![]() |
| Diskusi penulis Duski Samad dengan Arisal Aziz, usai kegiatan di STIT Syekh Burhanuddin. |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman
Tulisan ini adalah bahagian dari refleksi penulis saat melakukan pertemuan ke poskonya di Kampung Dalam dan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan H. Arisal AzIz ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman, hari Sabtu, 09 Mei 2026 lalu.
Ketika pengurus Yayasan dan Pimpinan STIT SB menyampaikan kondisi gedung Islamic Centre dan kampus STIT SB yang didirikan ulama, tokoh masyarakat dan Pemda Padang Pariaman 1978 lalu mengalami kesulitan, beliau dengan senang hati menyiapkan diri membawa proposal untuk diajukan pada Kementerian Agama, Kementerian Sosiak dan pemerintah pusat serta pihak pihak lainnya, disamping beliau juga akan membantu.
Memang harus diakui di tengah masyarakat yang mulai jenuh dengan politik penuh janji dan pencitraan, muncul figur-figur yang justru dikenal lebih dahulu melalui kerja sosial sebelum masuk gelanggang kekuasaan. Salah satu nama yang belakangan semakin sering diperbincangkan di Sumatera Barat adalah Arisal Aziz.
Perbincangan tentang dirinya tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari cerita masyarakat kampung, dari ambulans gratis yang menolong pasien, dari santunan anak yatim, dari bantuan rumah ibadah, dari dukungan kepada pesantren, hingga dari kesaksian orang-orang kecil yang pernah dibantu tanpa harus viral lebih dahulu.
Ketika Mulawarman mewawancarainya di Senayan, Rabu 13 Mei 2026, dan bertanya tentang isu pencalonannya sebagai Gubernur Sumatera Barat 2029, Arisal Aziz menjawab dengan sederhana:
“Saya membantu karena diberi rezeki berlebih oleh Allah. Sudah dilakukan sejak tahun 2003. Awalnya membantu itu untuk ibadah, menolong orang kampung dan masyarakat kecil.”
Kalimat itu tampak biasa. Namun sesungguhnya di situlah inti kekuatan sosial Arisal Aziz: pengabdian yang lahir sebelum ambisi politik.
Arisal Aziz bukan lahir dari keluarga elite. Ia tumbuh dari kehidupan sederhana masyarakat Pariaman. Ia pernah merasakan sulitnya ekonomi, putus sekolah, bekerja keras di rantau, hingga akhirnya memulai hidup dari bawah sebagai penjual tiket bus di terminal Pekanbaru. Dalam tradisi Minangkabau, kisah seperti ini disebut perjuangan “anak rantau” yang ditempa oleh kerasnya kehidupan.
Tetapi kehidupan sering kali melahirkan dua tipe manusia: mereka yang ketika berhasil lupa kepada masa lalunya, dan mereka yang justru semakin dekat kepada rakyat kecil karena pernah merasakan pahitnya hidup. Banyak masyarakat melihat Arisal Aziz berada pada kelompok kedua.
Kesuksesan ekonominya melalui usaha logistik nasional tidak menjadikannya hidup jauh dari denyut masyarakat bawah. Justru ketika ekonominya berkembang, aktivitas sosialnya semakin luas. Sejak lama ia dikenal membantu masyarakat melalui program ambulans gratis, bantuan anak yatim, santunan fakir miskin, renovasi masjid, mushalla, dan dukungan terhadap pendidikan pesantren.
Bagi masyarakat kecil, ambulans gratis bukan sekadar kendaraan. Ia adalah pertolongan ketika orang tidak punya biaya membawa keluarga sakit ke rumah sakit. Ia adalah harapan ketika keluarga kebingungan mengantar jenazah. Karena itu, banyak masyarakat mengenang bantuan itu bukan sebagai program politik, tetapi sebagai bentuk kehadiran sosial.
Dalam kultur masyarakat Minangkabau yang kuat dengan nilai ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah), ukuran seorang tokoh tidak hanya dilihat dari jabatan dan kekayaannya, tetapi sejauh mana ia menjadi manfaat bagi kampung halamannya.
Karena itu pula, bantuan rumah ibadah dan pesantren memiliki makna yang sangat dalam. Masyarakat Minang memandang surau dan pesantren bukan sekadar bangunan pendidikan, tetapi pusat pembentukan akhlak, adat, dan peradaban. Ketika seorang tokoh membantu pesantren, masyarakat melihatnya sebagai investasi sosial dan spiritual jangka panjang.
Di tengah kegelisahan masyarakat terhadap krisis moral generasi muda, maraknya narkoba, kekerasan sosial, dan lunturnya adab, dukungan terhadap pendidikan Islam dianggap sangat penting. Banyak masyarakat melihat Arisal Aziz memahami titik ini.
Perjalanannya menuju DPR RI kemudian memperluas pengaruh sosialnya. Ketika terpilih sebagai anggota DPR RI dan kemudian dipercaya memimpin PAN Sumatera Barat, banyak masyarakat mulai membaca bahwa kerja sosial yang panjang itu perlahan berubah menjadi modal politik yang kuat.
Namun yang menarik, citra Arisal Aziz tidak dibangun melalui retorika keras atau konflik politik. Ia lebih banyak tumbuh melalui pendekatan sosial, pelayanan masyarakat, dan relasi emosional dengan rakyat kecil. Dalam politik modern yang sering gaduh oleh perang citra, pendekatan seperti ini justru menjadi langka.
Masyarakat Sumatera Barat sesungguhnya memiliki harapan besar terhadap lahirnya pemimpin yang dekat dengan rakyat, kuat secara ekonomi, peduli terhadap pendidikan Islam, dan memiliki jaringan nasional. Sebab daerah ini tidak hanya membutuhkan administrator pemerintahan, tetapi juga figur sosial yang mampu menghadirkan rasa teduh, kepedulian, dan harapan.
Karena itu, ketika nama Arisal Aziz mulai disebut dalam percakapan menuju Sumbar 2029, banyak orang melihatnya bukan sekadar sebagai politisi. Ia mulai dipandang sebagai representasi dari semangat perantau Minangkabau: berhasil di rantau, tetapi tidak melupakan kampung halaman.
Tentu perjalanan politik masih panjang. Dinamika politik Sumatera Barat selalu penuh kejutan dan pertarungan gagasan. Tetapi satu hal yang mulai terbaca hari ini: kekuatan terbesar Arisal Aziz bukan semata partai politik atau kekuatan ekonomi, melainkan modal sosial yang tumbuh dari pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Dan dalam sejarah Minangkabau, banyak pemimpin besar lahir bukan pertama-tama karena ambisi kekuasaan, tetapi karena kepercayaan masyarakat yang tumbuh dari amal, kepedulian, dan manfaat yang dirasakan rakyatnya.ds.

