Type Here to Get Search Results !

Emak-emak Benteng Terakhir: (Refleksi Sosial, Kepemimpinan Nagari, dan Menjaga Moral ABS-SBK di Era Digital)

Oleh: Duski Samad

Penbelajar Islam dan Keminangkabauan FTK UIN Imam Bonjol

Judul di atas diangkat dari perbincangan "Parlemen Lintas Usia" evaluasi tim tentang Pilwana serentak dan tren perubahan arah pilihan generasi terakhir.

Arah Pilihan Generasi Z terhadap Kontestasi Pemilihan Wali Nagari

Perubahan demografi pemilih telah membawa perubahan penting dalam dinamika politik nagari. Jika pada masa lalu arah pemilihan wali nagari lebih banyak ditentukan oleh pengaruh ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan tokoh masyarakat, kini hadir kekuatan baru yang semakin menentukan, yaitu Generasi Z. Kelompok pemilih yang lahir dan tumbuh di era digital ini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap demokrasi, melainkan telah menjadi salah satu penentu kemenangan dalam kontestasi pemilihan wali nagari.

Generasi Z dibesarkan dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memperoleh informasi bukan hanya dari keluarga atau lingkungan sekitar, tetapi juga dari media sosial, platform digital, dan berbagai ruang komunikasi yang berlangsung hampir tanpa batas. Mereka lebih cepat membandingkan informasi, mengkritisi pernyataan calon, dan menilai rekam jejak seseorang melalui jejak digital yang tersedia. Dalam banyak hal, mereka lebih percaya pada bukti daripada janji, lebih menyukai dialog daripada pidato, dan lebih menghargai keteladanan daripada sekadar slogan.

Karena itu, arah pilihan Generasi Z umumnya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kedekatan kekerabatan, hubungan suku, ataupun tradisi memilih sebagaimana dilakukan orang tua mereka. Mereka cenderung memberikan dukungan kepada calon yang dianggap mampu menghadirkan perubahan nyata, memiliki integritas, serta menawarkan program yang menyentuh kebutuhan generasi muda, seperti penciptaan lapangan kerja, pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi pelayanan nagari, peningkatan kualitas pendidikan, olahraga, seni budaya, serta pemberdayaan UMKM.

Di sisi lain, Generasi Z juga merupakan kelompok yang paling rentan terhadap derasnya arus informasi digital. Hoaks, disinformasi, propaganda, dan politik pencitraan dapat dengan mudah memengaruhi persepsi apabila tidak diimbangi dengan literasi digital dan pendidikan politik yang memadai. Algoritma media sosial sering kali membentuk ruang gema (echo chamber) yang memperkuat keyakinan seseorang tanpa memberikan kesempatan untuk melihat sudut pandang yang berbeda. Akibatnya, pilihan politik dapat lebih dipengaruhi oleh viralitas daripada kualitas kepemimpinan.

Dalam konteks masyarakat Minangkabau, perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Demokrasi nagari tidak boleh kehilangan akar budayanya. Nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tetap harus menjadi landasan moral dalam menentukan pemimpin. Generasi Z perlu diajak memahami bahwa memilih wali nagari bukan sekadar menggunakan hak politik, tetapi juga merupakan amanah untuk menentukan masa depan nagari. Pilihan yang didasarkan pada kejujuran, kompetensi, akhlak, dan kemaslahatan bersama akan melahirkan kepemimpinan yang membawa keberkahan bagi masyarakat.

Karena itu, para calon wali nagari juga dituntut mengubah cara berkomunikasi. Mereka tidak cukup hanya hadir dalam pertemuan-pertemuan adat atau kampanye konvensional, tetapi harus mampu membangun komunikasi yang terbuka, jujur, dan edukatif melalui berbagai media yang digunakan generasi muda. Kehadiran di ruang digital harus diisi dengan gagasan, karya, dan solusi, bukan sekadar pencitraan atau saling menyerang.

Pada akhirnya, arah pilihan Generasi Z akan sangat menentukan wajah nagari pada masa depan. Apabila mereka memilih berdasarkan pertimbangan rasional, etika, dan nilai-nilai agama serta adat, maka demokrasi nagari akan melahirkan pemimpin yang inovatif, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman. Sebaliknya, apabila pilihan hanya didasarkan pada popularitas sesaat, informasi yang menyesatkan, atau kepentingan jangka pendek, maka nagari akan kehilangan kesempatan untuk dipimpin oleh figur terbaik.

Pepatah Minangkabau mengingatkan, "kok elok nagari dek panghulu, kok rusak nagari dek panghulu." Kemajuan atau kemunduran nagari sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya. Oleh sebab itu, semakin cerdas Generasi Z menggunakan hak pilihnya, semakin besar pula peluang lahirnya wali nagari yang amanah, visioner, dan mampu membawa nagari menuju masa depan yang lebih maju tanpa kehilangan jati diri adat dan nilai-nilai Islam.

Perubahan sosial di Minangkabau hari ini memperlihatkan lahirnya tiga generasi emak-emak yang memiliki karakter, pengalaman, dan peran yang berbeda dalam keluarga maupun kehidupan nagari. Perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi kekuatan yang saling melengkapi dalam menjaga keberlanjutan adat, agama, dan pembangunan.

Emak Baby Boomer (lahir sekitar 1946–1964) adalah generasi yang tumbuh dalam budaya gotong royong, penghormatan kepada ninik mamak, alim ulama, dan adat. Mereka sering menjadi benteng terakhir penjaga moral masyarakat. Di banyak nagari, ketika malam baralek berlangsung, selama emak-emak generasi ini masih duduk mengawasi, hiburan tetap berada dalam batas kepatutan. Biduan, pemain musik, bahkan para pemuda masih merasa sungkan menampilkan hiburan yang melampaui norma adat. Kehadiran mereka bukan karena memiliki kekuasaan formal, tetapi karena wibawa moral yang dihormati masyarakat.

Emak Generasi X (lahir sekitar 1965–1980) merupakan generasi pengorbanan. Mereka membesarkan anak di tengah perubahan ekonomi dan teknologi, bekerja membantu keluarga, sekaligus merawat orang tua. Ketika anak-anak mulai mandiri dan pasangan sibuk bekerja atau memasuki masa pensiun, sebagian menghadapi tantangan baru berupa berkurangnya ruang aktualisasi diri. Karena itu, mereka membutuhkan ruang pengabdian melalui organisasi perempuan, pengajian, kegiatan sosial, UMKM, dan aktivitas kemasyarakatan agar pengalaman hidupnya tetap menjadi modal sosial bagi nagari.

Sementara itu, Emak Milenial (lahir sekitar 1981–1996) tumbuh bersama internet dan media sosial. Mereka cepat belajar, adaptif, kreatif, dan mampu membangun jejaring secara luas. Namun, sebagian juga menghadapi tantangan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa khawatir tertinggal tren, informasi, atau gaya hidup yang berkembang sangat cepat. Media sosial sering menjadi ruang pembentukan opini, gaya hidup, bahkan pilihan politik.

Realitas tersebut tampak dalam berbagai pemilihan wali nagari. Di banyak tempat, kemenangan calon wali nagari semakin dipengaruhi oleh besarnya dukungan generasi milenial dan pemilih muda. Mereka aktif memanfaatkan media sosial, membentuk opini publik, mengorganisasi dukungan, dan menggerakkan partisipasi politik. Secara demografis, jumlah mereka terus bertambah sehingga menjadi kekuatan yang sangat menentukan.

Namun demikian, kemenangan dalam pemilihan wali nagari tidak cukup hanya mengandalkan suara generasi muda ataupun dukungan generasi tua secara terpisah. Pemimpin yang berhasil biasanya adalah mereka yang mampu memadukan keduanya: memperoleh kepercayaan para orang tua sebagai penjaga adat sekaligus meraih simpati generasi muda melalui gagasan yang segar, komunikasi yang baik, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital.

Keberhasilan seorang wali nagari pada akhirnya bukan hanya diukur dari kemenangan dalam kontestasi, tetapi dari kemampuannya merajut kembali seluruh elemen masyarakat setelah pemilihan usai. Nagari akan menjadi kuat apabila kebijaksanaan generasi tua bertemu dengan kreativitas generasi muda. Sebagaimana pepatah Minangkabau mengingatkan, "Nan tuo dihormati, nan mudo disayangi." Pengalaman menjadi penuntun, sedangkan semangat pembaruan menjadi penggerak.

Di tengah perubahan tersebut, tantangan terbesar bukan sekadar pergantian generasi, melainkan bagaimana menjaga moral masyarakat di era digital. Arus informasi yang tidak mengenal batas membawa berbagai nilai baru yang tidak selalu sejalan dengan falsafah Minangkabau. Telepon genggam kini lebih banyak memengaruhi cara berpikir generasi muda dibandingkan nasihat orang tua, guru, ataupun tokoh adat.

Karena itu, meningkatnya pengaruh generasi muda dalam menentukan arah kepemimpinan nagari hendaknya tidak dipandang sebagai bergesernya nilai-nilai adat. Justru keadaan ini harus menjadi momentum untuk menginternalisasikan kembali falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Nilainya tetap, tetapi cara menyampaikannya harus mampu menjangkau ruang digital.

Nagari perlu membangun ekosistem pendidikan karakter yang melibatkan keluarga, surau, sekolah, lembaga adat, serta media digital. Petatah-petitih, sejarah ulama, kisah keteladanan, dakwah, dan nilai-nilai ABS-SBK harus hadir dalam bentuk konten yang menarik, kreatif, dan mudah diakses oleh generasi muda agar mampu bersaing dengan derasnya arus hiburan dan budaya global.

Dalam ikhtiar tersebut, ketiga generasi emak-emak memiliki peran yang saling melengkapi. Emak Baby Boomer menjaga marwah adat dan agama sebagai sumber keteladanan. Emak Generasi X menjadi jembatan yang menghubungkan nilai tradisi dengan perubahan zaman. Sementara Emak Milenial menjadi agen literasi digital yang menyebarkan nilai-nilai ABS-SBK melalui berbagai platform media sosial dengan bahasa yang dekat dengan generasinya.

Era digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai medan dakwah, pendidikan, dan pelestarian budaya. Jika dahulu nilai-nilai ABS-SBK diwariskan melalui surau, lapau, dan balai adat, maka kini nilai yang sama harus hidup pula di ruang digital. Teknologi hanyalah alat, sedangkan arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia yang berpegang teguh kepada syarak dan adat.

Sebagaimana falsafah Minangkabau mengajarkan, adat berkembang mengikuti zaman, tetapi syarak menjadi kompas yang menjaga arah perubahan. Dengan sinergi tiga generasi emak-emak, kepemimpinan wali nagari yang inklusif, serta penguatan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, nagari akan mampu melahirkan generasi yang cakap memanfaatkan teknologi, tetapi tetap kokoh dalam akidah, mulia dalam akhlak, kuat dalam adat, dan bijaksana dalam memimpin masa depan. 29062026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.