![]() |
Ketika Iran dibombardir oleh militer Amerika Serikat dan Israel, sejak 28 Februari 2026 lalu, Sutradara film terkemuka Iran, Jafar Panahi, yang hidup sebagai eksil di Perancis dan baru saja memenangi piala Palem Emas dalam Festival Film Cannes 2025, mengatakan: “Saya akan kembali ke negara saya meski itu bisa mengorbankan nyawa saya.”
Pernyataan Jafar Panahi langsung mengguncang, karena rencananya ini bukan kepulangan biasa.
Kepada pers, Panahi mengatakan, saat memilih untuk pulang ke Iran, ia tidak mempedulikan berbagai konsekwensi yang menantinya: Vonis hukuman penjara yang dijatuhkan terhadap dirinya, pertentangan terbukanya dengan pihak berwenang, dan ketegangan meningkat yang mungkin membahayakan nyawanya.
Beberapa orang memperingatkan Jafar: “Situasinya berbahaya—jangan kembali sekarang.”
Namun jawaban sutradara film "It Was Just An Accident (2025)" ini lugas: “Saya akan pulang ke negara saya untuk mati di sana.”
Ia bisa saja tetap tinggal di tempat yang aman, di mana pengakuan global terhadap dirinya sangat besar, atau di mana sikap dan keyakinan tidak membawa konsekuensi langsung.
Tetapi Jafar Panahi menolak semua itu.
Ia kembali ke Iran melalui jalur darat, melalui Turki—bukan karena lari dari bahaya, tetapi karena menantangnya.
“Saya akan kembali ke negara saya, dan menanggung apa yang ditanggung rakyat Iran. Saya menentang setiap agresi terhadap tanah dan rakyat kami.”
Jafar Panahi berselisih dengan pemerintah Iran, tapi tidak dengan tanah airnya.
Ia mengkritik. Ia berbeda pendapat. Tetapi ketika tanah airnya terancam, ia memilih berdiri di garis depan.
Ia tidak bernegosiasi. Ia tidak menyerah.
Ia tidak menukar keyakinannya dengan kebebasannya.
Dan, ketika ia tiba di Teheran, hal tak terduga terjadi pada Panahi: Ia disambut hangat. Kemudian datang kejutan lain: Vonis hukuman terhadap dirinya dibatalkan pihak berwenang Iran.
Sejumlah pihak menilai, sambutan baik yang diterima Jafar Panahi adalah sebuah cermin gamblang tentang makna kebersamaan: Untuk tidak setuju tanpa mengkhianati. Untuk menentang tanpa menjual diri, Dan untuk kembali bahkan ketika jalan dipenuhi bahaya, dan meninggalkan kehidupan nyaman yang terlepas dari konsekuensi.

