silih Asuh
Dari kebudayaan Sunda terdapat falsafah:
«“Silih asah, silih asih, silih asuh.”»
Silih asah berarti saling mencerdaskan dan mengembangkan kemampuan. Suami dan istri hendaknya saling mendukung untuk terus belajar, meningkatkan pendidikan, mengembangkan karier, dan memperluas kemanfaatan. Jangan merasa terancam oleh keberhasilan pasangan. Kemajuan suami adalah kebahagiaan istri, sedangkan keberhasilan istri merupakan kehormatan suami.
Silih asih berarti saling mencintai dengan tulus. Cinta tidak cukup disimpan dalam hati, tetapi harus dinyatakan melalui perhatian, kelembutan, penghargaan, kesetiaan, dan kesediaan berkorban. Jangan merasa pasangan sudah mengetahui cinta kita sehingga cinta tidak perlu lagi diungkapkan. Perkataan yang baik dan sikap yang lembut dibutuhkan dalam setiap tahap kehidupan rumah tangga.
Silih asuh berarti saling menjaga, membimbing, dan mengingatkan. Suami dan istri sama-sama mempunyai tanggung jawab untuk menjaga pasangannya dari kesalahan. Ketika seorang melakukan kekeliruan, yang lain tidak mempermalukannya, tetapi mengingatkan dengan kasih sayang. Nasihat dalam keluarga bukan tanda kebencian, melainkan bukti kepedulian.
Dalam khazanah Sunda juga dikenal ungkapan:
«“Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak.”»
Di air menjadi satu lubuk, di darat menjadi satu hamparan. Ungkapan ini menggambarkan persatuan, kebersamaan, dan kesediaan hidup dalam satu tujuan. Setelah menikah, suami dan istri tidak lagi berjalan dengan kepentingan masing-masing. Mereka menjadi satu tim yang menyusun masa depan bersama.
Kesatuan tersebut tidak menghilangkan kepribadian dan profesi masing-masing. Iptu Febri tetap mempunyai tanggung jawab dan bidang pengabdiannya, demikian pula Iptu Disa. Namun, seluruh tugas dan pengabdian tersebut harus dipertemukan dalam satu tujuan: menghadirkan keluarga yang tenteram, berintegritas, dan bermanfaat bagi sesama.
Rumah Bukan Tempat Persaingan
Budaya Sunda juga mengingatkan:
«“Ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian.”»
Jangan saling berebut tempat duduk dan jangan saling mendahului untuk menguasai tempat mengambil air. Maknanya, kehidupan bersama tidak boleh dipenuhi persaingan untuk memperoleh kedudukan, pengaruh, dan pengakuan.
Pesan ini sangat relevan bagi pasangan yang sama-sama mempunyai profesi, pangkat, dan karier. Jangan menjadikan keberhasilan pasangan sebagai ancaman. Jangan pula membawa persaingan jabatan ke dalam rumah tangga. Rumah bukan gelanggang untuk menentukan siapa yang lebih tinggi, melainkan tempat suami dan istri saling menopang.
Keluarga juga harus dibangun dengan semangat someah hade ka semah: ramah, santun, terbuka, dan menghormati orang lain. Rumah tangga yang baik bukan hanya memberikan ketenteraman kepada penghuninya, tetapi juga menghadirkan keramahan bagi orang tua, saudara, tetangga, dan tamu yang datang.
Pertemuan budaya Minangkabau dan Sunda dalam perkawinan ini mengandung pesan yang indah. Minangkabau mengajarkan kebersamaan melalui barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Sunda mengajarkan kasih dan pendidikan melalui silih asah, silih asih, silih asuh. Keduanya bertemu dalam nilai yang sama: saling menolong, saling mencintai, saling menjaga, dan saling memuliakan.
Dua Keluarga Menjadi Keluarga Kita
Perkawinan ini tidak hanya menyatukan Iptu dr. Febri Indra Kusuma dan Iptu Disa Aurea Annita Nurefa, S.Psi., Psikolog. Perkawinan ini juga menyatukan keluarga Bapak Masri dan Ibu Nurmanis dengan keluarga Bapak Kombes Pol Fahmi Cipta Dewantara, S.I.K. dan Ibu E. Efriyanti, S.Pd.
Sejak hari ini, kebahagiaan satu keluarga menjadi kebahagiaan keluarga lainnya. Kesulitan salah satunya menjadi tanggung jawab bersama untuk diringankan. Jangan ada pembatas yang kaku antara “keluargaku” dan “keluargamu”. Setelah akad, semuanya menjadi keluarga kita.
Hormatilah kedua orang tua tanpa membeda-bedakan. Berikan perhatian yang adil kepada kedua keluarga. Jangan sampai cinta kepada pasangan menjauhkan seseorang dari orang tuanya. Sebaliknya, jangan pula membiarkan campur tangan keluarga besar merusak kemandirian dan ketenteraman rumah tangga.
Budaya bukan hanya pakaian adat, bahasa, makanan, atau tata cara upacara. Budaya adalah nilai yang menghubungkan manusia dengan leluhur, keluarga, masyarakat, dan generasi sesudahnya. Apabila budaya dipelihara dengan iman dan akhlak, ia menjadi ikatan kebaikan yang tidak hanya bertahan di dunia, tetapi diharapkan berlanjut hingga akhirat.
Karena itu, bangunlah keluarga dengan semangat Minangkabau dan Sunda: yang berat dipikul bersama, yang ringan dijinjing bersama; saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing; berbeda latar budaya, tetapi bersatu dalam iman, cinta, tanggung jawab, dan pengabdian.
Dua Bhayangkara Satu Rumah Pengabdian
Iptu dr. Febri Indra Kusuma dan Iptu Disa Aurea Annita Nurefa, S.Psi., Psikolog, ananda berdua sama-sama mengemban tugas sebagai Bhayangkara. Jagalah agar profesi yang sama menjadi kekuatan, bukan sumber persaingan dalam rumah tangga.
Saling pahamilah beratnya tugas masing-masing. Ketika salah seorang pulang dalam keadaan letih, sambutlah dengan ketenangan. Ketika seorang menghadapi persoalan pekerjaan, dengarkanlah tanpa segera menghakimi. Ketika salah seorang memperoleh keberhasilan, rayakanlah sebagai keberhasilan bersama.
Jangan membawa struktur komando ke dalam hubungan suami istri. Rumah tangga tidak dibangun dengan perintah sepihak, tetapi dengan musyawarah. Kewibawaan seorang suami tumbuh dari tanggung jawab dan kasih sayangnya. Kemuliaan seorang istri terpancar dari kecerdasan, kesetiaan, dan kebijaksanaannya. Keduanya adalah pasangan yang saling menguatkan, bukan atasan dan bawahan.
Bila terjadi perbedaan, jangan biarkan emosi mengambil alih akal sehat. Rendahkan suara, tinggikan penghormatan, dan besarkan ruang untuk saling memaafkan. Jangan membicarakan kelemahan pasangan di hadapan orang lain. Jagalah kehormatan pasangan sebagaimana menjaga kehormatan diri sendiri.
Sebagai dua Bhayangkara, ananda berdua telah terbiasa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, ingatlah bahwa rumah tangga juga membutuhkan rasa aman. Suami harus merasa aman menyampaikan kegelisahannya kepada istri, dan istri harus merasa aman menyampaikan perasaannya kepada suami. Keamanan emosional itulah yang akan menjaga kedekatan ketika kesibukan pekerjaan semakin berat.
Pengabdian kepada negara tidak boleh menjauhkan ananda dari keluarga. Sebaliknya, ketenteraman keluarga harus menjadi sumber kekuatan untuk menjalankan tugas negara dengan jujur, profesional, dan berintegritas.
Penutup dan Doa
Ananda Iptu Febri dan Iptu Disa, bangunlah rumah tangga dengan fondasi iman, tiang tanggung jawab, dinding kesetiaan, jendela komunikasi, dan atap kasih sayang.
Jadikan perkawinan ini sebagai jalan ibadah. Dalam kebahagiaan, bersyukurlah. Dalam kesulitan, bersabarlah. Dalam perbedaan, bermusyawarahlah. Dalam kesalahan, saling memaafkanlah. Dalam setiap keberhasilan, jangan lupa merendahkan hati di hadapan Allah.
Jadilah pasangan yang barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Jadilah suami istri yang silih asah, silih asih, silih asuh. Berjalanlah bersama ketika mendaki bukit keberhasilan dan tetaplah bergandengan ketika menuruni lembah ujian.
Semoga Allah Swt. menjadikan ananda berdua pasangan yang saling menenteramkan, saling menjaga, saling mencintai, dan saling mengantarkan menuju rida-Nya.
Bārakallāhu lakumā wa bāraka ‘alaikumā wa jama‘a bainakumā fī khair.
Semoga Allah memberkahi ananda berdua, melimpahkan keberkahan atas kehidupan rumah tangga ananda, dan mempersatukan ananda dalam segala kebaikan.
Semoga keluarga yang dibangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa raḥmah; memperoleh keturunan yang sehat, saleh dan salehah; dilapangkan rezekinya; dimudahkan pengabdiannya; dijauhkan dari perselisihan; serta menjadi keluarga Bhayangkara yang membawa kedamaian bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

