![]() |
Oleh: Duski Samad
Catatan dialog dengan perantau Minang di Bandung, Jakarta, Pekanbaru, Batam, dan Papua, 2026
Sepanjang tahun 2026, saya bertemu dan berdialog dengan perantau Minang di Bandung, Jakarta, Pekanbaru, Batam, dan Papua. Percakapan dengan mereka menghadirkan pertanyaan yang terus berulang: bagaimana nasib tradisi merantau ketika cara orang bekerja dan berbelanja berubah begitu cepat?
Dahulu, keberhasilan perantau sering tampak dalam perjalanan sebuah usaha. Seseorang memulai dari berdagang keliling, lalu membuka kios. Kios berkembang menjadi toko, dan toko menjadi sumber penghidupan keluarga. Perdagangan pakaian, konveksi, bordir, sepatu, serta mainan anak membuka jalan bagi banyak perantau.
Sejumlah perantau senior yang saya temui di Jakarta, Bandung, dan Batam masih mampu mempertahankan usahanya. Mereka memiliki modal yang dibangun selama puluhan tahun dan, dalam beberapa keluarga, berhasil mewariskan usaha kepada anak-anaknya. Kisah mereka membanggakan. Namun, perantau muda yang baru memulai hari ini menghadapi keadaan yang berbeda.
Ketika etalase berpindah ke layar
Produk impor dengan beragam model dan harga bersaing memberi tekanan pada usaha konveksi, bordir, pakaian, alas kaki, dan mainan. Pada saat yang sama, perdagangan daring mengubah kebiasaan pembeli. Orang tidak harus datang ke toko untuk melihat barang dan membandingkan harga.
Perubahan itu dapat terasa seperti dua gelombang yang datang bersamaan bagi pedagang kecil. Meski demikian, perdagangan daring juga dapat menjadi jalan untuk memperoleh pelanggan baru. Persoalannya ialah tidak semua pelaku usaha memiliki modal, keterampilan digital, dan kemampuan produksi yang sama untuk memanfaatkan peluang tersebut. Persaingan juga harus dijaga agar berlangsung secara adil; pemerintah telah memasukkan tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki dalam pengawasan barang impor ilegal.
Karena itu, kemunduran sebuah toko tidak dapat dijelaskan oleh satu sebab. Biaya usaha, perubahan selera, persaingan harga, kemampuan memasarkan barang, dan kesiapan generasi penerus saling berkaitan.
Keberhasilan perantau memiliki banyak jalan
Perantau Minang tidak hanya berhasil melalui perdagangan. Mereka yang membekali diri dengan pendidikan tinggi, keahlian, disiplin, dan kemampuan membangun hubungan juga meniti karier di kota-kota besar. Dalam percakapan dengan sejumlah perwira tinggi TNI dan Polri, saya kembali menjumpai putra-putra Minang yang membangun pengabdian melalui jalur profesi. Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa tradisi merantau dapat bertemu dengan pendidikan dan pelayanan kepada negara.
Peran perempuan Minang pun tidak boleh luput dari perhatian. Saya bertemu dan mendengar kisah perempuan Minang yang menjadi pengusaha, pejabat, serta istri perwira tinggi TNI dan Polri. Mereka bukan sekadar pendamping keberhasilan suami. Banyak yang mengelola keluarga, membangun jaringan sosial, menjalankan usaha, dan memiliki pencapaian sendiri.
Saya teringat sebuah kesempatan ketika Gubernur IP bercanda di hadapan gubernur lain yang istrinya orang Minang. Menurut gurauannya, perempuan Minang mempunyai tiga keunggulan: pandai memasak, pandai malagak, dan pada waktunya bisa membentak. Tentu itu gurauan, bukan ukuran bagi setiap perempuan. Saya memaknainya sebagai pengakuan terhadap pribadi yang terampil, mampu membawa diri, dan berani bersuara ketika ada yang tidak beres. Perempuan Minang tidak mudah dibohongi.
Masjid sebagai jejak perantau
Warisan perantau tidak hanya berupa toko, jabatan, atau harta. Ada pula jejak spiritual dan sosial yang mereka bangun bersama.
Di kawasan Kiaracondong, Bandung, Masjid Baiturrahman dikenal oleh sebagian perantau sebagai “masjid orang Padang”. Bagi mereka, masjid menjadi tempat beribadah sekaligus ruang bertemu dan menjaga hubungan dengan sesama orang awak. Semangat membangun kehidupan bersama seperti ini juga saya jumpai dalam percakapan tentang perantau di Jakarta, Batam, dan Pekanbaru.
Jejak itu patut dijaga. Masjid dan perkumpulan perantau dapat menjadi tempat generasi senior berbagi pengalaman, sementara generasi muda membawa pengetahuan baru. Dari sana dapat tumbuh pendampingan usaha, jaringan kerja, dan bantuan bagi perantau yang sedang mengalami kesulitan.
Bekal pemuda yang akan merantau
Pemuda yang hendak merantau perlu menyiapkan diri lebih jauh daripada sekadar keberanian meninggalkan kampung. Mereka memerlukan kecakapan abad ke-21: kompetensi, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan karakter.
Kompetensi membuat seseorang memiliki keahlian yang dapat diandalkan. Kreativitas membantunya menemukan peluang ketika cara lama tidak lagi cukup. Komunikasi dan kolaborasi membuka jalan untuk belajar serta bekerja bersama orang dari beragam latar. Karakter menjaga kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab ketika tidak ada keluarga yang mengawasi dari dekat.
Bekal itu berlaku bagi calon pedagang, pekerja profesional, aparatur negara, maupun pengusaha digital. Pendidikan tinggi dapat membuka kesempatan, tetapi keterampilan perlu terus diperbarui. Anak muda Minang harus siap belajar dari kota yang ditujunya tanpa kehilangan nilai baik yang dibawanya dari kampung.
Pemerintah perlu menjaga persaingan usaha yang adil dan menyediakan pelatihan serta pembiayaan yang benar-benar dapat diakses pedagang kecil. Organisasi perantau dapat mempertemukan pengalaman generasi senior dengan kemampuan generasi muda. Keluarga pun perlu memberi ruang kepada anak-anak untuk memilih jalan keberhasilan yang mungkin berbeda dari usaha orang tuanya.
Dialog saya di lima wilayah itu tentu tidak mewakili seluruh perantau Minang. Namun, kisah-kisah yang saya dengar menunjukkan satu hal: merantau pada milenium ketiga tetap memerlukan keberanian, tetapi keberanian itu harus berjalan bersama ilmu dan kemampuan beradaptasi. Para pendahulu membuka jalan dengan kerja keras. Tugas generasi sekarang ialah merawat warisan mereka sambil membangun jalan baru yang sesuai dengan zamannya.28092026

