Type Here to Get Search Results !

"𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚 𝐏𝐨𝐩𝐞 𝐉𝐨𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐫𝐢𝐚 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐛𝐮𝐫 𝐊𝐨𝐬𝐨𝐧𝐠"

𝐎𝐩𝐢𝐧𝐢 - 𝐏𝐝𝐭.𝐒𝐞𝐧𝐝𝐮𝐤 𝐆. 𝐀.𝐑𝐨𝐞𝐫𝐨𝐞

Di laman Facebook milik Reiner Emyot Ointoe ada sebuah tulisan berjudul “Membaca Fakta Fiksi Paus Perempuan?” 

Tulisan ini ditulis oleh ReOFiksiwan.

ReOFiksiwan mengangkat kisah kontroversial tentang seorang Perempuan yang bernama Paul Joan yang hidup di Abad pertengahan yang menyamar sebagai seorang laki-laki, kemudian mencapai posisi tertinggi sebagai paus.

Kisah ini sejak lama berada di wilayah abu-abu antara fakta dan fiksi, menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan dan teolog, sekaligus hidup sebagai legenda yang tak pernah sepenuhnya padam dalam imajinasi Kekristenan Barat. 

ReOFiksiwan bahkan mengutip karya Gary McAvoy dalam 𝘛𝘩𝘦 𝘊𝘰𝘯𝘧𝘦𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯𝘴 𝘰𝘧 𝘗𝘰𝘱𝘦 𝘑𝘰𝘢𝘯 (2025) yang menyatakan bahwa perjalanan tokoh-tokohnya “mengungkap keberadaan Paus Joan, paus perempuan pertama dan satu-satunya yang masa pemerintahannya telah dikaburkan oleh waktu dan konspirasi,” sebuah kalimat yang menegaskan nuansa misteri sekaligus kritik terhadap cara sejarah dituturkan.

Namun, di tengah tulisannya ReOFiksiwan tidak menempatkan legenda ini sebagai ancaman bagi iman Kekristenan, melainkan sebagai perluasan cakrawala spiritualitas. 

Dalam konteks perayaan Paskah Kristiani—mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Kebangkitan—iman yang telah dihidupi tidak menjadi goyah oleh kehadiran kisah seperti ini, tetapi justru diperkaya oleh upaya menelusuri lapisan-lapisan sejarah, baik yang faktual maupun yang bersifat naratif-simbolik. 

Dalam kerangka ini, legenda Pope Joan tidak berdiri sendiri sebagai klaim historis, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami dinamika yang lebih luas dalam sejarah Gereja, termasuk bagaimana kekuasaan, ingatan, dan identitas dibentuk serta diwariskan.

Upaya membaca legenda ini ReOFiksiwan kemudian menghubungkan dengan refleksi pemikiran Karen Armstrong dalam bukunya tentang 

𝘗𝘢𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘢𝘳𝘴𝘶𝘴, 𝘚𝘢𝘯𝘵𝘰 𝘗𝘢𝘶𝘭𝘶𝘴: 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘪𝘤𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 (2021, edisi Indonesia). 

Meskipun Armstrong tidak membahas Pope Joan secara langsung, pembaca diajak melihat bahwa sejarah agama sering kali dibentuk oleh figur-figur yang kontroversial, yang pada saat yang sama dicela dan dicintai. 

Seperti seorang Paulus tampil sebagai sosok yang keras, radikal, sekaligus revolusioner, yang melalui surat-suratnya meletakkan fondasi bagi perkembangan Kekristenan. 

Dari sini muncul sebuah kunci hermeneutis: bahwa tokoh-tokoh yang menantang batas sering kali justru menjadi penggerak perubahan sejarah. 

Dalam konteks ini, legenda Pope Joan dapat dibaca sebagai proyeksi imajinatif atas kerinduan akan figur perempuan yang mampu menembus struktur patriarkal dalam Gereja.

Refleksi tersebut diperluas oleh penulis melalui karya Ian Leslie dalam 𝘑𝘰𝘩𝘯 & 𝘗𝘢𝘶𝘭: 𝘈 𝘓𝘰𝘷𝘦 𝘚𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘪𝘯 𝘚𝘰𝘯𝘨𝘴 (2025), yang meskipun berbicara tentang relasi kreatif antara John Lennon dan Paul McCartney, menghadirkan perspektif tentang bagaimana kekuatan sejati sering lahir dari kerentanan, relasi, dan kedalaman emosi manusia.

Ketika perspektif ini ditarik ke dalam pembacaan terhadap Pope Joan, legenda tersebut tampak bertahan bukan karena kekuatan bukti sejarah, melainkan karena kemampuannya menyentuh kerentanan kolektif manusia: kerinduan akan keadilan gender, kebutuhan akan simbol kepemimpinan perempuan, serta hasrat untuk melihat batas-batas sosial dilampaui.

Dimensi simbolik ini semakin dipertegas dalam karya Rosemary Pardoe dan Darrol Pardoe yang menelusuri legenda Pope Joan sebagai mitos yang terus diperdebatkan. 

Dalam pembacaan mereka, kisah tentang seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, meniti karier gerejawi, hingga akhirnya duduk di takhta Petrus, bukan sekadar cerita sensasional, tetapi juga simbol perlawanan terhadap dominasi patriarki dalam Gereja Katolik. 

Bahkan dalam versi cerita yang paling dramatis—ketika Joan yang hamil secara rahasia melahirkan di tengah prosesi publik—terdapat ambiguitas makna: di satu sisi, kisah ini dipakai untuk menegaskan kelemahan perempuan dalam perspektif tradisional; di sisi lain, ia justru membuka ruang kritik terhadap cara sejarah digunakan untuk mempermalukan atau menyingkirkan figur yang tidak sesuai dengan norma dominan.

Sementara itu, melalui pendekatan fiksi sejarah, McAvoy kembali menghidupkan legenda ini dalam bentuk thriller yang memadukan intrik Vatikan, dokumen rahasia, dan konspirasi. 

Dengan gaya yang cepat dan penuh ketegangan, ia mengajak pembaca memasuki labirin sejarah yang tidak sepenuhnya transparan, sekaligus mengajukan kritik implisit bahwa sejarah bukan hanya soal fakta objektif, tetapi juga tentang siapa yang memiliki kuasa untuk menulis dan menentukan mana yang diingat dan mana yang dilupakan. 

Dalam perspektif ini, Pope Joan menjadi lebih dari sekadar tokoh legendaris; ia menjadi simbol dari pertarungan antara ingatan dan pelupaan, antara suara yang diakui dan suara yang dibungkam.

Dari rangkaian refleksi ini—mulai dari Armstrong, Leslie, Pardoe, hingga McAvoy—terlihat benang merah yang kuat, bahwa sejarah, baik dalam agama maupun budaya, tidak pernah netral. 

Ia selalu dibentuk oleh figur-figur yang menantang batas, oleh narasi yang dipilih untuk dipertahankan, dan oleh kekuatan-kekuatan yang menentukan apa yang layak disebut sebagai “kebenaran.” 

Dalam terang ini, kontroversi tentang Pope Joan tidak lagi semata-mata berkisar pada pertanyaan apakah ia benar-benar pernah ada, tetapi lebih dalam menyentuh persoalan bagaimana sejarah dikonstruksi, siapa yang diberi tempat dalam ingatan kolektif, dan siapa yang disingkirkan ke dalam bayang-bayang.

Menariknya, refleksi tentang figur perempuan dalam ruang iman ini menemukan resonansinya yang nyata dalam kesaksian Injil, khususnya dalam kisah Maria Magdalena dan Maria yang lain dalam Matius 28:1. 

Dari sini dapat kita maknai:

𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖,

𝗞𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶. 

Maria Magdalena dan Maria yang lain menunjukkan bahwa keberanian sejati lahir dari hati yang setia, bahkan ketika keadaan tidak mendukung.

𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖,

𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗺𝗽𝗮𝘂𝗶 𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀-𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮.

Jika dalam legenda Pope Joan seorang perempuan harus menyamar untuk bisa diterima, dalam Injil justru perempuan dipakai Tuhan apa adanya, tanpa perlu menjadi orang lain.

𝙆𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖, 

𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻.

Mereka bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi saksi pertama dari kebangkitan Kristus—peristiwa paling penting dalam iman Kristen.

Pada akhirnya, legenda Pope Joan dan kesaksian Alkitab tentang Maria Magdalena dan Maria lainnya

memperlihatkan dua sisi: 

Yang satu hidup sebagai cerita yang diperdebatkan, sementara yang lain berdiri sebagai kesaksian iman yang jelas. 

Namun keduanya mengajak kita untuk merenung: bahwa dalam terang Paskah, yang terutama bukanlah soal posisi atau kekuasaan, tetapi tentang kesetiaan, keberanian, dan hati yang tetap percaya kepada Tuhan di tengah situasi apa pun.

Duc in Altum

Ad Majorem Dei Gloriam


#RevDSendukGARoeroe #OpiniPdtSendukGARoeroe

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.