![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Berbagai manifestasi sosialisme menghancurkan rakyat dan ekosistem mereka, sedangkan kekuatan Utara dan Barat mampu menyelamatkan rakyat mereka dan sebagian wilayah pedesaan mereka dengan menghancurkan seluruh dunia dan menjerumuskan penduduknya ke dalam kemiskinan yang sangat parah.” — Bruno Latour(1947-2022), We Have Never Been Modern(1991).
Habis dua jam mengikuti webinar Esoterika Forum Spiritualitas dengan topik Rene Guenon dan Kritik Modernitas(20/1/26) dengan narasumber Prof. Dr. F. Budi Hardiman, terbersit pikiran:
Masih penting dan urgenkah membaca ulang asal-usul modernitas mutakhir?
Pertanyaan ini muncul di tengah eskalasi sejarah peradaban yang bergerak dari klasik hingga kini, tanpa prediksi yang mengukuhkan.
Modernitas sebagai unit analisis historis tidak pernah selesai ditafsir, sebab ia terus berhadapan dengan perubahan sains-teknologi dan retaknya humanisme akibat benturan kepentingan elit global.
Membaca ulang tiga tafsir modernitas berarti menempatkan diri dalam arus sejarah yang tidak linear, melainkan penuh belokan, krisis, dan rekonstruksi.
Pertama, Robert B. Marks(76), profesor sejarah di Whittier College, California, dalam edisi keempat bukunya The Origin of the Modern World: A Global and Ecological Narrative (2024), menegaskan bahwa modernitas tidak bisa dipahami hanya sebagai produk Barat, melainkan sebagai hasil interaksi global dan ekologis.
Ia mengkritik narasi lama yang menempatkan Eropa sebagai pusat, dan menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti perdagangan Asia, kolonialisme, serta dinamika ekologi dunia turut membentuk wajah modernitas.
Membaca ulang asal-usul modernitas adalah usaha untuk menghindari reduksi sejarah, sekaligus membuka ruang tafsir mutakhir yang lebih inklusif.
Modernitas bukan sekadar soal metode berpikir, melainkan juga soal relasi kuasa, ekologi, dan humanisme.
Di era ketika teknologi digital dan algoritme mengatur lalu lintas informasi publik, rasionalitas modern perlu ditafsir ulang agar tidak menjadi alat dominasi elit global, melainkan kembali menjadi sarana emansipasi.
Dengan demikian, membaca ulang tiga tafsir modernitas mutakhir tetap penting dan urgen, bukan sekadar nostalgia akademik, melainkan refleksi kritis atas arah peradaban hari ini.
Kedua, Chandra Mukerji, Profesor Emeritus di University of California, San Diego, melalui bukunya Modernity Reimagined: An Analytic Guide(2017), menawarkan penjelasan tentang asal-usul dan proliferasi berbagai jalur modernitas dengan pendekatan analisis budaya dan sosial untuk membaca ulang sejarah modern dari perspektif global.
Mukerji menekankan bahwa modernitas adalah anyaman kompleks dari budaya, politik, dan ekonomi, sehingga tidak bisa direduksi menjadi satu narasi tunggal.
Ketiga, Bruno Latour, filsuf, sosiolog, antropolog sains(Science Po), dan Profesor di Centre de Sociologie de l’Innovation, École des Mines, Paris, menolak klaim bahwa kita pernah modern.
Dalam We Have Never Been Modern, ia menunjukkan bahwa modernitas selalu membangun batas palsu antara alam dan budaya, sains dan masyarakat.
Kritik Latour, penggagas actor–network theory (ANT), sudah mengawali tafsir Marks dan Mukerji dengan menekankan bahwa modernitas bukan sekadar sejarah global, tetapi juga konstruksi epistemologis yang rapuh.
Dengan kata lain, modernitas tidak pernah murni, melainkan selalu bercampur dengan yang non-modern.
Sejak klasik Aristoteles, modern awal Descartes hingga narasi Marks, Mukerji, Latour dan krisis kontemporer, modernitas adalah medan tafsir
yang terus berkembang dan berubah.
Sementara, paradoks modernitas hingga dewasa ini tampak jelas di berbagai belahan dunia, baik Timur maupun Barat.
Di satu pihak, modernitas menjanjikan kemajuan yang ditopang sains dan teknologi sofistiket, berkelindan dari kota-kota besar hingga desa-desa terpencil.
Teknologi digital menghadirkan realitas virtual yang mewah, memungkinkan interaksi lintas benua dalam sekejap, dan membuka peluang pendidikan serta ekonomi baru.
Namun di lain pihak, modernitas juga menghasilkan peradaban destruktif: konflik geopolitik yang tak kunjung reda, perang yang menghancurkan kota dan kehidupan, ketidakadilan sosial yang melebar, serta ketimpangan global yang semakin tajam.
Ketimpangan ini tampak nyaris tak teratasi dan mengerikan, terutama di bidang ekologi dan digitalisasi.
Di ranah ekologi, modernitas menghadirkan paradoks antara janji kemajuan teknologi hijau dan kenyataan krisis iklim yang semakin parah.
Kota-kota futuristik dengan infrastruktur canggih berdiri di atas kerusakan lingkungan, polusi, dan hilangnya biodiversitas.
Di ranah digitalisasi, modernitas menjanjikan keterhubungan universal, tetapi sekaligus menciptakan jurang digital yang dalam.
Di belahan dunia tertentu, sebagian masyarakat menikmati kemewahan realitas virtual dan kecerdasan buatan, sementara jutaan lainnya masih terpinggirkan tanpa akses dasar internet dan rentan jadi korban.
Algoritme yang mengatur lalu lintas informasi publik memperkuat dominasi segelintir korporasi global, sehingga bahasa dan komunikasi digital sering menjadi alat kontrol, bukan ruang emansipasi.
Membaca ulang tiga tafsir modernitas mutakhir berarti menjaga agar sejarah, budaya, dan filsafat — kini dipasok dan diasuh kekuatan sains dan teknologi — tetap menjadi penakar rasionalitas yang berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar pada kepentingan segelintir elit.
Modernitas adalah medan tafsir yang terus bergerak, dan hanya dengan membaca ulang secara kritis kita dapat memastikan bahwa ia tetap menjadi sarana emansipasi, bukan instrumen dominasi.
#coversongs:
Album Modern, berisi 10 lagu karya Rhoma Irama(79) pertama kali dirilis pada 1 Januari 1984.
Album ini menampilkan tema khas Rhoma Irama: kritik sosial, cinta, kesehatan, hingga emansipasi wanita, dengan gaya dangdut yang dipadukan sentuhan pop dan rock.
#credit foto diambil dari karya digital akun X Science girl.

