Type Here to Get Search Results !

Perhatikan Lima Kondisi Sukses Dalam Komunikasi

Oleh: ALFIAN TARMIZI, S.Ag, S.Pd.I, M.Pd

“Jangan Terlalu Bernafsu untuk Menceritakan Siapa Dirimu, Karena Mereka Tidak Butuh Penjelasan Siapa Kamu, Tapi Yang Mereka Butuhkan Adalah Telingamu untuk Mendengarkan Cerita Mereka” (Ali Abi Hasan)

Kelelahan emosi yang sering ditemui banyak orang bukan ketika marah, kesal, sedih, kecewa atau sehabis perjalanan jauh dan tekanan pekerjaan. Akan tetapi ketika komunikasi searah yang kurang efektif. 

Hal ini sering kali kita lihat ketika seseorang dengan segala upaya menjelaskan panjang lebar tentang siapa dirinya, kronologis kejadian, klarifikasi sebenarnya yang disalah pahami oleh banyak orang. Atau penjelasan tentang defenisi keilmuan yang dicoba pemaparannya dengan Bahasa ilmiah. 

Ternyata semua itu tidak menarik bagi yang mendengarkan. Paling Cuma segelintir orang yang memperhatikan, setelah itu mereka akan berpaling dan kamu akan ditinggalkan seperti tukang jual obat di tengah pasar tradisional.

Pembaca yang budiman…

Mari kita telisik lebih mendalam penyebab kegagalan komunikasi yang sering kita lihat diberbagai tempat dan kejadian.

Menurut Study… ada 5 momen yang harus kamu perhatikan agar energimu tidak terkuras percuma dalam berkomunikasi.

Pertama, Kondisi Tidak Memahami atau Tidak Mau Paham Sama Sekali.

Tidak semua orang yang bertanya berarti dia tidak memahami dan butuh penjelasan detil, akan tetapi ada orang yang bertanya hanya untuk memancing emosi, mencari celah untuk menyerang, memberi penekanan kalau yang ditanyakan itu benar adanya berdasarkan rumor yang beredar/menguatkan prasangka.

Menyadari situasi ini kita harus bijak dalam merespon. Jangan kaget, emosi dan memberi penjelasan yang berapi-api secara panjang lebar. Energi kita harus dihemat untuk percakapan yang menghargai atau diam dan tersenyum itu akan lebih baik. Kalaupun terpaksa untuk berbicara pilihlah kata-kata yang politis. Seperti, “O… saya baru tahu, Apakah itu betul? Saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mana mungkin itu bisa dilakukan di zaman secanggih ini?”

Dengan begitu orang akan menilai anda sebenarnya dari skala kematangan emosi. Kamu akan menang dengan tidak menanggapi, mereka akan mati penasaran dan kecewa. Muncul keraguan yang membayangi prasangka mereka.

Kedua, Sadari, Validasi Tidak Datang Melalui Penjelasan.

Banyak orang mengira menjelaskan diri dengan detil beharap akan diterima dan itu akan membantah prasangka tentang dirimu. Misal, kamu menjelaskan dengan mencari pembenaran yang masuk akal agar kamu diterima. 

Justru ini akan jadi bumerang, ketika validasi dicari dari luar, penjelasan tidak akan pernah cukup menghentikan prasangka. Kamu akan terlihat seperti pesakitan/tersangka yang mencoba memberikan pembelaan diri. Mereka akan menang dan tersenyum sembari melontarkan pertanyaan dalam hati. “Apakah itu benar?”

Ketiga, Perhatikan Komunikasi Yang Melelahkan.

Komunikasi itu harus dua arah. Ada hubungan timbal balik. Ada stimulus dan ada respon. Ada pertanyaan ada jawaban yang bisa menjawab pertanyaan. Jangan keluar dari topik pembicaraan. 

Pastikan kamu tidak sedang diselidiki atau diwawancarai.

Jika setiap diskusi kamu berakhir dengan posisi yang diragukan, diremehkan, serba salah, kebingungan karena penjelasanmu dilemahkan/diremehkan, mereka sering menggeser topik pembicaraan, maka stop untuk berbicara. Ucapkanlah kata-kata; “Maaf sepertinya kita terkesan debat kusir, kayaknya anda dari tadi selalu mengganti topik pembicaraan.”

Keempat, Tidak Semua Orang Berhak Atas Ceritamu.

Kita harus menyadari Batasan mana yang privacy dan mana yang boleh dikonsumsi oleh semua orang. Kisah hidup, karir dan masalahmu tidak perlu diketahui oleh umum. Mengetahui Batasan-batasan ini membantu menjaga martabatmu. Ketika mereka mececar dengan berbagai pertanyaan sejatinya kamu sedang ditelanjangi. Bentengi dirimu dengan tersenyum atau tertawa sambil berucap; “ya, gimana ya… cerita nggak ya… mau tau atau mau tau bangeeet…Keppo ah…” 

Kelima, Lepaskan Kebutuhan Untuk Dipahami Orang Lain.

Keinginan untuk dipahami orang itu lumrah dan naluriah. Tetapi menjadikannya sebagai kebutuhan yang utama itu berbahaya. Itu akan membuat energimu terkuras, emosimu akan tersulut. Ketika kamu mencoba menjelaskan tapi mereka tidak mau paham atau gagal paham akan membuat kamu kecewa dan marah. Ini sangat merugikan diri sendiri.

Pembaca yang Budiman…

Berdasarkan pemaparan di atas dapatlah kita Tarik benang merahnya. Kita hidup, berpikir, bertindak, berproses dan mendapatkan hasil/sukses tidak terlepas dari “mind set/pola pikir”.

Pola pikir atau sudut pandang pemikiran setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan penilaian orang lain terhadap diri kita. Mereka berhak memberikan penilaian berdasarkan sudut pandang mereka dalam menilai kita. 

Mengapa mind set setiap orang berbeda? Karena Mind Set/pola pikir ini ada dua kutub. Ada growth mind set dan ada fixed mind set. Bagi orang yang berada di kutub growth mind set. Mereka menerapkan pola pikir berubah, bertumbuh dan berkembang. Aliansi growth mind set ini memandang sesuatu berdasarkan keyakinan bahwa sesuatu itu tidak ada yang konstan, tetap dan abadi. Akan ada proses sesuai perubahan, perkembangan dan tuntutan zaman. 

Sedangkan Fixed Mind Set memandang sesuatu bersifat tetap, tidak mungkin berubah, kekal dan abadi. Contoh; Kecerdasan seseorang bersifat tetap tidak dapat dirubah lagi. Bagi aliansi pola pikir ini memandang orang lain sesuai pola yang sudah ada. Mereka memandang orang lain sesuai apa yang mereka lihat dan pikirkan berdasarkan rumor dan prasangka yang melingkupi orang tersebut. Dengan kata lain penganut paham fixed mind set ini suka mengklaim dan men-justice orang berdasarkan pengalamannya.

Pembaca yang terhormat…

Pada akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa, tidak selamanya sesuatu di dunia ini bersifat konstan, tetap dan abadi. Lingkungan, pengalaman dan pemikiran/pola pikir akan menentukan hasil dari sebuah proses perubahan. Apakah mengarah kepada yang lebih baik atau sebaliknya. Keputusan itu ada di tangan kita. Kita yang akan menentukan berdasarkan pola pikir yang kita terapkan. 

Terkait dengan pembahasan kita di atas, Diam itu emas, bicara itu perak. “Fal yaqul Khairan au liyasmut/lebih baik diam dari pada bicara yang tidak perlu.”( al-hadist)

Semog bermanfaat dan kita bisa mengambil Pelajaran dari tulisan ini…

Semog kita terhindar dari fitnah dan masalah yang dibuat orang lain…

Aamiiin…

Sumber Bacaan:

The Next Rules of Work : The Mindset, Skillset and Toolset to Lead Your Organization Through Uncertainty, Bolles (2021)

Literatur Deep Learning/ Pembelajaran Mendalam, 2025

www.mindsetworks.com 2025

Personality and social psychology review, 2023

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.