![]() |
| Penyampaian visi dan misi calon Walinagari Sikabu Lubuk Alung. |
Oleh: Duski Samad
Panelis
Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) bukan sekadar proses politik untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pilwana adalah proses mencari pemimpin yang akan memikul amanah masyarakat, menjaga persatuan nagari, serta mengarahkan pembangunan menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Dalam tradisi Minangkabau dikenal falsafah raso jo pareso. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap keputusan harus lahir dari keseimbangan antara hati, akal, dan pertimbangan moral.
Di baliak raso terkandung perasaan.
Perasaan adalah bagian dari fitrah manusia. Seseorang merasa bangga ketika didukung, senang ketika dipuji, kecewa ketika dikritik, dan sedih ketika mengalami kekalahan. Bahkan orang yang tampak kuat, pandai berbicara, berpengaruh, dan disegani sekalipun tetap memiliki perasaan yang mendalam.
Tidak jarang seseorang yang hebat berpidato di hadapan ribuan orang ternyata sangat terluka ketika mendengar satu kalimat kritik yang menyentuh harga dirinya. Ini menunjukkan bahwa di balik kemampuan intelektual dan kepemimpinan terdapat sisi kemanusiaan yang membutuhkan pengendalian diri.
Dalam Pilwana, perasaan sering menjadi ujian yang berat. Ada yang tersinggung karena tidak dipilih, kecewa karena tidak memperoleh dukungan keluarga, atau marah karena hasil pemilihan tidak sesuai harapan.
Karena itu perasaan harus ditimbang oleh raso.
Raso akan bertanya:
"Apakah yang saya perjuangkan benar-benar untuk kemajuan nagari atau hanya untuk kepentingan diri?"
"Apakah kekecewaan ini karena amanah yang hilang atau karena ambisi yang tidak tercapai?"
Kemudian raso menimbang akal, sehingga setiap langkah didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar dorongan emosi.
Selanjutnya akal mengendalikan nafsu, sebab tidak sedikit konflik sosial dan politik lahir ketika nafsu kekuasaan lebih dominan daripada niat pengabdian.
Pilwana Memerlukan Mental dan Jiwa Ketulusan
Menjadi wali nagari memerlukan kesiapan mental, spiritual, dan jiwa yang tulus. Jabatan bukan kemuliaan yang harus dikejar dengan segala cara, tetapi amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.
Karena itu para calon pemimpin perlu menanamkan prinsip:
"Bila amanah dicari, apalagi dibeli, maka ia akan menjadi beban. Tetapi bila amanah diberikan karena kepercayaan masyarakat, maka Allah akan menolongnya."
Rasulullah SAW bersabda:
"Jika jabatan itu diberikan karena engkau memintanya, maka engkau akan dibebani olehnya. Tetapi jika diberikan tanpa engkau memintanya, maka engkau akan ditolong dalam menjalankannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal ambisi, melainkan amanah dan pengabdian.
Kuatnya "Tunjuk" dalam Sistem Sosial Minangkabau
Dalam kehidupan sosial Minangkabau terdapat satu fenomena yang dikenal dengan istilah tunjuk.
Tunjuk bukan sekadar penunjukan formal, tetapi isyarat sosial yang lahir dari penilaian kolektif masyarakat terhadap seseorang yang dianggap layak menerima amanah.
Ketika tunjuk mulai mengarah kepada seseorang, biasanya akan muncul berbagai tanda dan peristiwa yang mengiringinya. Ada yang mendukung, ada yang menguji, ada yang memuji, bahkan ada yang menentang. Semua itu merupakan ujian terhadap kesiapan seseorang memikul amanah.
Sering kali seseorang yang tidak terlalu mengejar jabatan justru didatangi masyarakat untuk diminta memimpin. Sebaliknya, ada yang sangat berambisi mengejar jabatan tetapi belum memperoleh kepercayaan masyarakat.
Orang tua-tua dahulu mengingatkan:
"Jangan sibuk mencari amanah, tetapi sibukkanlah diri menjadi orang yang pantas menerima amanah."
Apabila tunjuk masyarakat telah mengarah kepada seseorang, maka yang diperlukan bukan kesombongan, melainkan kerendahan hati dan kesiapan untuk melayani.
Prinsip Adalah Landasan Utama
Dalam Pilwana, yang paling penting bukanlah popularitas, kekayaan, atau banyaknya pendukung, melainkan prinsip.
Prinsip adalah fondasi kehidupan.
Prinsiplah yang menentukan arah berpikir, cara bersikap, dan keputusan yang diambil ketika menghadapi godaan kekuasaan.
Orang yang memiliki prinsip akan tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang.
Orang yang memiliki prinsip akan tetap menjaga amanah meskipun tidak diawasi.
Orang yang memiliki prinsip akan mendahulukan kepentingan nagari daripada kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya.
Karena itu sebelum memilih pemimpin atau mencalonkan diri sebagai pemimpin, pertanyaan yang paling penting bukanlah:
"Apakah saya akan menang?"
Tetapi:
"Prinsip apa yang akan menjadi dasar saya memimpin?"
Sebab prinsip adalah akar kehidupan.
Dari prinsip lahir cara berpikir.
Dari cara berpikir lahir keputusan.
Dari keputusan lahir tindakan.
Dari tindakan lahir masa depan nagari.
Penutup
Deklarasi damai ini hendaknya menjadi komitmen bersama bahwa Pilwana Sikabu bukan arena permusuhan, melainkan arena pengabdian.
Siapa pun yang terpilih adalah putra terbaik nagari yang harus didukung demi kemajuan bersama.
Dan siapa pun yang belum memperoleh amanah tetap memiliki kewajiban untuk menjaga persatuan, kehormatan, dan masa depan nagari.
Karena itu marilah kita pegang teguh prinsip:
Perasaan ditimbang oleh raso, raso ditimbang oleh akal, akal mengendalikan nafsu, dan semuanya dibimbing oleh tauhid.
Pilwana tidak hanya melahirkan pemenang, tetapi melahirkan pemimpin yang amanah, masyarakat yang dewasa, dan nagari yang damai, maju, serta berkeberkahan.n.@sikabu23062026

