![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Harapan bukanlah penantian pasif atau pemaksaan keadaan yang tidak realistis yang tidak mungkin terjadi. Harapan itu seperti harimau yang berjongkok, yang hanya akan melompat ketika saatnya tiba… Berharap berarti siap setiap saat untuk sesuatu yang belum lahir, namun tidak putus asa jika tidak ada kelahiran dalam hidup kita.” — Erich Fromm(1900-1980), The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology(1968; Pelangi Cendekia Cetakan Kedua 2019).
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, politik selalu berhadapan dengan paradoks: ia bisa menjadi jalan menuju kebebasan, tetapi juga pintu menuju kehancuran.
Fisikawan Albert Einstein(1879-1955), penemu teori relativisme dan meraih Nobel Sains 1921, pernah mengingatkan bahwa „di tengah kesulitan selalu ada kemungkinan.“
Kalimat itu, "In der Mitte von Schwierigkeiten
liegen die Möchligkeiten" bukan sekadar pepatah, melainkan refleksi harapan dari pengalaman seorang ilmuwan yang menyaksikan bagaimana politik tanpa kendali moral melahirkan tragedi Nazi, holocaust, dan perang dunia.
Einstein sadar, sains tidak mampu menghentikan paranoia Hitler; yang diperlukan adalah kebijaksanaan, keberanian, dan harapan.
Harapan itu — ketika sejumlah politisi di era Hitler sedang kacau dan kebingungan — ia menganjurkan agar para politisi itu menemui Freud untuk memperoleh psikologi harapan.
Demikian pula yang menjadi inti dari politik Homo Esparans bukan cuma filsafat sosial humanisme Fromm, melainkan dialami langsung oleh psikistri dari pemikiran Viktor Frankl(1905-1997).
Frankl, melalui buku edisi Man’s Search for Meaning(1959) atau Jerman: …trotzdem Ja zum Leben sagen. Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager(1946), menunjukkan bahwa manusia bisa bertahan bahkan dalam kamp konsentrasi, asalkan ia menemukan makna.
Sementara Fromm, dalam Revolution of Hope, menegaskan bahwa teknologi yang berkembang pesat hanya akan menjadi pandemi baru jika tidak diimbangi dengan orientasi humanistik.
Harapan, bagi Fromm, bukan sekadar optimisme kosong, melainkan energi sosial yang mampu mengubah arah sejarah.
Dalam perspektif teologi Kristen, Jürgen Moltmann(1926-2024), kelak menegaskan dalam Theologie der Hoffnung: Untersuchungen zur Begründung und zu den Konsequenzen einer christlichen Eschatologie(1964) bahwa iman(Glaube) secara luas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan keberanian untuk menatap masa depan dengan keyakinan bahwa setiap penderitaan mengandung kemungkinan pembebasan.
Filsafat Fromm maupun teologi Moltmann menggunakan obyek humanisme mereka dibentuk tidak sekedar istilah homo faber(manusia kerja), tapi wujud sejati yang tumbuh sebagai homo esparans(manusia berpengharapan).
Dalam konteks Indonesia hari ini, setahun lebih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan betapa krisis politik multidimensi terus menguji fondasi bangsa ini.
Dari holocaust megakorupsi yang mencederai kepercayaan publik, reformasi Polri yang tersendat, institusi hukum yang rapuh, perilaku legislator dan eksekutif yang sering abai terhadap etika publik, problem struktural di kawasan industri seperti IMIP, bencana banjir di Sumatra dan Aceh hingga polemik tak berujung atas ijazah palsu mantan presiden dan wakil presiden, semuanya menandai betapa politik kita masih jauh dari cita-cita keadilan.
Apalagi berpengharapan? Krisis multidimensi ini bukan sekadar soal teknis pemerintahan, melainkan soal orientasi: apakah politik dijalankan sebagai alat kekuasaan semata, atau sebagai ruang harapan bagi rakyat agar fakta dan idealitas homo esparans bukan fiksi atau ilusi.
Di tengah situasi ini, harapan harus kembali menjadi fondasi politik. Harapan bukan sekadar retorika kampanye berbusa-busa maupun pidato pejabat di semua level yang datar dan hampa, melainkan praksis yang menuntut keberanian moral untuk bertindak.
Politik harapan, homo esparans, berarti menolak sikap sinis bahwa korupsi adalah takdir, bahwa banjir adalah nasib, atau bahwa ijazah palsu hanyalah permainan elite.
Politik homo esparans menuntut transparansi, keberanian membongkar kebusukan, dan komitmen membangun institusi yang sehat dibarengi meritokrasi personal kuat dan kokoh.
Ia menuntut agar teknologi yang berkembang pesat tidak hanya melayani kepentingan elit dan oligarki, tetapi juga memperkuat partisipasi rakyat.
Ia menuntut agar hukum tidak hanya menjadi teks fiksi yang indah, tetapi juga praksis keadilan yang luas merata.
Seperti bunyi firman: „setiap kesulitan diiringi kemudahan“, maka politik homo esparans mengajarkan bahwa krisis bukanlah akhir.
Itu pintu menuju kemungkinan baru. Harapan harus tulbuh sebagai energi mentalitas bangsa yang menolak menyerah pada absurditas maupun gelapnya realitas.
Harapan(esparans) adalah keberanian untuk percaya bahwa bangsa ini bisa keluar dari lingkaran korupsi elit sistemik, ketidakadilan tajam ke bawah, dan bencana berulang-ulang dengan kerancuan manajemen mitigasinya hingga kelancungan litigasi.
Dengan demikian, harapan adalah keyakinan psikologi mental bahwa politik bisa kembali menjadi ruang etis yang sangat luas, bukan sekadar arena perebutan kuasa yang dibatasi oleh waktu.
Dan harapan itu, sebagaimana ditegaskan Moltmann, bukan ilusi, melainkan tugas sejarah yang harus kita jalani bersama. Politik homo esparans adalah politik berpengharapan yang menolak putus asa.
Politik homo esparans percaya bahwa di tengah kesulitan, selalu ada jalan keluar. Politik ini pun yang menjadikan iman, sains, dan moralitas sebagai fondasi untuk merancangbangun masa depan generasi mendatang.
Dengan kata lain, politik homo esparans bukan hanya soal praktek kekuasaan belaka yang lebih sering lacur, tetapi tentang makna hidup bersama.
Sejatinya, politik homo esparans berani menatap masa depan dengan keyakinan bahwa bangsa ini — meski dililit krisis multidimensi sekaligus mengidap dimensia dan amnesia — tetap memiliki kemungkinan untuk terus bangkit.
Homo esparans menolak tunduk. Ia tegak lurus di atas reruntuhan kebobrokan mentalitas dan terus menyandang moral bangsa yang tegar.
#coverlagu:
Ali Dawud alias David Howard Wharnsby, lahir pada 27 Juni 1972 di Kitchener, Ontario, Kanada,
adalah musisi nasheed kontemporer.
Ia, dengan sapaan Dawud Wharnsby-Ali merilis lagu Voice of Hope pada tahun 2023. Ia juga dikenal sebagai artis muda aktif di ranah musik Islami.
Makna lagu ini adalah seruan spiritual dan motivasi, menekankan harapan, doa, serta kekuatan iman dalam menghadapi tantangan hidup.

