Type Here to Get Search Results !

Storytelling sebagai Strategi Mengenalkan Literasi kepada Pelajar

Oleh: Ririe Aiko

Penulis dan pegiat literasi

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, salah satu hiburan yang paling saya tunggu adalah majalah Bobo edisi terbaru. Begitu majalah itu sampai di tangan, saya bisa berlama-lama membaca ceritanya. Ada cerita fabel, kisah petualangan, tokoh-tokoh dengan karakter yang menarik, juga ilustrasi yang membuat saya betah membuka halaman demi halaman.

Bagi generasi saya, majalah Bobo bukan sekadar bacaan. Ia seperti teman bermain yang selalu punya cerita baru untuk dibawa pulang. Membaca Bobo menjadi salah satu hiburan yang menyenangkan kala itu, sekaligus menjadi pintu pertama yang mengenalkan anak-anak pada dunia literasi dan menumbuhkan kecintaan terhadap membaca.

Namun, dunia berubah. Teknologi mulai hadir dan perlahan menggeser kebiasaan anak dalam mencari hiburan. Era majalah anak pun mulai terasa asing bagi pelajar sekolah dasar. Hal itu wajar saja, karena mereka tumbuh dengan pilihan hiburan yang jauh lebih beragam, mulai dari game digital, video pendek, hingga berbagai konten di media sosial.

Jika dulu majalah anak seperti Bobo bisa menjadi teman untuk mengisi waktu luang, kini pelajar SD lebih akrab dengan layar dan berbagai bentuk hiburan digital. 

Perubahan inilah yang kemudian menjadi tantangan tersendiri ketika saya hadir sebagai pegiat literasi yang ingin mengenalkan kembali budaya membaca. Berbagai pertanyaan pun mulai muncul dalam pikiran saya.

Apakah generasi ini bisa tertarik pada dunia literasi? Dan bagaimana membuat pelajar sekolah dasar lebih tertarik membaca daripada bermain gawai?

Berangkat dari kegelisahan tersebut, saya mulai mencari cara mengenalkan literasi yang lebih dekat dengan dunia mereka. Saya menyadari bahwa pelajar SD memiliki karakter yang berbeda dengan pelajar SMP dan SMA. Pada jenjang yang lebih tinggi, mereka relatif lebih mudah diajak duduk, menyimak pesan yang disampaikan, kemudian merenungkan dan merefleksikannya. 

Sementara itu, anak-anak usia sekolah dasar cenderung lebih aktif, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan mudah kehilangan fokus ketika kegiatan yang diberikan terasa monoton.

Jika pendekatannya tidak menarik bagi mereka, jangan berharap mereka akan bertahan lama untuk menyimak.

Saya pun mulai berpikir untuk mencoba mengenalkan literasi dengan metode mendongeng atau yang saat ini dikenal dengan istilah storytelling. Saya mulai belajar menjadi seorang storyteller. Saya mulai membuat cerita fabel yang menarik untuk anak-anak, mempelajari bagaimana memainkan intonasi suara, ekspresi, karakter, hingga bagaimana membuat sebuah cerita terasa hidup ketika disampaikan kepada anak-anak.

Awalnya saya hanya ingin mereka mendengarkan cerita. Tetapi yang terjadi justru lebih menarik.

Anak-anak yang biasanya aktif bergerak ke sana kemari mulai duduk dan menyimak. Mereka mengikuti alur cerita, tertawa ketika ada bagian yang lucu, penasaran ketika tokohnya menghadapi masalah, bahkan ikut memberikan respons terhadap apa yang terjadi dalam cerita.

Saya kemudian menyadari bahwa storytelling bukan sekadar aktivitas untuk menghibur anak-anak. Tapi storytelling juga bisa menjadi pintu masuk menuju literasi.

Melalui cerita, anak-anak belajar mendengarkan. Mereka mengenal kosakata baru, memahami alur, mengenal karakter, mengikuti konflik, menggunakan imajinasi, sekaligus belajar memahami pesan yang ada di balik sebuah cerita.

Dan kegiatan storytelling itu tidak berhenti pada saya sebagai orang yang bercerita. Beberapa anak justru mulai tertarik untuk menjadi storyteller berikutnya.

Inilah yang menjadi salah satu visi utama saya. Ketika seorang anak ikut terinspirasi dari apa yang saya lakukan, sebenarnya ia sedang menjadi benih baru yang suatu hari dapat tumbuh dan ikut mencintai dunia literasi. 

Bagi saya, proses seperti inilah yang membuat Gerakan Literasi AI memiliki makna lebih panjang. Bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan hari ini, tetapi tentang siapa yang kelak meneruskan semangat itu di masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.