Type Here to Get Search Results !

Fadly Amran dan Manhaj Perti: (Antara Takdir Sejarah, Nasab Keulamaan, dan Komitmen Kebangsaan)

Oleh: Duski Samad

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat PERTI

Dalam perjalanan sejarah organisasi Islam di Sumatera Barat, hubungan antara tokoh dan organisasi sering kali tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses panjang, interaksi sosial, kedekatan nilai, dan bahkan terkadang melalui jejak sejarah keluarga yang saling bertaut.

Demikian pula hubungan antara Fadly Amran dengan keluarga besar PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Hubungan tersebut bukan semata hubungan politik atau organisatoris yang lahir karena momentum tertentu, melainkan memiliki akar historis, kultural, dan spiritual yang cukup panjang.

Sejak masih aktif dalam organisasi kepemudaan, Fadly Amran telah menjalin hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh dan kader PERTI. Ketika terpilih sebagai Ketua KNPI Sumatera Barat, salah satu kekuatan yang memberikan dukungan moral dan organisatoris adalah jaringan pemuda Islam yang berasal dari lingkungan Tarbiyah Islamiyah.

Hubungan tersebut berlanjut ketika beliau dipercaya menjadi Ketua Gebu Minang. Pada masa itu, dukungan dan kepercayaan dari almarhum H. Boy Lestari Datuk Palindih menjadi bagian penting dalam perjalanan kepemimpinannya. Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa tokoh-tokoh PERTI melihat adanya kesamaan visi dalam membangun masyarakat Minangkabau yang religius, maju, dan berkarakter.

Kedekatan itu semakin nyata ketika Fadly Amran maju dalam Pemilihan Wali Kota Padang tahun 2024. Saat itu Ketua PERTI Kota Padang, Prof. Salmadanis, meminta beliau menjadi Pembina PERTI Kota Padang. Selanjutnya dalam Musyawarah Daerah PERTI Sumatera Barat tahun 2025, beliau kembali diminta menjadi Pembina PERTI Provinsi Sumatera Barat.

Bagi warga dan jamaah PERTI, penghormatan kepada pemimpin bukanlah sesuatu yang asing. Dalam tradisi Tarbiyah Islamiyah, terdapat perpaduan harmonis antara adab kepada guru, ketaatan kepada ulama, penghormatan kepada pemimpin, dan kepatuhan kepada aturan organisasi selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Prinsip tersebut berlandaskan firman Allah SWT: artinya..."Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kamu." (QS. An-Nisā': 59)

Karena itu, jamaah PERTI dikenal sebagai jamaah yang taat kepada agama, hormat kepada ulama, patuh kepada aturan organisasi, dan mendukung pemimpin yang bekerja untuk kemaslahatan umat. Ketaatan tersebut bukanlah ketaatan buta, melainkan ketaatan yang dibingkai oleh nilai syariat, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Dalam tradisi surau juga dikenal prinsip:

"Taat kepada Allah adalah ibadah, taat kepada Rasul adalah sunnah, dan taat kepada pemimpin yang adil adalah bagian dari menjaga ketertiban dan kemaslahatan bersama."

Namun, di balik hubungan organisatoris tersebut terdapat dimensi sejarah yang lebih dalam. Fadly Amran memiliki hubungan nasab dengan salah seorang ulama besar Minangkabau, Syekh Abdurrahman Al-Khalidi Kumango, yang dikenal sebagai tokoh pendidikan, dakwah, dan pengembangan spiritualitas Islam di Minangkabau.

Sementara itu, ayahandanya, almarhum H. Amran Sutan Sulaiman, dikenal sebagai tokoh pendidikan dan filantropi yang mendirikan berbagai lembaga sosial-keagamaan, termasuk masjid-masjid yang mengamalkan paham Ahlussunnah wal Jamaah, sejalan dengan manhaj yang selama ini dianut dan dikembangkan oleh PERTI.

Oleh sebab itu, hubungan Fadly Amran dengan PERTI dapat dipahami dalam tiga dimensi sekaligus.

Pertama, dimensi historis, karena adanya keterkaitan dengan tradisi keulamaan Minangkabau.

Kedua, dimensi kultural, karena kedekatannya dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang menjadi ruh perjuangan Tarbiyah Islamiyah.

Ketiga, dimensi organisatoris, karena keterlibatannya dalam berbagai momentum penting dan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai pembina organisasi.

Tentu saja PERTI tetap berdiri sebagai organisasi pendidikan, dakwah, dan sosial yang independen serta tidak menjadi alat politik praktis siapa pun. Namun PERTI juga mengajarkan pentingnya menjalin kemitraan dengan para pemimpin yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, dakwah, penguatan akhlak, dan pembangunan umat.

Dalam perspektif itulah kedekatan Fadly Amran dengan manhaj PERTI lebih tepat dipahami sebagai kedekatan nilai, kedekatan sejarah, dan kedekatan perjuangan, bukan semata-mata kedekatan politik.

Sebagaimana pesan para ulama Tarbiyah Islamiyah:

"Istiqamah dalam pendidikan, dakwah, dan pelayanan umat adalah jalan panjang membangun peradaban."

Dan sebagaimana falsafah Minangkabau mengingatkan:

"Sakali aia gadang, sakali tapian barubah; namun aia nan janiah tetap menjadi sumber kehidupan."

Nilai boleh beradaptasi dengan zaman, tetapi akar keilmuan, akhlak, dan pengabdian kepada umat harus tetap dijaga. Dari sanalah lahir kepemimpinan yang berakar kuat pada tradisi, namun mampu menjawab tantangan masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.