![]() |
| Bukan Cuma Kejar Turis, Paradigma Baru Pariwisata Butuh Evaluasi Total SDM, Jum'at (29/5) dalam Wawancara bersama RRI Pro 3 FM di Jakarta. (Foto: Ali Akbar) |
Jakarta — Strategi pembangunan pariwisata nasional dinilai perlu perombakan mendasar. Kebijakan yang diambil pemerintah seharusnya tidak lagi terjebak pada target jangka pendek semata (quick yield), melainkan harus terintegrasi kuat antara sektor pusat dan daerah serta menyentuh akar filosofis ekosistem pariwisata.
Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Trisakti sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof. Azril Azahari, dalam wawancara bersama RRI Pro 3 FM, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, pergeseran paradigma pariwisata global saat ini telah mengubah perilaku para pengunjung secara signifikan (shifting visitors behavior).
Oleh karena itu, Prof. Azril menekankan bahwa indikator keberhasilan pariwisata sudah saatnya diubah. Fokus utama tidak boleh lagi hanya sekadar menghitung jumlah angka kunjungan turis yang datang.
"Target pariwisata bukan semata mengejar jumlah kunjungan turis, tetapi lebih kepada kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB/PAD, pengaruh efek pengganda (multiplier effect), dan penyerapan tenaga kerja," ujar Prof. Azril.
Dari 'Link and Match' Menuju 'Link by Matching'
Merespons pergeseran paradigma tersebut, sektor pendidikan pariwisata dinilai menjadi pilar utama yang harus dibenahi terlebih dahulu. Prof. Azril mendesak adanya evaluasi total pada program studi pariwisata agar lulusannya mampu menjawab tantangan dunia usaha, industri, dan kerja (Dudika) di masa depan.
Lebih jauh, ia meluruskan konsep keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri yang selama ini sering disalahpahami. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara istilah Link and Match dengan Link by Matching.
Selama ini, konsep Link and Match hanya menitikberatkan pada bagaimana mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil agar bisa langsung diterima oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Sementara itu, konsep Link by Matching bergerak lebih dinamis dan visioner.
"Istilah Link and Match mengedepankan SDM yang terampil agar diterima oleh DUDI. Sedangkan Link by Matching lebih fokus kepada kebutuhan Dudika," tegas Prof. Azril.
Dengan menerapkan prinsip Link by Matching, kurikulum pendidikan tinggi pariwisata ke depan diharapkan tidak hanya mencetak pekerja yang siap pakai, tetapi mampu beradaptasi dan berinovasi secara berkelanjutan sesuai dengan dinamika ekosistem pariwisata modern yang terus berubah. (Ali Akbar)

