![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Penguji Promosi Doktor dari Institusi Eksternal UIN Imam Bonjol
Menikmati jalan sore pada Selasa, 4 Agustus 2026, di jantung Kota Bukittinggi selalu menghadirkan pengalaman batin yang berbeda. Di usia 100 tahun Jam Gadang (1926–2026), denyut sejarah terasa masih hidup. Dari pelataran Jam Gadang, singgah di Rumah Makan Simpang Raya yang legendaris, lalu menuruni jalan menuju Taman Bung Hatta dengan latar Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang berdiri gagah, Bukittinggi seakan mengajak siapa pun berdialog dengan masa lalu.
Belakangan ini, media sosial ramai membagikan unggahan yang menyebut Bukittinggi sebagai kota terindah di Indonesia. Mungkin ada yang menganggapnya sebagai ungkapan emosional atau kebanggaan daerah. Namun, terus terang rasanya itu bukan sekadar apologi. Sulit mencari tandingan panorama Bukittinggi. Di satu sisi berdiri kokoh Gunung Marapi, di sisi lain menjulang Gunung Singgalang, sementara lembah Ngarai Sianok, udara pegunungan, dan jejak sejarah berpadu menjadi lanskap yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menenangkan jiwa.
Namun, keindahan Bukittinggi tidak berhenti pada bentang alamnya. Kota ini merupakan pusat kebangkitan Islam, pendidikan, dan kebangsaan sejak awal abad ke-20. Dari kawasan Agam dan Bukittinggi lahir gerakan pembaruan Islam, lembaga pendidikan modern, serta tokoh-tokoh yang membentuk wajah intelektual Minangkabau dan Indonesia.
Di ranah ini, para ulama dihormati dengan panggilan Inyiak. Nama-nama besar seperti Inyiak Candung, Inyiak Parabek, dan Inyiak Djambek menjadi penggerak umat yang jejak pemikirannya begitu lekat dengan Agam dan Bukittinggi. Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun karakter, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan melalui surau dan madrasah.
Semangat itu terus hidup hingga hari ini. Kampus UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, yang mengambil tafa'ul dari nama ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek, terus bergerak cepat menjadi pusat pengembangan ilmu, riset, dan pengabdian bagi kemajuan umat dan bangsa. Kehadirannya menjadi bukti bahwa tradisi keulamaan Minangkabau mampu bertransformasi menjadi kekuatan akademik yang relevan dengan zaman.
Esok hari, Rabu, 5 Agustus 2026, kampus ini kembali mencatat sejarah akademik dengan penyelenggaraan Promosi Doktor Abdul Aziz, Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Sumatera Barat. Acara tersebut diperkirakan dihadiri sekitar 1.000 peserta, dengan lebih dari 200 karangan bunga telah memenuhi lokasi. Ini bukan sekadar promosi doktor, tetapi sebuah pesta akademik yang menjadikan Majelis Taklim—institusi pendidikan umat yang paling dekat dengan masyarakat—sebagai objek kajian ilmiah. Sebuah peristiwa akademik yang patut diapresiasi karena mempertemukan tradisi keilmuan kampus dengan denyut kehidupan umat.
Di Taman Bung Hatta, saya berhenti cukup lama. Membaca untaian kata yang terukir di dinding monumen dan memandang patung Bung Hatta yang berdiri tenang di bawah rindangnya pepohonan, hati terasa sesak. Di hari-hari menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, muncul satu pertanyaan yang terus mengusik:
Mengapa negeri ini begitu sulit melahirkan kembali anak bangsa seperti Bung Hatta?
Bung Hatta bukan hanya seorang proklamator. Ia adalah perpaduan langka antara kecerdasan intelektual, kedalaman moral, dan kesederhanaan hidup.
Ia seorang pembaca yang luar biasa. Buku adalah sahabat hidupnya. Di tengah kesibukan sebagai negarawan, perpustakaan pribadi menjadi ruang kontemplasi dan sumber gagasan. Bung Hatta membuktikan bahwa pemimpin besar lahir dari budaya membaca dan berpikir.
Ia adalah simbol kejujuran. Keinginannya memiliki sepatu Bally tidak pernah diwujudkan karena enggan menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Yang tersisa hanyalah guntingan iklan sepatu itu, tetapi justru menjadi monumen integritas yang dikenang sepanjang masa.
Ia juga sangat hemat dan disiplin. Sisa uang perjalanan dinas dikembalikan kepada negara karena baginya setiap rupiah adalah amanah rakyat.
Bung Hatta dicintai rakyat bukan karena pencitraan. Ia tidak banyak berjanji, tidak gemar mencari sorotan, dan tidak mengejar popularitas. Ketenangannya justru melahirkan kewibawaan.
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah pribadi yang memadukan ilmu, integritas, kesederhanaan, keberanian, dan cinta kepada bangsa sebagaimana dicontohkan Bung Hatta.
Bukittinggi telah menunjukkan kepada kita bahwa alam yang indah melahirkan perenungan, ulama melahirkan peradaban, kampus melahirkan ilmu, dan Bung Hatta melahirkan keteladanan. Inilah warisan yang harus terus dijaga oleh generasi Indonesia.
Meninggalkan Taman Bung Hatta sore itu, saya kembali membaca prasasti yang berbunyi:
> "Meskipun Bung Hatta telah tiada, Bung Hatta akan tetap hidup dalam hati kami. Cita-cita Bung Hatta akan senantiasa menyinari perjuangan kami."
Kalimat itu bukan sekadar penghormatan kepada seorang proklamator, tetapi juga amanat agar Indonesia terus melahirkan pemimpin yang jujur, sederhana, berilmu, dan berpihak kepada rakyat.
Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Semoga semangat Bung Hatta, tradisi keulamaan Bukittinggi, dan kebangkitan pendidikan Islam terus menjadi cahaya bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat. 04082026.

