![]() |
| Program Studi Teknik Sipil Universitas Adzkia sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Nagari Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman. |
Padang Pariaman, – Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bahaya banjir yang kerap melanda wilayah pesisir terutama pascabencana hidrometeorologi November lalu, Program Studi Teknik Sipil Universitas Adzkia sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Nagari Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman.
Kegiatan ini mengusung tema "Inisiasi Kampung Siaga Banjir (Jaring Aspirasi, Survey Pemasangan Papan Duga Air & Perancangan Protokol Evakuasi Mandiri)". Bertempat di Surau setempat sebagai pusat kegiatan, pengabdian ini merupakan aksi lanjutan dari tahap pertama, di mana tim PkM sebelumnya telah mengawali program melalui penanaman vegetasi di sepanjang aliran sungai sebagai upaya mitigasi berbasis alam. Namun, berdasarkan evaluasi dan kondisi lapangan saat ini, sebagian besar pohon yang ditanam sebelumnya telah habis tertebang dan rusak. Fenomena ini menjadi alasan kuat perlunya penguatan mitigasi teknis dan sosial yang lebih cepat terukur, seperti instalasi papan duga air dan penyusunan protokol evakuasi mandiri.
Kedatangan tim PkM Universitas Adzkia yang terdiri dari dosen dan mahasiswa disambut hangat oleh pemerintah nagari setempat. Plt. Wali Nagari Tapakih, Bapak Ad Kusnandar, SE., mengapresiasi konsistensi Prodi Teknik Sipil Universitas Adzkia yang kembali hadir melanjutkan pendampingan, sementara Kaprodi Teknik Sipil, Ibu Dyla Midya Okta, ST., MT., menanggapi bahwa PkM ini dirancang sebagai program berkelanjutan untuk mewujudkan Kampung Siaga Banjir mandiri secara bertahap mulai dari survei teknis, pemasangan alat, hingga simulasi evakuasi.
"Sistem peringatan dini dan evakuasi mandiri ini adalah upaya realistis yang bisa kita lakukan bersama. Masyarakat tidak mungkin hanya berpangku tangan menunggu perbaikan fisik sungai yang membutuhkan waktu, sementara di sisi lain warga juga tidak ingin berpindah dari pemukiman tempat tinggalnya saat ini. Oleh karena itu, kesiapsiagaan adalah solusinya," tegas Ketua Tim PkM, Fahma Furqani, S.T., M.T., saat menyampaikan arahan kepada masyarakat dalam bahasa Minang.
Dalam aksi lapangan tersebut, tim mahasiswa dan dosen dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja teknis:
Tim 1 (Jaring Aspirasi): Melakukan wawancara dan menyebaran kuesioner kepada warga lokal terkait rekam jejak bencana, kerugian, papan duga air, hingga pengelolaan sampah.
Tim 2 (Survey Hidrometri): Melakukan penyusuran aliran sungai untuk menentukan titik lokasi ideal rencana pemasangan papan duga air (peilschaal), mengukur estimasi tinggi papan, hingga menentukan elevasi setiap zonasi warna indikator banjir.
Tim 3 (Evakuasi): Melakukan pemetaan dan penyusuran jalur evakuasi mandiri dari pemukiman warga menuju titik kumpul aman utama, yaitu bangunan Masjid dua lantai yang elevasinya lebih tinggi dan pengenalan Tas Siaga Banjir.
Dari hasil jaring aspirasi warga, terungkap bahwa banjir di daerah Batang Tapakih cukup sering terjadi bahkan pernah mencapai ketinggian sepinggang dewasa. Akses bantuan saat banjir kerap terisolasi karena jalan utama terendam air. Warga menyoroti pentingnya edukasi evakuasi dini mengingat masih banyak warga yang enggan mengungsi hingga akhirnya terjebak banjir, serta perlunya sarana penunjang seperti perahu karet.
Menariknya, sebagian masyarakat sudah memahami urgensi papan duga air dan mengusulkan alur sistem peringatan dini yang praktis. Salah satu warga menyarankan jika tinggi air sungai sudah mencapai indikator garis merah, penanggung jawab yang ditunjuk dapat langsung membunyikan sirine melalui microphone Surau agar seluruh warga bisa segera bersiap mengungsi.
Data dan aspirasi lapangan yang dihimpun hari ini akan langsung diolah oleh tim LPPM Universitas Adzkia sebagai rujukan teknis perancangan instrumen peringatan dini, pembuatan peta evakuasi serta dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah terakreditasi sebelum nanti diimplementasikan di tengah masyarakat Tapakih.

