Type Here to Get Search Results !

Secupa Kritik Sastra Iran Kontemporer

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Pendekatan kritis terhadap studi topik yang berkaitan dengan sastra Persia dan budaya Iran telah berkembang dalam beberapa dekade terakhir.” — Kamran Talattof(72), Persian Language, Literature and Culture: New Leaves, Fresh Looks(2015).

Kamran Talattof, profesor kajian Persia dan Iran di University of Arizona, memegang kursi Elahé Omidyar Mir-Djalali Chair in Persian and Iranian Studies. 

Fokus penelitian akademiknya mencakup gender, ideologi, budaya, dan bahasa, dengan penekanan pada sastra klasik maupun modern Persia. 

Selain itu, Talattof, memainkan peran penting dalam memperkenalkan karya Shahrnush Parsipur ke dunia berbahasa Inggris melalui terjemahan novela Women Without Men — versi bahasa Persia زنان بدون مردان(Zanān bedūn-e mardān) — 

 yang ia kerjakan bersama Jocelyn Sharlet pada tahun 1998. 

Dalam proses alih bahasa itu, Talattof berusaha mempertahankan kesederhanaan gaya bahasa Persia asli sambil menonjolkan subteks feminis yang menentang ideologi patriarki. 

Ia melihat karya Parsipur sebagai kritik radikal terhadap konvensi misoginis di Iran, bahkan lebih berani dibanding karya sebelumnya, Touba and the Meaning of Night.

Selain itu, karya Parsipur ini secara terang menantang tabu sosial seperti keperawanan, seksualitas, dan kekerasan terhadap perempuan.

Sebagai akademisi, Talattof menulis banyak tentang bagaimana sastra perempuan Iran pasca-revolusi menjadi arena resistensi terhadap sensor dan misogini. 

Ia menekankan bahwa feminisme di Iran sering kali terjebak antara modernitas dan ideologi negara. Konsekuensinya, harus mencari bentuk ekspresi alternatif, misalnya melalui realisme magis atau simbolisme. 

Dalam karyanya, Modernity, Sexuality, and Ideology in Iran(2011), ia menyoroti pentingnya pengakuan atas seksualitas perempuan sebagai syarat modernitas sejati di Iran.

Boleh dikata, ini sebuah gagasan yang menempatkan tubuh dan pengalaman perempuan sebagai pusat wacana kebebasan.

Talattof juga memberi perhatian pada Azar Nafisi(77) dalam memoarnya: Reading Lolita in Tehran yang terbit tahun 2003. 

Memoar itu menceritakan pengalaman Nafisi mengajar sastra Barat secara rahasia di Teheran bersama mahasiswi perempuan.

Bagi Talattof, karya tersebut menjadi bagian dari tradisi sastra perempuan Iran di pengasingan. Kritik lain menyebut sebagai “exile literatur.”

Dalam buku suntingannya, Persian Language, Literature and Culture, terbit tahun 2015, ia menempatkan Nafisi sebagai figur penting yang membuka ruang baru bagi wacana feminis.

Meskipun ia mengakui adanya kontroversi seputar representasi Iran di mata Barat yang kadang dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas lokal.

Dengan demikian, Talattof bukan hanya seorang penerjemah, melainkan juga kritikus yang menempatkan karya Parsipur dan Nafisi dalam kerangka lebih luas.

Dengan kata lain, sastra perempuan Iran diagunkan sebagai arena perlawanan terhadap patriarki dan sensor negara. 

Ia menekankan bahwa feminisme Iran harus dibaca dalam konteks politik, budaya, dan diaspora, sehingga karya-karya itu tidak hanya menjadi teks sastra.

Akan tetapi, bisa dirujuk sebagai dokumen sosial yang merekam pergulatan perempuan Iran dalam mencari kebebasan.

Jika kita memperluas ulasan tentang Kamran Talattof, maka perbandingan strategi feminis Shahrnush Parsipur dan Azar Nafisi menjadi titik penting untuk memahami bagaimana sastra perempuan Iran kontemporer.

Bentuk ekspresi sastra yang bergerak di antara batas domestik dan diaspora.

Misal, Parsipur, melalui Women Without Men, menggunakan realisme magis sebagai strategi feminis yang memungkinkan perempuan keluar dari kerangka sosial yang menindas. 

Dengan menciptakan sebuah kebun(باغ - bāghi)

di Karaj sebagai ruang alternatif, ia menghadirkan dunia simbolis di mana perempuan dapat hidup tanpa dominasi laki-laki. 

Strategi ini bersifat alegoris, menantang tabu keperawanan, seksualitas, dan kekerasan, sekaligus menghindari sensor langsung dengan menyamarkan kritik dalam bentuk magis dan mistis. 

Feminisme Parsipur dengan demikian berakar pada tradisi sastra Persia, tetapi sekaligus melampaui batas-batas ideologi negara dengan bahasa simbolik yang sulit ditangkap oleh aparat sensor.

Sebaliknya, Nafisi dalam Reading Lolita in Tehran memilih strategi feminis yang lebih dokumenter dan realistis. 

Memoarnya menekankan pengalaman nyata mengajar sastra Barat secara rahasia di Teheran, menghadirkan feminisme sebagai praktik sehari-hari yang berisiko. 

Ia menyoroti bagaimana perempuan Iran bernegosiasi dengan kekuasaan melalui pendidikan dan literasi, menjadikan ruang kelas sebagai arena perlawanan. 

Strategi feminis Nafisi lebih langsung, lebih mudah diakses oleh pembaca Barat, dan karena itu membuka ruang baru bagi wacana gender di diaspora. 

Namun, Talattof mengingatkan bahwa representasi Nafisi kadang menyederhanakan kompleksitas lokal, sehingga menimbulkan kontroversi tentang bagaimana Iran digambarkan di mata dunia.

Dalam konteks ini, peran Talattof sebagai penerjemah menjadi jembatan penting. 

Dengan menerjemahkan Women Without Men ke bahasa Inggris, ia tidak hanya memperkenalkan Parsipur kepada audiens global, tetapi juga menegaskan bahwa feminisme Iran harus dibaca dalam kerangka politik, budaya, dan diaspora. 

Ia berusaha menjaga kesederhanaan bahasa asli sambil menonjolkan subteks feminis, sehingga pembaca internasional dapat merasakan radikalisme Parsipur tanpa kehilangan nuansa lokal. 

Talattof, melalui karya akademiknya, menempatkan Parsipur dan Nafisi dalam satu garis besar: dua strategi feminis yang berbeda, satu melalui alegori magis di dalam negeri, satu melalui memoar realistis di pengasingan, tetapi keduanya sama-sama menantang patriarki dan sensor negara.

Dengan demikian, Talattof bukan hanya seorang penerjemah, melainkan juga seorang kritikus yang menegaskan bahwa sastra perempuan Iran adalah arena perlawanan yang kompleks. 

Ia menunjukkan bahwa feminisme Parsipur dan Nafisi, meski berbeda strategi, sama-sama membuka jalan bagi pembacaan baru tentang perempuan Iran, baik di dalam negeri maupun di diaspora.

#coversong:

“Salame Akhar” (سلام آخر) adalah lagu karya Boghrat Sadeghan(74) yang dirilis pada tahun 2012. 

Judulnya berarti “Salam Terakhir” atau “Last Greeting” dalam bahasa Inggris, dan isi lagunya bernuansa perpisahan penuh kesedihan serta refleksi emosional. 

#credit foto cover kedua buku tersebut.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.