Type Here to Get Search Results !

Sang Maecenas Alaf 21

oleh Reo Fiksiwan

„Masa lalu dan masa kini saling memengaruhi; masing-masing menyiratkan yang lain dan ... masing-masing hidup berdampingan dengan yang lain. 

Imperialisme memperkuat perpaduan budaya dan identitas dalam skala global. Namun, sebagaimana manusia menciptakan sejarah mereka sendiri, mereka juga menciptakan budaya dan identitas etnis mereka sendiri.” — Edward W. Said(1935-2003), Culture and Imperialism(1993; Mizan 1995).

Istilah Maecenas berasal dari bahasa Latin diambil dari nama seorang negarawan Romawi Gaius Cilnius Maecenas (±70–8 SM). 

Ia dikenal sebagai pelindung seni dan sastra, khususnya bagi penyair besar seperti Horatius — pencetus fungsi sastra sebagai utile et dulce — dan Virgil dengan magnum opusnya: The Aeneid. 

Karena perannya sebagai patron, namanya kemudian menjadi istilah umum untuk menyebut seorang dermawan atau pelindung seni dan budaya. 

Tradisi ini berlanjut di Eropa, awal misalnya dari Duke Karl Eugen dan Christian Friedrich von Theodor Dalberg, direktur teater Mannheim Kaisar Theodore, menyokong setiap pementasan Friedrich Schiller(1759-1805) di Mannheim Theater Weimar, bahkan ketika pentas perdana 13 Januari 1782 drama Raüber(Perampok) menimbulkan isu skandal. 

Di Indonesia, jejak Maecenas mutakhir bisa ditelusuri pada sosok yang memelopori pentas drama Rendra, Panembahan Reso(1986), Ciputra Group yang berlangsung tujuh jam di Istora Senayan Jakarta dan ditonton 15.000 orang, saya salah satunya.

Setelah itu, Setiawan Jodi(76), mensponsori pentas besar Iwan Fals dan grup musik Kantata Takwa pada tahun 1990–1991, termasuk konser legendaris di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta yang melejitkan lagu Bento dan Bongkar sebagai ikon perlawanan sosial.

Kini, dalam alaf ke‑21, muncul figur baru yang layak disebut Sang Maecenas: Denny Januar Ali, atau lebih dikenal sebagai Denny JA. 

Lahir di Palembang, Sumatra Selatan, 4 Januari 1963, ia pernah menjadi aktivis kere pendiri Kelompok Studi Proklamasi di Universitas Indonesia. 

Perjalanan pendidikan dan intelektualnya diselesaikan sebagai Sarjana Hukum, Universitas Indonesia, Master of Public Administration, University of Pittsburgh hingga Ph.D., Ohio State University dalam disiplin ekonomi kebijakan publik. 

Sepulang dari studi Ph.D. , ia menjadi pialang demokrasi melalui Lembaga Survei Indonesia(LSI), yang berperan penting dan pioner dalam mengawal dinamika politik elektoral. 

Saat ini, ia menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), sebuah posisi publik di BUMN yang menandai kiprahnya di ranah strategis negara.

Namun, yang membuatnya layak disebut Sang Maecenas bukan hanya jabatan publik atau kekayaan yang diumumkan melalui LHKPN sebesar 3,09 triliun rupiah, melainkan bagaimana sebagian dari kekayaan itu digelontorkan untuk mendukung aktivitas sains dan kebudayaan. 

Melalui Denny JA Foundation, ia membiayai Perkumpulan Penulis Satupena, Yayasan Esoterika, KEAI, serta memberi anugerah bagi penulis seperti Dermakata Award. 

Ia juga memelopori genre baru dalam kesusastraan Indonesia, yakni puisi esai sejak 2012, yang membuka ruang inovasi dalam ekspresi literer. 

Dengan Satupena, Denny JA merambah dunia internasional, menerima Literary Innovation Award dari BRICS, sebuah pengakuan global yang menempatkannya selangkah lebih dekat ke panggung Nobel Sastra.

Dalam perspektif Edward W. Said melalui Culture and Imperialism, kiprah seorang Maecenas seperti Denny JA dapat dibaca sebagai dialektika antara kekuasaan, budaya, dan resistensi. 

Ia bukan sekadar penyandang dana, tetapi juga aktor yang membentuk lanskap kebudayaan dengan memberi ruang bagi suara-suara baru. 

Sementara, Malcolm Gladwell(67), penulis di The New Yorker sejak 1996 dan Co-founder perusahaan podcast Pushkin Industries, 

dalam Outliers: The Story of Success(2008), menekankan bahwa keberhasilan besar lahir dari kombinasi bakat, kerja keras, dan kesempatan.

Sihir kutipan Gladwell: “Jika kamu bekerja cukup keras, bersikap tegas, dan menggunakan pikiran serta imajinasimu, kamu dapat membentuk dunia sesuai keinginanmu.”

Denny JA, dengan kekayaan dan jejaringnya, menyediakan kesempatan itu bagi generasi penulis dan seniman pendahulu dan kini. 

Mengacu pada kritik Mike Featherstone(80), Profesor Sosiologi emeritus di Goldsmiths, University of London dalam Consumer Culture and Postmodernism(1991, edisi 2007) mengingatkan bahwa budaya global kini bergerak dalam arus konsumsi dan kapital. 

Ia juga menegaskan bahwa dalam masyarakat postmodern, budaya konsumen adalah pusat kehidupan sosial, di mana gaya hidup, citra, dan pengalaman baru menjadi lebih penting daripada kebutuhan dasar. 

Dalam konteks ini, peran seorang Maecenas menjadi krusial: ia memastikan bahwa kapital tidak hanya berputar hanya dalam lingkaran pasar instan yang ganas dan rakus, tetapi juga mengalir ke ruang kreatif yang memperkaya nilai-nilai utama dan fundamental peradaban.

Sang Maecenas alaf 21 ini, dengan segala kontroversi dan pencapaiannya, telah menegaskan bahwa harapan bagi kebudayaan di masa depan tidak hanya lahir dari negara atau institusi formal, seperti Kementerian Kebudayaan, tetapi juga dari individu yang berani menginvestasikan kekayaan untuk masa depan seni dan sains. 

Jika Gaius Cilnius Maecenas sejak abad kedelapan sebelum masehi dikenang karena melahirkan Virgil dan Horatius, maka Denny JA dengan sokongan dananya mungkin akan dikenang sebagai pewakaf generasi baru penulis dan seniman Indonesia, yang aktivitas kekaryaan mereka bisa bertahan hingga melampaui 50 tahun ke depan. 

Dalam dunia yang semakin global, ia berdiri sebagai patron yang menjembatani antara politik, ekonomi, dan kebudayaan, menjadikan harapan bukan sekadar kata, melainkan praksis nyata.

Hari ini, Sang Maecenas itu berulang tahun ke-62. Barakallahu fii umuriq.

#credit video dan foto diambil dari kegiatan Retreat Writing Satupena pada 30 September hingga 1 Oktober 2023, La Pointe, Bogor. 

Difasilitasi Denny JA Foundation dan OM Institute dengan narasumber Dr. Okky Madasari, sosiolog-novelis bersama 40 peserta dari berbagai daerah dan saya, salah satu peserta penulisan sempalan dadakan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.