![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Kehidupan manusia sehari-hari, termasuk pengalaman kita tentang waktu, adalah bagian dari proses panjang kosmos yang berupaya memahami dirinya sendiri. Dengan kata lain, rutinitas harian kita bukan hanya jam dan menit, tetapi bagian dari narasi besar alam semesta.” — Neil deGrasse Tyson(67), Astrophysics for People in a Hurry(2017)
Refleksi waktu di awal tahun 2026 menyingkap paradoks antara fisika, filsafat, dan imajinasi: dari Hawking hingga Meillassoux, dari Aristoteles hingga Paul Davies, manusia terus bergulat dengan misteri waktu dan akhir semesta.
Anno Modo 2026, manusia kembali menatap kalender baru dengan kesadaran bahwa waktu adalah satu-satunya harta yang tak bisa ditambah.
Frodo dan Gandalf dalam kisah J.R.R. Tolkien (1892-1973),The Fellowship of the Ring(1954), mengingatkan bahwa kita tidak memilih zaman, hanya memilih bagaimana mengisi waktu yang diberikan.
Diungkapkan Toelkin di kisah itu:
"Aku berharap hal itu tidak perlu terjadi di zamanku," kata Frodo. “Aku juga," kata Gandalf, "dan begitu pula semua orang yang hidup untuk melihat masa-masa seperti itu. Tapi itu bukan keputusan mereka. Yang harus kita putuskan adalah apa yang harus kita lakukan dengan waktu yang diberikan kepada kita."
Hitungan jam, menit, dan hari hanyalah cara sederhana manusia menakar sesuatu yang sesungguhnya tak terukur secara pasti.
Stephen Hawking(1942-2018), fisikawan teoretis dan kosmologi dari Cambridge, melalui A Brief History of Time (1991), membuka tabir fisika waktu dengan bahasa populer. Ia mengisahkan mitos “menara kura-kura” sebagai simbol keterbatasan pengetahuan manusia.
Pertanyaan tentang asal mula alam semesta, sifat waktu, dan kemungkinan kembali ke masa lalu tetap menggantung.
Aristoteles jauh sebelumnya, pada abad ke-4 SM, sudah menegaskan bumi bulat melalui argumen gerhana dan posisi Bintang Utara.
Namun ia tetap menempatkan bumi sebagai pusat kosmos, sebuah pandangan yang kemudian disempurnakan Ptolemy dengan model geosentris.
Hawking mengingatkan bahwa jawaban sains bisa tampak jelas atau justru sama konyolnya dengan menara kura-kura. Filsafat pun tak berhenti menantang.
Quentin Meillassoux(58), filsuf kontemporer dan mengajar di Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dalam After Finitude (2006), menawarkan realisme spekulatif: sebuah filsafat yang menolak keterikatan mutlak pada manusia dan membuka kemungkinan kosmologi baru.
Mengacu disertasi Hizkia Yosie Polimpung di UI (2018) menafsirkan gagasan ini sebagai ontoantropologi, fantasi tentang manusia dan waktu dalam horizon spekulatif.
Waktu juga hadir dalam kisah personal. DariLucy Hawking(55) menulis fiksi ilmiah yang mempopulerkan gagasan ayahnya: George's Secret Key to the Universe(2007)
Sementara, ibu Lucy, Jane Hawking(81) menuturkan romansa dan perjuangan dalam Theory of Everything: Journey to Infinity (2014), yang kemudian difilmkan James Marsh.
Di sini waktu bukan sekadar fisika, melainkan pengalaman cinta, penderitaan, dan keberanian.
Lain pula Paul Davies(79), fisikawan teoretis, astrobiolog, penulis, dan profesor di Arizona State University. dalam Tiga Menit Terakhir(2020) menambahkan lapisan refleksi lain: ia membahas kemungkinan akhir alam semesta, dari keruntuhan kosmik hingga skenario kiamat termal.
Perspektif Davies ini bukan hanya tentang kehancuran, melainkan juga tentang potensi baru yang mungkin muncul dari masa depan semesta.
Davies menegaskan bahwa sains tidak hanya meramal akhir, tetapi juga membuka ruang bagi imajinasi tentang kelanjutan pengalaman manusia.
Memasuki 1 Januari 2026 ini , refleksi atas waktu menjadi lebih dari sekadar hitungan kalender. Ia adalah kosmologi, filsafat, dan kisah manusia.
Aristoteles, Hawking, Meillassoux, Davies—semuanya menunjukkan bahwa waktu adalah misteri yang tak pernah selesai.
Yang bisa kita lakukan hanyalah mengisi menit-menit yang ada dengan keputusan, keberanian, dan imajinasi.
Selamat Tahun Baru 1 Januari 2026
Keluarga Ointoe Sigar.
Reiner Emyot(ReO), Terry Heesye, M. Aldin(MAO), Almitra Putri.
#coverlagu:
Album Thank You Allah karya Maher Zain(44), asal Swedia keturunan Lebanon, dirilis pada 1 November 2009 oleh Awakening Records.
*Ditulis ulang dari satu risalah buku saya; 65 Risalah Akal Profetis(2023).
#creatordigital by MAO.

