![]() |
Oleh: Duski Samad
Catatan perjalanan di Bandung, 28 September 2026
Mobil bertambah. Motor bertambah. Orang bertambah. Wilayah kota tetap, sementara jalan tidak banyak berubah. Lalu, siapa yang harus mengalah?
Di tengah kemacetan Bandung, saya berbincang dengan Ismail Yusuf, sopir GoCar asli Bandung yang pernah kuliah di Unisba, tetapi tidak menyelesaikan studinya. Ia satu di antara anak bangsa yang cerdas. Cara Ismail memahami hidup cukup sederhana: terus bekerja, tanpa membiarkan kesulitan memadamkan harapan.
“Mengeluh, kalau terus ditambah, akan menumpuk. Akhirnya menjadi penyakit,” katanya. Lalu ia menambahkan, “Jalani saja. Keluhan bukan solusi. Maju saja, pasti ada solusi.”
Ismail menyebut rata-rata penghasilan sopir GoCar sekitar Rp300 ribu sehari, sementara kebutuhan hidup mencapai Rp200 ribu sehari. Selisih Rp100 ribu itu pun belum tentu menjadi tabungan. Ada biaya kendaraan, hari ketika penumpang sepi, serta kebutuhan keluarga yang tidak dapat ditunda. Bagaimana orang hendak menabung jika sebagian besar penghasilannya habis untuk bertahan hidup hari ini?
Percakapan itu membuat saya memandang kemacetan dengan cara lain. Kendaraan di jalan bukan sekadar deretan mesin yang memenuhi ruang kota. Di dalamnya ada pengemudi yang mencari nafkah, penumpang yang harus tiba di tujuan, dan keluarga yang menunggu di rumah. Pengemudi, penyewa, pemilik kendaraan, serta penumpang saling membutuhkan. Namun, ketika jumlah kendaraan terus meningkat sementara ruang jalan terbatas, mereka semua kehilangan waktu dan tenaga.
Kota dapat terasa semakin kejam bagi orang lemah dan miskin. Orang yang punya cukup uang mungkin bisa memilih tempat tinggal dekat pekerjaan, mengatur waktu, atau membayar perjalanan yang lebih nyaman. Mereka yang hidup dari penghasilan harian sering tidak punya pilihan serupa. Waktu yang habis di jalan dapat berarti kesempatan bekerja yang hilang; satu hari sakit dapat berarti tidak ada pemasukan. Kemacetan akhirnya menjadi beban hidup, bukan hanya persoalan lalu lintas.
Karena itu, keteguhan Ismail patut dihargai, tetapi warga tidak bisa diminta tabah seorang diri. Pemerintah kota dan provinsi perlu menyediakan angkutan umum yang nyaman, menghubungkan rute dengan baik, menata parkir dan titik naik-turun penumpang, serta memberi ruang aman bagi pejalan kaki. Jalan, permukiman, tempat kerja, dan layanan transportasi harus dipikirkan sebagai satu persoalan kota.
Pejabat tidak menjadi hebat hanya karena pandai mengatakan, “Nanti saya pikirkan dulu.” Berpikir memang perlu, tetapi jabatan menuntut keputusan dan pelaksanaan. KDM boleh jadi memiliki gagasan; ukuran kepemimpinannya terletak pada tindakan yang konsisten dan hasil yang dirasakan warga. Jangan sampai program berjalan seperti ungkapan Jaka Sembung: satu kebijakan ada, tetapi tidak tersambung dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Ismail memilih terus bergerak untuk menghidupi keluarganya. Kota pun harus bergerak memberi warganya kesempatan hidup yang lebih layak. Sebab solusi kemacetan baru berarti apabila orang yang paling berat menanggungnya juga merasakan perubahan. GoCar@kiaracondongto pattiukur

