![]() |
Oleh: Alfian Tarmizi, M. Pd
Kepala SDN 10 Ulakan Tapakis
“Engkau tak akan mampu menyenangkan semua orang, karena itu, cukuplah bagimu menyenangkan Dia. Perbaiki hubunganmu dengan-Nya. Selanjutnya Dia Yang Maha Kuasa Yang Akan Menentukan…” (Imam Syafi’i)
Sangat sulit memposisikan diri sebagai pimpinan di zaman sekarang ini. Kita berada di zaman fitnatul qubra, sesuai prediksi dari junjungan kita Nabi Muhammad SAW., dimana fitnah merajalela, maksiat bergulir bagai bola salju, bencana datang silih berganti, ujian dan cobaan bertubi-tubi. Batasan putih dan hitam sudah menjadi abu-abu. Orang sulit mengenali mana yang benar dan mana yang keliru dikarenakan pergeseran nilai yang begitu cepat dan drastis.
Sebagaimana peringatan dari hadis nabi yang berbunyi:
“Segeralah beramal sholeh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari beriman, di sore harinya berubah tidak beriman…”(Hadis Riwayat Muslim)
Fenomena kebijakan pemimpin yang sering disalah-artikan, dikritik, didiskusikan dan dianalisa dari berbagai sudut pandang yang disertai apologi dengan bukti potongan-potongan data dan fakta yang dijahit sedemikian rupa sehingga menghadirkan lembaran-lembaran diskursus di berbagi ruang dan waktu.
Hal ini menjadi marak kita temui di berbagai media. Seakan tidak ada jarak bagi ruang dan waktu menembus batas kerahasiaan yang bersifat privacy dan tidak semua orang boleh mengetahuinya. Ini sudah biasa dan lumrah. Menjadi konsumsi menarik dan lezat menjadi cuitan dan cuan di berbagai konten.
Di sinilah letak perubahan sosial dan moral akibat pergeseran nilai-nilai etik dan estetik menjadi sebuah hedonisme di kalangan elit maupun masyarakat awam.
Berdasarkan kajian prinsip dasar pengambilan keputusan yang bersifat etis dapat kita pedomani langkah-langkahnya agar tidak keliru:
Pertama, Menghilangkan Rasionalisasi Sesaat
Sering kali keputusan jangka pendek dibenarkan dengan alasan keadaan mendesak. Rasionalisasi ini membuat kita tetap logis, padahal hanya sedang menunda masalah. Dalam hal ini kita harus berpikir secara matang dalam mengambil keputusan. Ada beberapa prinsip pengambilan keputusan yang harus kita ketahui. Seperti berpikir berbasis peraturan atau norma, berpikir berbasis rasa peduli dan berpikir berbasis akhir untuk kepentingan orang banyak.
Kedua, Menimbang Dampak Pada Diri di Masa Depan
Eksistensi kita di masa depan sering dipandang sebagai person yang berhak untuk diadili. Mereka tidak akan memandang jabatan yang kita sandang ketika mengambil keputusan, akan tetapi personality kita yang akan dituding. Mereka tidak peduli dan tidak mau tahu yang melatarbelakangi keputusan yang kita eksekusi. Keputusan hari ini yang diambil tanpa empati berdampak langsung pada kita nantinya. Keputusan akan lebih bijak bila menimbang beban moral yang akan dipikul nanti setelah keputusan ini diambil. Jadi lebih berhati-hati dan waspada.
Ketiga, Menguji Konsistensi Tujuan
Banyak orang punya tujuan besar, tapi keputusan kecilnya justru bertentangan. Keputusan-keputusan kecil yang diambil sangat menentukan pola kepemimpinan kita di masa yang akan datang. Publik akan menilai dari keputusan kecil yang diambil dari waktu ke waktu.
Dalam pengambilan keputusan kita sering terjebak dalam dilema antara dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi benar melawan benar. Dimana ada dua nilai kebajikan yang saling bertentangan, namun sama-sama benar. Contohnya, menjunjung tinggi kejujuran tapi loyalitas terhadap atasan atau teman dipertaruhkan.
Sedangkan bujukan moral ini merupakan pertentangan antara kebenaran dan pelanggaran. Contohnya membantu orang kecopetan tapi takut dijadikan tersangka. Ini lagi marak kejadian di berbagai tempat. Dalam posisi ini kita harus berhati-hati dan waspada. Menjaga keselamatan diri lebih baik dari orang lain.
Keempat, Identifikasi Pemangku Kepentingan
Dalam pengambilan keputusan kita harus mempertimbangkan dengan cara mengenali siapa saja yang akan terdampak dari keputusan tersebut, dan mempertimbangkan sudut pandang mereka yang terdampak nantinya. Ini sangat diperlukan saat pengambilan keputusan. Alih-alih keputusan disetujui malah kita yang akan dipersalahkan.
Kelima, Mempertimbangkan Alternatif Keputusan yang Akan Diambil
Ada opsi yang harus kita pilih dalam pengambilan keputusan agar keputusan tidak terkesan dipaksakan. Seorang pimpinan harus punya rencana A dan B. Kalau rencana A tidak bisa dijalankan maka rencana B sebagai cadangan dan solusinya. Opsi ini harus memuat konsekuensi yang mengedepankan hak, kewajiban, keadilan dan integritas.
Ternyata untuk menjadi seorang pemimpin itu tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Modal kedekatan, uang, jabatan, pengalaman, popularitas bukanlah jaminan untuk sukses jadi pemimpin. Banyak hal yang harus kita ketahui dan jalani dalam pengambilan sebuah keputusan. Lingkungan tempat kita memimpin akan mempengaruhi arah dan pola kepemimpinan.
Pengambilan keputusan yang bijak membutuhkan keberanian, perhitungan matang, ketenangan, dan pengendalian emosi. Keputusan yang baik lahir dari pengetahuan norma dan peraturan yang dikuasai, pengalaman, ketenangan, evaluasi diri yang jujur, hati yang bersih dan pikiran yang jernih.
Banyak situasi dan kondisi yang tidak tepat dalam mengambil keputusan. Sikon ini harus kita kenali dan pahami agar tidak terjebak kepada pengambilan keputusan yang premature dan absurd.
Terkadang situasi dan kondisi tersebut sengaja diciptakan oleh berbagai pihak, untuk mengintimidasi kita dalam pengambilan keputusan yang salah. Ketenangan, kesabaran dan kebijaksanaan pimpinan diuji dalam menghadapi situasi dan kondisi semacam ini. Kalau ini tidak diperhatikan, maka bersiaplah untuk terjun bebas. Menjadi korban gorengan pemberitaan.
Semoga para pemimpin dimanapun berada dapat berijtihad dalam pengambilan keputusan yang cakupannya berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang dan ada pula yang besar. Semua sesuai kapasitas dan proporsinya. Yang terpenting dalam memimpin adalah niat yang tulus, Ikhlas dan tanpa pamrih. Setelah itu serahkan urusan pada Sang Penentu Kebijakan di dunia ini. Dinamika dan tantangannya merupakan bumbu penyedap dikala memimpin. Bukankah semakin tinggi pohon semakin kuat terpaan anginnya…?
Semoga bermanfaat…
Sumber Bacaan:
Dilema Etika dan Bujukan Moral, Kemdikbudristek RI, 2021
www.bola.com,jakarta, 2021
Maqashid Syariah; Meraih Manfaat, Menolak Mudharat, Imam Syafi’I, Terjemahan, 1991.

