![]() |
Oleh: Ririe Aiko
Penulis dan Pegiat Literasi
“Fiksi itu mengajak imajinasi masuk ke dalam possible world, sebuah dunia yang tidak ada di sini.”
Kalimat tersebut saya dengar dari Karlina Supelli, filsuf dan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dalam sebuah cuplikan diskusi yang saya temukan di media sosial. Pernyataan tentang possible world itu menarik perhatian saya, terutama karena fiksi bisa memberi ruang bagi imajinasi untuk menjelajahi dunia yang mungkin tidak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berawal dari dunia fiksi, imajinasi dapat berkembang lebih jauh dan membantu kita memahami dunia nyata yang begitu kompleks dan carut-marut.
Sebagai pegiat literasi di kalangan pelajar yang mayoritas merupakan Generasi Alpha, saya semakin menyadari betapa dekatnya dunia mereka dengan imajinasi. Kardus bisa menjadi rumah, sapu menjelma kuda, dan benda sederhana dapat berubah menjadi tokoh dengan kekuatan super. Imajinasi mereka masih luas, bahkan terkadang liar, belum sepenuhnya dibatasi oleh kategori dan batas-batas logika yang lazim diterapkan dalam dunia orang dewasa.
Justru di situlah saya melihat fiksi memiliki posisi penting dalam pengenalan literasi kepada Generasi Alpha. Fiksi memberi ruang bagi anak untuk memasuki dunia yang belum tentu mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat bertemu tokoh yang belum pernah dikenal, menjelajahi tempat yang belum pernah didatangi, menghadapi konflik yang mungkin belum pernah dialami, bahkan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak terpikirkan.
Dalam fiksi, imajinasi tidak harus selalu tunduk pada kenyataan. Imajinasi dan fiksi justru berjalan berdampingan, bukan sebagai lawan. Di sanalah kebebasan berpikir dan kreativitas menemukan ruangnya.
Meski demikian, masih ada anggapan bahwa literasi harus dimulai dari sesuatu yang lebih formal, seperti membaca artikel, memahami informasi, menulis laporan, membuat rangkuman, atau menghasilkan tulisan yang bersifat faktual.
Namun, bagi Generasi Alpha, pendekatan seperti ini belum tentu relevan. Mereka mungkin tidak langsung tertarik membaca artikel panjang atau tulisan faktual yang sarat informasi. Jika diperkenalkan dengan cara yang terlalu formal, literasi bisa terasa kaku, asing, dan jauh dari dunia mereka.
Karena itu, bagi saya, memantik semangat literasi pada Generasi Alpha menjadi tantangan tersendiri. Sebagai pegiat literasi, saya perlu beradaptasi dengan kebiasaan dan dunia yang dekat dengan mereka, agar literasi tidak terasa seperti kewajiban belajar, tetapi hadir sebagai aktivitas yang menyenangkan dan membuat mereka ingin terus mengeksplorasi.
Saya melihat, literasi tidak selalu harus dimulai dengan memaksa anak memahami bentuk tulisan yang kita anggap paling penting. Kadang, literasi justru dimulai dari sesuatu yang membuat mereka penasaran, ingin membaca, lalu terdorong untuk menulis.
Karena itu, dalam mengenalkan literasi, saya sering mengajak anak-anak masuk terlebih dahulu ke dunia fiksi. Saya pun ikut masuk ke dalam dunia imajinasi mereka, membangun cerita, menghadirkan tokoh dan konflik, sekaligus mengajak mereka merasakan emosi yang ada di dalamnya. Bagi saya, ini bukan sekadar cara membuat kegiatan literasi menjadi menyenangkan. Di dalam cerita, anak sedang melakukan perjalanan intelektual: membayangkan situasi, memahami tokoh, mengikuti konflik, mempertimbangkan kemungkinan, merasakan emosi, lalu kembali ke dunia nyata dengan perspektif yang mungkin sedikit berubah.
Karena itu, fiksi bukan sekadar cerita khayalan. Ia adalah ruang tempat imajinasi, nalar, dan emosi bertemu. Dari ruang itulah, seorang anak dapat belajar memahami orang lain, membaca kehidupan, dan perlahan menemukan keberanian untuk menciptakan dunianya sendiri melalui tulisan.

