Type Here to Get Search Results !

PERTI: Dari Surau, Ulama ke Peradaban Masa Depan

Oleh: Duski Samad

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Perti

Refleksi Milad 98 Perti, Selasa, 05 Mei 2026.

Milad ke-98 Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) pada 05 Mei 2026 bukan sekadar peringatan usia organisasi. Ia adalah momentum historis untuk membaca ulang perjalanan panjang ulama Minangkabau dalam membangun peradaban—dari surau sederhana hingga gagasan besar pendidikan umat.

PERTI secara resmi berdiri pada 05 Mei 1928. Namun, akar intelektualnya jauh lebih dalam, menghunjam ke jaringan ulama Haramain yang dipelopori oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari mata air sanad keilmuan inilah lahir generasi ulama yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga visioner dalam membaca zaman.

Di Minangkabau, warisan itu dilanjutkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Sulaiman ar-Rasuli, Abbas Abdullah, dan Muhammad Jamil Jaho. Mereka tidak sekadar mengajar di surau, tetapi melakukan transformasi besar: mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) sebagai sistem pendidikan yang terstruktur, terarah, dan tetap berakar pada kitab turats.

Pada awal abad ke-20, ketika dunia pendidikan Islam masih didominasi metode halaqah tradisional, MTI sudah memperkenalkan sistem klasikal, bahkan penggunaan meja dan kursi. Sesuatu yang dahulu dianggap “asing”, kini menjadi hal yang lumrah. Ini menegaskan satu hal penting: tradisi PERTI bukan anti-perubahan, tetapi perubahan yang berakar pada nilai.

Sejarah juga mencatat bahwa ulama PERTI bukan hanya pendidik, tetapi arsitek sosial dan kebangsaan. Mereka hadir di tengah masyarakat, membimbing umat, dan merawat harmoni melalui falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Di tengah tekanan kolonialisme dan tarik-menarik ideologi Islam, mereka memilih jalan moderasi: menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, bermazhab Syafi’i, bertasawuf sebagaimana diajarkan Al-Ghazali, dan bertarekat mu’tabarah.

Warisan ini menjadi fondasi kuat PERTI hingga hari ini.

Dalam kajian Milad ke-98, Ustaz Abdul Somad (UAS) mengingatkan bahwa kekuatan PERTI terletak pada identitas dan tradisi pendidikannya. PERTI tidak sekadar mendirikan madrasah, tetapi membangun ekosistem keilmuan. Dari MTI, lahir generasi ulama, guru, dan pemimpin umat yang mengakar di tengah masyarakat.

Namun, tantangan hari ini berbeda. Jika dahulu tantangan datang dari kolonialisme fisik, kini ia hadir dalam bentuk kolonialisasi digital, krisis identitas, dan disrupsi nilai. Di sinilah PERTI dituntut untuk kembali mengambil peran.

Media sosial, sebagaimana disampaikan UAS, telah menjadi mimbar baru. Algoritma membuka ruang luas bagi generasi milenial, Gen Z, bahkan generasi Alpha untuk mengenal Islam. Pertanyaannya: apakah PERTI hadir di ruang itu? Jika tidak, maka ruang tersebut akan diisi oleh narasi lain yang belum tentu sejalan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Di sisi lain, realitas politik juga tidak bisa dihindari. Melepaskan diri dari politik, dalam istilah yang tajam, seperti melepaskan panas dari api. PERTI sebagai organisasi harus tetap independen, tetapi jamaahnya perlu memiliki kesadaran politik yang matang agar nilai-nilai Islam tetap hadir dalam ruang kebijakan publik.

Ketua Umum PP PERTI, Syarfi Hutahuruk, dalam arahannya menegaskan bahwa PERTI hari ini berada pada fase penting: memadukan tradisi dan transformasi. Tradisi ilmu bersanad harus tetap dijaga, tetapi tidak boleh menghambat inovasi. Surau sebagai pusat ruhani harus diintegrasikan dengan sistem pendidikan modern. Dakwah harus tetap menjadi cahaya, namun dengan pendekatan yang relevan dengan zaman.

Kepemimpinan PERTI ke depan tidak cukup hanya menjaga warisan. Ia harus mampu menggerakkan, menginspirasi, dan mengambil keputusan strategis dengan tegas dalam prinsip, tetapi bijak dalam pendekatan.

Langkah konkret pun mulai terlihat. Bersama LP3N, UAS mendorong percepatan pendidikan melalui pendirian Universitas Islam Internasional PERTI pada tahun 2026. Ini bukan sekadar proyek kelembagaan, tetapi simbol kebangkitan baru—menghubungkan turats dengan sains, lokal dengan global.

Menuju satu abad pada 2028, PERTI dihadapkan pada dua fungsi sekaligus: sebagai cermin yang memantulkan kejayaan masa lalu, dan sebagai jendela yang membuka masa depan.

Jika sejarah awal abad ke-20 membuktikan bahwa ulama PERTI mampu membangun peradaban dari surau, maka hari ini tantangannya adalah membangun peradaban dari ruang global—tanpa kehilangan akar.

PERTI tidak boleh menjadi romantisme sejarah. Ia harus menjadi energi perubahan.

Dengan ilmu yang bersanad, akhlak yang hidup, dan keberanian bertransformasi, PERTI memiliki modal besar untuk tetap besar dan mengakar—tidak hanya di Minangkabau, tetapi di panggung peradaban dunia.

Menggenggam tradisi, menjemput masa depan—itulah jalan PERTI menuju satu abadnya.ds.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.