![]() |
Oleh: Duski Samad
MPI@series@129.
Minangkabau pernah melahirkan generasi pelopor. Dari surau-surau sederhana di kaki gunung, dari lapau-lapau kecil di nagari, dari rantau yang keras dan penuh tantangan, lahir manusia-manusia besar yang mengubah wajah bangsa. Nama-nama seperti Mohammad Hatta, Hamka, Agus Salim, Mohammad Natsir, Syahrir, Rasuna Said, hingga Buya A.R. Sutan Mansur bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol keberanian intelektual dan moral orang Minang.
Mereka bukan lahir dari kemewahan. Mereka lahir dari tradisi berpikir, tradisi membaca, tradisi merantau, dan tradisi berani berbeda.
Tetapi hari ini muncul kegelisahan besar: apakah etnis Minang masih melahirkan pelopor, atau perlahan hanya menjadi pewaris kejayaan masa lalu?
Pertanyaan ini penting karena sejarah besar tidak otomatis melahirkan masa depan besar. Banyak bangsa runtuh justru ketika terlalu lama hidup dari romantisme masa silam. Mereka bangga pada sejarah, tetapi gagal memproduksi energi baru untuk menghadapi perubahan zaman.
Gejala itu mulai terlihat dalam tubuh sosial Minangkabau hari ini.
Krisis pertama adalah krisis etos.
Dulu orang Minang dikenal tahan susah, kuat merantau, dan malu hidup bergantung. Hari ini sebagian mulai terjebak dalam zona nyaman. Ada kecenderungan ingin cepat berhasil tanpa proses panjang. Mental menerabas mulai dianggap kecerdikan. Kelicikan dianggap kelincahan sosial. Galiar, tembak kudo, bermain belakang, dan mencari jalan pintas perlahan dianggap biasa.
Padahal kecerdikan Minang sejati bukan mengakali orang, tetapi mengolah keadaan dengan ilmu dan martabat.
Dalam perspektif keagamaan, muncul pula cara berpikir pasrah yang keliru. Takdir dipahami secara jabariyah: seolah semua sudah ditentukan tanpa perlu kerja keras. Padahal Islam justru mengajarkan ikhtiar, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Akibatnya muncul generasi yang pandai bicara, tetapi lemah daya juang. Cerdas berkomentar, tetapi kurang produktif berkarya.
Padahal dahulu rantau adalah sekolah mental. Surau adalah sekolah karakter. Lapau adalah sekolah argumentasi sosial. Hari ini sebagian lembaga itu tinggal simbol budaya yang belum sepenuhnya melahirkan energi peradaban baru.
Krisis kedua adalah krisis kritikus.
Minangkabau dahulu besar karena keberanian berpikir. Tradisi intelektual tumbuh melalui perdebatan kitab di surau dan musyawarah di nagari. Berbeda pendapat bukan dianggap ancaman, tetapi bagian dari dinamika ilmu.
Kini suasananya mulai berubah. Banyak orang takut berbeda. Takut dianggap melawan. Takut kehilangan posisi sosial dan politik. Akibatnya lahir banyak intelektual yang aman secara jabatan, tetapi lemah secara keberanian moral.
Kasus yang dialami Feri Amsari sering dibaca publik sebagai gambaran bagaimana seorang akademisi dan pengkritik kebijakan publik harus menghadapi tekanan hampir sendirian. Terlepas setuju atau tidak terhadap pandangannya, fenomena itu memperlihatkan satu kegelisahan: di mana solidaritas moral para cendekiawan ketika ruang kritik membutuhkan keberanian bersama?
Yang lebih ironis, sebagian cendekiawan Minang justru berlindung di balik sejarah besar Minangkabau. Nama Hamka, Hatta, Agus Salim, dan Natsir sering dikutip dalam pidato dan seminar, tetapi keberanian intelektual mereka belum tentu diwarisi.
Padahal tokoh-tokoh besar Minang dahulu tidak lahir dari kenyamanan. Mereka lahir dari pergulatan pemikiran, keberanian melawan ketidakadilan, dan kesiapan menanggung risiko sosial.
Minangkabau akan kehilangan marwah intelektual jika cendikiawannya lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga kebenaran.
Krisis ketiga adalah bangkrutnya pathos, yaitu krisis rasa.
Rasa malu mulai melemah. Rasa tanggung jawab sosial mulai tipis. Rasa beragama, beradat, dan bermartabat sering kalah oleh uang dan jabatan.
Hubungan rantau dan ranah masih kuat secara emosional, tetapi belum sepenuhnya produktif secara strategis. Pulang basamo ramai, tetapi investasi pendidikan nagari belum kuat. Kebanggaan identitas tinggi, tetapi belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi dan intelektual.
Akibatnya energi sosial Minang sering habis dalam pragmatisme politik jangka pendek.
Padahal dahulu rantau bukan sekadar tempat mencari uang. Rantau adalah pusat pembentukan wawasan dan jaringan peradaban. Perantau Minang dahulu pulang membawa ilmu, pengalaman, dan visi sosial. Hari ini sebagian hanya pulang membawa simbol keberhasilan konsumtif.
Secara sosiologis, Minangkabau sebenarnya memiliki modal budaya yang luar biasa: surau, nagari, rantau, musyawarah, dan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Tetapi modal budaya tidak otomatis melahirkan kemajuan jika tidak diperbarui. Tradisi yang tidak ditransformasikan akan menjadi museum. Adat yang tidak diberi isi baru akan menjadi slogan.
Karena itu tantangan terbesar Minangkabau hari ini bukan kekurangan sejarah, tetapi kekurangan keberanian menerjemahkan sejarah menjadi agenda masa depan.
Minang membutuhkan revolusi etos baru.
Surau harus kembali menjadi pusat pembentukan karakter.
Kampus harus kembali melahirkan keberanian intelektual.
Rantau harus diproduktifkan menjadi jaringan investasi pendidikan dan ekonomi.
Adat harus kembali menjadi etika publik, bukan hanya simbol seremoni.
Dan cendekiawan Minang harus kembali berani berkata benar meski tidak populer.
Karena masyarakat tanpa kritikus akan mengalami pembusukan diam-diam.
Pada akhirnya, etnis Minang tidak boleh puas menjadi pewaris. Pewaris hanya menjaga cerita. Pelopor menciptakan sejarah baru.
Jika etos hilang, Minang tinggal romantisme.
Jika kritik mati, Minang kehilangan akal.
Jika pathos bangkrut, Minang kehilangan ruh.
Maka tugas generasi hari ini bukan sekadar membanggakan masa lalu, tetapi membuktikan bahwa tradisi besar Minangkabau masih mampu melahirkan keberanian, kreativitas, integritas, dan kepeloporan di masa kini.
Minang tidak boleh hanya berkata:
"Dulu kita besar."
Tetapi harus berani menjawab: hari ini kita masih mampu menjadi pelopor.

