![]() |
Elza Peldi Taher
Tahun baru, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, merayakan tahun baru di kampung halaman, Muara Labuh, Solok Selatan.
Aku pulang karena kakak tertuaku, Asnizar Taher, sakit keras. Sejak aku tiba di Muara Labuh, ia masih terbaring tak sadarkan diri hingga hari ini. Tidak ada percakapan. Tidak ada sapaan. Hanya tubuh yang diam, seolah sedang bernegosiasi pelan dengan waktu. Tahun baru datang bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai penanda betapa rapuhnya hidup, betapa dekat jarak antara kemarin dan kehilangan.
Sudah lama sekali tidak menyambut pergantian tahun di kampung. Puluhan tahun rasanya. Tahun-tahun berlalu di kota, di perantauan, dalam ritme yang serba cepat dan sering kali riuh. Maka tahun baru kali ini terasa berbeda. Ia datang tanpa kembang api, tanpa hitung mundur, tanpa terompet. Ia hadir dalam sunyi, dalam kecemasan, dalam doa-doa yang ditahan agar tidak terlalu keras berharap.
Hal pertama setibanya di kampung adalah mengunjungi makam ibunda, Saribulan, di Pasir Talang. Pagi hari datang bersama keluarga. Udara masih basah oleh embun. Aku bersimpuh di hadapan pusara yang telah lama mengajarkan arti kehilangan dan ketabahan. Di sana aku menyampaikan sesuatu yang selama ini kusimpan sebagai janji: bahwa amanahnya telah kutunaikan, bahwa aku telah menjalankan ibadah haji.
Di hadapan makam emak, tahun baru kehilangan maknanya sebagai angka. Ia berubah menjadi peristiwa batin. Menjadi dialog sunyi antara anak dan ibu, antara yang masih diberi waktu dan yang telah lebih dulu pulang. Aku tidak meminta apa-apa selain ketenangan dan kekuatan untuk menerima apa pun yang akan datang, termasuk kemungkinan terburuk dalam hidup.
Berbeda dengan kota, di kampung tidak ada perayaan ulang tahun. Tidak pula ada pesta tahun baru. Waktu berjalan seperti biasa. Hari berganti hari tanpa perlu dirayakan. Barangkali karena hidup di kampung terlalu dekat dengan kenyataan: bahwa usia bertambah bukan selalu kabar gembira, dan masa depan tidak selalu menjanjikan kegirangan.
Apalagi belakangan ini, di ranah Minang bencana datang silih berganti. Longsor terjadi di banyak tempat. Jalan terputus. Hujan turun membawa kayu-kayu besar dari hulu. Orang-orang kampung menghadapinya dengan sabar, seolah telah berdamai dengan keterbatasan hidup yang makin terasa berat.
Yang masih dari kampung adalah alamnya. Bukit, sawah, dan pegunungan masih membentang luas. Pemandangan itu membuat siapapun terpana, meski aku sadar: ia tak lagi sehijau dulu. Sungai yang dahulu jernih kini keruh. Airnya membawa lumpur, membawa jejak-jejak kerusakan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Barangkali cara manusia memperlakukan hutan tak jauh berbeda dengan cara kita sering menunda merawat orang-orang terdekat, baru panik ketika semuanya hampir terlambat.
Jalanan pun berubah. Dulu, kuda dengan bendi dan sepeda memenuhi jalan. Orang berjalan kaki sambil saling menyapa. Kini, deru motor dan mobil mendominasi udara. Kampung memang bergerak maju, tetapi ada sesuatu yang tertinggal. Keakraban. Kelambatan yang menenangkan. Kesederhanaan yang tidak tergesa. Ada yang hilang, meski sulit menunjuknya dengan pasti.
Apakah aku masih mengenali kampung ini? Tentu saja. Muara Labuh masih hidup dalam ingatanku. Ia masih terasa sebagai milik. Namun di saat yang sama, kadang merasa hanya tamu. Kawan-kawan masa kecil hampir semuanya merantau. Rumah-rumah banyak yang sunyi. Kampung terasa sepi, meski cinta pada kampung halaman tak pernah benar-benar mati. Jika kampung berubah sedemikian rupa dan keluarga satu per satu pergi, di mana sebenarnya tempat pulang itu?
Hal yang mengagetkan aku saksikan adalah antrian pom bensin yang menular Dimana mana. Mobil perlu antri untuk isi bensin sampai 2-5 jam. Itupun belum tentu dapat. Itu konon telah terjadi sejak setahun terakhir di seluruh Sumatra Barat.
Yang paling menyedihkan sejak aku datang di bandara Minangkabau, mengelilingi kota Padang, sampai akhirnya tiba di Muara Labuh, adalah menyaksikan kerusakan lingkungan yang kian parah. Dimana mana banyak longsor dan potensi longsor.
Di lokasi-lokasi longsor, kayu-kayu besar masih tergeletak memenuhi lereng dan alur sungai. Ia menjadi pemandangan sehari-hari yang menyayat perasaan. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa bencana; ia adalah jejak penebangan yang rakus. Padahal hutan-hutan itu dahulu menjaga kelestarian alam, menahan air, menyejukkan udara, dan memastikan kehidupan tetap seimbang. Menyedihkan melihat bagaimana pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru berubah menjadi ancaman setelah ditebang tanpa kendali. Kayu-kayu besar terbawa arus hujan, menghancurkan rumah, merenggut korban jiwa. Dan ironisnya, banyak kayu itu berasal dari kawasan hutan lindung. Yang seharusnya melindungi, justru melukai. Yang disebut dijaga, justru menjadi sumber petaka.
Dalam khazanah Minangkabau, alam tidak pernah diposisikan sebagai objek yang boleh diperlakukan semaunya. Pepatah lama mengingatkan, Alam takambang jadi guru. Alam yang terbentang adalah pengajar, ia memberi pelajaran tentang batas, keseimbangan, dan akibat. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan sungai dibiarkan rusak, sesungguhnya kita sedang menolak pelajaran itu. Kita memilih lupa, dan lupa sering kali berujung petaka.
Pepatah lain berkata, Sawah ladang bapaga undang, rimbo bapaga adat. Hutan dijaga oleh adat, oleh kesepakatan moral bersama, bukan semata oleh hukum tertulis. Namun hari ini, pagar itu runtuh. Penebangan berlangsung seolah tanpa pengawas. Jika bukan pembiaran, maka itu kegagalan. Jika bukan kegagalan, maka itu kompromi.
Di titik inilah kebijakan kehutanan di Sumatra Barat patut dipertanyakan dengan lebih jujur dan berani. Di atas kertas, regulasi ada. Peta kawasan jelas. Status hutan lindung ditetapkan. Tetapi di lapangan, penebangan berlangsung seolah tanpa mata negara. Negara hadir di meja rapat, tetapi absen di hulu sungai dan lereng bukit.
Yang lebih menyakitkan, ketika bencana datang, yang pertama disalahkan adalah hujan dan alam. Padahal hujan hanyalah pemicu. Akar masalahnya adalah kebijakan yang longgar, pengawasan yang lemah, dan keberanian politik yang tumpul. Para perusak hutan menghilang, sementara warga kampung menanggung lumpur, kehilangan rumah, bahkan kehilangan nyawa.
Karena itu, pulang ke kampung tidak seharusnya berhenti sebagai peristiwa personal. Ia mesti menjadi kesadaran kolektif. Kampung adalah tempat paling indah untuk tinggal jika alamnya dijaga, jika hutannya dihormati, jika sungainya dipelihara. Mencintai kampung tidak cukup dengan rindu dan nostalgia; ia menuntut keberpihakan, keberanian bersuara, dan kesediaan menjaga—meski hasilnya mungkin tak kita nikmati sendiri.
Tahun baru ini aku tidak menulis resolusi. Aku menulis kesadaran. Aku pulang bukan hanya untuk menemani yang sakit dan mendoakan yang telah pergi, tetapi juga untuk mengingatkan diriku sendiri: bahwa pulang sejati adalah ikut memelihara.
Tahun baru ini aku tidak meniup terompet. Aku hanya berdoa. Untuk kakak tertuaku yang masih terbaring dalam sunyi. Untuk ibuku yang telah lebih dulu pulang. Untuk kampung yang kucintai agar tidak semakin kehilangan dirinya. Dan untuk diriku sendiri—semoga setiap pulang kelak bukan sekadar singgah, melainkan ikhtiar untuk menjaga.
Muara Labuh 1 Januari 2026
Elza Peldi Taher

