Type Here to Get Search Results !

Refleksi Politik Silaturrahmi Presiden PKS di Sulawesi Utara

oleh ReO Fiksiwan

„Dalam memainkan peran baru ini, umat Islam ternyata bukanlah kubu yang seragam, melainkan beragam, di mana kelompok-kelompok intra-Islam mengajukan agenda dan wacananya sendiri-sendiri. 

Kontestasi wacana ini bukan hanya menyangkut peran sosial-politik Islam di ruang publik, tetapi lebih jauh lagi menyangkut hakikat Islam itu sendiri sebagai agama.” — Carool Kersten(61), Berebut Wacana: Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi (2018)

Silaturahmi politik yang digelar oleh Presiden PKS, Dr. H. Almuzammil Yusuf, M.Si., bersama para tokoh di Sulawesi Utara pada 12 April 2026 di Hotel Aryaduta Manado, bukan sekadar pertemuan rutin partai. 

Ia mencerminkan dinamika politik Islam di Indonesia yang terus bergulat dengan wacana kebangsaan, identitas, dan relasi antara agama serta negara. 

Kehadiran tokoh lokal, termasuk undangan, di antaranya Prof. Dr. Nazarudin Yusuf(Ketua MUI Sulut), Dr. Ulyas Taha MSi(Ketua PWNU), Pdt. Hanny Pantouw(LMI), KH. Yaser Bachmid(Ketua MUI Manado), dan Reiner Emyot Ointoe, menunjukkan bahwa pertemuan ini berusaha merangkul spektrum luas cendekiawan dan pemimpin masyarakat, bukan hanya kader partai.

Merujuk pada Carool Kersten dalam Berebut Wacana: Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi(2018) menekankan bahwa sejak Reformasi, umat Islam Indonesia berada dalam tarik-menarik wacana antara Islam sebagai agama kultural dan Islam sebagai ideologi politik. 

Dikutip Kersten mengatakan:

“Reformasi 98 membuka horizon pemahaman baru. Inilah struktur peluang politik baru yang memberi panggung bagi umat Islam untuk memainkan peran sosial-politik yang makin besar di ruang publik Indonesia.

Hakikat wacana Islam politik menurut Carool Kersten adalah arena kontestasi ide dan gagasan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. 

Fungsi utamanya adalah memberi ruang bagi umat Islam untuk menegosiasikan identitas, peran sosial, dan aspirasi politik dalam kerangka demokrasi pasca-Reformasi. 

Kersten menekankan bahwa wacana ini tidak tunggal, melainkan plural, mencerminkan keragaman intra-Islam dari tradisionalis hingga modernis. 

Dengan demikian, Islam politik tidak bisa dipahami sebagai satu arus besar yang homogen, melainkan sebagai kumpulan suara yang saling berinteraksi, berkompetisi, dan kadang bertentangan, namun tetap berada dalam bingkai demokrasi yang memberi ruang bagi perbedaan.

Dalam konteks silaturahmi politik PKS di Sulawesi Utara, fungsi wacana Islam politik sebagaimana digambarkan Kersten menjadi relevan. 

Pertemuan itu bukan sekadar agenda partai, melainkan bagian dari pergulatan wacana umat Islam Indonesia: bagaimana Islam hadir sebagai kekuatan moral dan sosial dalam ruang publik, sekaligus menegosiasikan eksistensinya di tengah pluralitas lokal. 

Kehadiran Presiden PKS bersama tokoh-tokoh Sulut menunjukkan ikhtiar untuk meneguhkan politik Islam sebagai kekuatan yang tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga tentang nilai, dialog, dan kebersamaan. 

Dengan cara ini, silaturahmi politik tersebut dapat dibaca sebagai refleksi atas dinamika wacana Islam politik yang terus mencari bentuknya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Berikut, Politik Islam dan Islamisme, sebagaimana dibedakan oleh Bassam Tibi(83), menjadi dua arus besar: yang pertama menekankan nilai-nilai moral dan spiritual dalam ruang publik.

Dalam konteks politik Indonesia, refleksi atas pemikiran Bassam Tibi, ilmuwan politik asal Jerman kelahiran Suriah, membantu membedakan antara politik Islam yang berfungsi sebagai kekuatan moral dalam ruang publik, dengan Islamisme yang berusaha menjadikan agama sebagai sistem politik formal. 

Silaturahmi politik seperti yang dilakukan PKS di Sulawesi Utara dapat dibaca sebagai upaya memperkuat politik Islam yang inklusif, bukan Islamisme yang eksklusif.

Sementara, yang kedua berupaya menjadikan Islam sebagai sistem politik formal. 

Silaturahmi PKS di Sulut dapat dibaca sebagai upaya memperkuat legitimasi politik Islam dalam bingkai kebangsaan, sekaligus menghindari jebakan Islamisme yang terlalu ideologis.

Reiner Emyot Ointoe, sebagai undangan yang diminta memberikan perspektif, mengutip dalam bukunya, Musyawarah Bisu: Islam dan Politik Lokal dalam Pilkada Sulut(2009) menunjukkan bahwa politik lokal di Sulawesi Utara sering kali berjalan dalam ruang kompromi, di mana Islam sebagai minoritas „besar“ dan rapuh harus menegosiasikan eksistensinya dengan realitas pluralitas. 

Dalam konteks ini, silaturahmi PKS menjadi simbol ikhtiar membangun jembatan komunikasi antara umat Islam dengan tokoh lintas agama dan budaya. 

Kehadiran Presiden PKS di Manado memperlihatkan bahwa partai ini ingin menegaskan peran politik Islam sebagai bagian dari mosaik kebangsaan, bukan sebagai kekuatan eksklusif.

Namun, refleksi kritis tetap diperlukan dan dikhtiarkan, setidaknya lewat PKS, untuk membangun persepsi dan paradigma Islamisme dan Islam politik inklusif.

Karena, sejak era Presiden Joko Widodo, politik Indonesia sering digambarkan oleh Buya Syafii Ma’arif sebagai sistem “belah bambu.“

Di satu sisi ditekan dan sisi lain diangkat tanpa konsistensi ideologis yang jelas. Dan hingga kini terus dipaksakan terperosok ke dalam trikotomi Geertzian. 

Model degradasi “siyasah al-syariah” dalam praktik politik nasional, dengan sengaja membuat umat Islam kehilangan orientasi politik yang berbasis nilai. 

Arkian, Silaturahmi PKS di Sulut, dengan segala simbol dan gesturnya, bisa dibaca sebagai upaya mengembalikan orientasi itu.

Meski tentu saja, tantangannya adalah bagaimana tetap relevan di tengah masyarakat plural yang lebih sering menolak politik identitas.

Dengan perspektif Kersten, Ointoe, dan Tibi, pertemuan ini bukan sekadar agenda partai, melainkan bagian dari pergulatan panjang umat Islam Indonesia dalam mencari posisi antara agama, politik, dan kebangsaan. 

Silaturahmi politik PKS di Sulut adalah refleksi atas ikhtiar membangun persepsi baru: bahwa Islam sebagai kekuatan moral dapat hadir dalam ruang publik tanpa harus jatuh ke dalam jebakan ideologisasi yang sempit.

#coverlagu:

Lagu “Perjuangan Akar Rumput Partai Keadilan Sejahtera” oleh PKS dan AdoyKumat dirilis pada 7 September 2024 di bawah label Kumat Cengap. 

Lagu berdurasi 3 menit 4 detik ini bergenre pop/rock dengan sentuhan pop progresif, dan menjadi simbol ekspresi politik akar rumput PKS dalam bentuk musik.

#credit foto diambil dari koleksi Buang Bua, Kader PKS, yang dikirim via WA.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.