![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Dalam pencemaran lingkungan yang kini meluas ini, bahan kimia adalah mitra jahat dan kurang disadari dari radiasi dalam mengubah sifat dasar dunia—sifat dasar kehidupan di dalamnya.” — Rachel Carson(1907-1964), Silent Spring(1962).
Kabar duka kembali menyelimuti lingkaran aktivis lingkungan di Sulawesi Utara.
Samuel Angkouw, sosok yang akrab disapa Om Inyo, telah berpulang.
Perawakannya lumayan kekar, dengan jambang yang selalu dicukur rapi, membuat wajahnya tampak sangar.
Namun di balik itu, ia dikenal kalem, tenang, dan penuh kesabaran.
Semasa kuliah di Fakultas Sastra Unsrat, Jurusan Bahasa Inggris, angkatan 80-an akhir, wajah sangarnya justru membuat para senior enggan mengerjainya saat masa perploncoan.
Ia menjalani masa kuliah dengan normal, sebelum akhirnya menapaki jalan panjang di Kantor LBH Manado, sembari aktif dalam gerakan mahasiswa dan koalisi LSM yang peduli pada lingkungan hidup.
Sebagai putra Bitung, Samuel Angkouw menjadikan kawasan Danowudu hingga Lembean sebagai ladang advokasi.
Di sana ia belajar bagaimana lingkungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan juga ruang perjuangan.
Bersama Walhi, LBH, dan jaringan LSM lainnya, ia mengawal isu-isu ekologis yang sering terpinggirkan.
Meski tampangnya sangar, ia dikenal kalem, tidak pernah meninggikan suara, dan selalu memilih jalan dialog.
Kemarin, kabar dari sahabat aktivis muda Ivan Korompis menyampaikan bahwa Om Inyo masuk RS Manembo-nembo, lalu dirujuk ke Sentra Medika.
Tak lama berselang, kabar itu berubah menjadi duka: ia meninggal dengan sakit yang tak pernah ia ceritakan.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam lingkaran advokasi lingkungan, ruang yang sulit diisi kembali oleh sosok lain dengan ketenangan dan keteguhan seperti dirinya.
Mengingat Samuel Angkouw berarti mengingat kembali paradoks yang pernah ditulis Rachel Carson dalam Silent Spring: kematian ekologi jauh lebih mengerikan daripada kematian seorang aktivis secara alami.
Namun, kehilangan aktivis seperti Samuel adalah kehilangan ganda, sebab ia adalah suara yang berusaha mencegah kematian ekologi itu sendiri.
Ia berdiri di garis depan, menjaga hutan, air, dan tanah dari eksploitasi, meski tahu bahwa perjuangan itu sering berhadapan dengan kepentingan besar yang tak mudah ditaklukkan.
Kini, Om Inyo telah pergi, tetapi jejaknya tetap tertinggal di jalan-jalan advokasi lingkungan Sulawesi Utara.
Ia adalah pengingat bahwa wajah sangar bisa menyembunyikan hati yang lembut, dan bahwa perjuangan lingkungan adalah kerja panjang yang tidak pernah selesai.
Duka atas kepergiannya adalah duka atas seorang sahabat, sekaligus refleksi bahwa perjuangan yang ia jalani harus terus dilanjutkan.
Sebab, seperti yang diingatkan Carson, jika ekologi mati, maka seluruh kehidupan ikut terkubur.
Namun, pada postingan facebook pada Agustus 2025 silam bersama Lara Angkouw di Tanjung Merah, ia memposting satu bunyi alkitab:
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” [Yesaya 46:4].
Samuel Angkouw telah pergi, tetapi semangatnya tetap hidup dalam setiap langkah kecil menjaga bumi.
#coversongs:
Lagu Save Our Earth karya Nielsduin dirilis pada 26 Juni 2019 melalui Records DK. Lagu ini menjadi bagian dari katalog digitalnya yang menyoroti tema lingkungan.
#credit foto diambil dari laman facebook almarhum.

