![]() |
#cerpen Versi(1):
oleh ReO Fiksiwan
Di bawah langit senja Kuta, Luna dan ReO pertama kali bertemu.
Ombak yang berkejaran seolah menjadi saksi bisu cinta mereka yang tumbuh perlahan, mengakar dalam, dan bertahan melewati tahun-tahun penuh kenangan.
Mereka percaya, cinta yang lahir di tepi pantai Bali akan kekal hingga pelaminan.
Namun, takdir punya cara lain. Tragedi bom Bali mengguncang bukan hanya tanah, tetapi juga hati.
Dalam suasana duka, ramalan I Ketut Niken muncul: “Kalian tidak akan berjodoh.
Ada perempuan dari seberang lautan, Amerika, yang akan membawa takdir baru.”
Nama itu—Julia Robert—terdengar asing, namun ramalan menyebut ia datang dengan jodoh dari kisah Eat, Pray, Love dan Ticket to Paradise.
Luna dan ReO berusaha melawan takdir.
Mereka menapaki liku-liku adat, menjalani upacara smaradhana, berharap restu leluhur akan menguatkan cinta mereka.
Tetapi setiap langkah terasa berat, seakan semesta menutup jalan.
Hingga suatu hari, Julia Robert benar-benar hadir, membawa seorang pria bernama Maxime.
Kehadirannya bukan sekadar tamu, melainkan jawaban dari ramalan yang dulu dianggap mustahil.
ReO menatap Luna dengan mata yang penuh luka, sementara gamelan mengalun di pura.
Luna, dengan kebingungan bercampur pasrah, akhirnya menerima ikatan baru.
Maxime, yang datang bersama Julia, menjadi pasangan hidupnya.
Cinta yang pernah ia rajut bersama ReO harus dilepas, bukan karena hilang, melainkan karena takdir memilih jalannya sendiri.
Di pelaminan, Luna tersenyum samar.
Senyum yang menyimpan cerita panjang tentang cinta yang (tak) diridhoi.
ReO berdiri di kejauhan, menyadari bahwa kadang cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merelakan.
#cerpen Versi(2):
Di pelaminan pura, gamelan mengalun, bunga kamboja jatuh perlahan dari pohon tua.
Ramalan I Ketut Niken seakan menjadi bayangan yang terus menghantui Luna dan ReO.
Namun, mereka berdua memilih melawan.
Mereka percaya cinta yang lahir di Kuta, di antara debur ombak dan pasir putih, lebih kuat daripada takdir yang ditulis bintang.
Julia Robert memang datang, membawa Maxime dengan Ticket to Paradise.
Namun Luna menolak.
Ia menggenggam tangan ReO di hadapan para tetua adat, menantang ramalan smaradhana.
„Aku memilih ReO,” bisiknya, penuh keberanian.
Upacara pun dilanjutkan.
Diiringi gamelan Jager Saka 1024 Kompyang Raka.
Meski di sudut-sudut pura dengan hiasan kamboja dan kain kotak hitam-putih, wajah para tetua, bedande bahkan pecalang sangat muram.
Seolah alam lebih tahu bahwa jalan yang dipilih akan berakhir getir.
Hari-hari setelah pernikahan mereka penuh ujian.
ReO kehilangan pekerjaan, Luna sakit-sakitan, dan setiap ritual adat yang mereka jalani terasa gagal memberi restu.
Sembahan dan dupa di depan tiap rumah, mendadak merabu. Baunya seperti aroma alam gaib. „Ni ngaryen ring sesi karo**…….“
Orang-orang berbisik, “Itu karena mereka melawan ramalan.”
Julia Robert dan Maxime pergi meninggalkan Bali.
Namun, bayangan mereka tetap ada. Seakan menjadi simbol takdir yang ditolak.
Puncak tragedi datang saat ReO mengalami kecelakaan di jalan menuju Ubud.
Luna berlari ke rumah sakit, gaun pengantin yang dulu ia simpan kini basah oleh air mata.
ReO sempat membuka mata, menatap Luna, lalu berbisik lirih, “Kita memang tak diridhoi… tapi aku bahagia pernah melawan bersama.”
Setelah itu, napasnya terhenti.
Luna berdiri di tepi pantai Kuta, tempat cinta mereka bermula.
Ombak berkejaran, tapi kali ini terasa dingin. Ia tahu, ramalan itu benar—cinta mereka tak sampai ke pelaminan yang diridhoi semesta.
Namun, Luna juga tahu, keberanian mereka melawan takdir adalah kisah cinta paling tragis sekaligus paling indah yang pernah ada.
Dari kejauhan lantunan Geger Gelgel dari Guruh Gipsy bersama vokal lengking Keenan Nasution menggema di sepanjang pesisir pantai Kuta.
„Yeng chopin pade ring Bali/ kerarong saking daksine/Titian ma ngenang Bali/sunantare wong ngusak asik negare….“ — Chopin Larung(Chrisye).
*Dibantu AI untuk sedikit ide dari realitas yang sebenarnya terjadi. Sebagian besarnya; fiksi!
**Lirik lagu Indonesia Mahardhika dari Guruh Gipsy.
#coverlagu:
„Chopin Larung” adalah salah satu lagu dalam album legendaris Guruh Gipsy yang dirilis pada 20 Maret 1977.
Lagu ini menampilkan Chrisye(1949-2007) sebagai vokalis dan pemain bass, dengan nuansa perpaduan musik klasik Chopin dan tradisi Bali-Jawa.
Larung dalam tradisi Jawa-Bali berarti melepaskan sesuatu ke alam (laut, sungai, atau udara) sebagai bentuk persembahan atau pelepasan beban.
#credit foto bersama Luna Maya di Plaza Senayan 2008 dan Maxime Bouttier dan Luna di kanal Youtube.

