Type Here to Get Search Results !

Rasionalitas Komunikasi Puitik

oleh ReO Fiksiwan

“Bahasa tidak pernah netral; bahasa selalu sarat dengan makna, kekuatan, dan ideologi.” — Robert Phillipson(84), Linguistic Imperialism(1992).

Kesenjangan bahasa komunikasi publik kini berlangsung dalam dua ruang yang saling bertaut namun sering bertabrakan: ruang daring(online) dan ruang luring(offline). 

Mekanisme algoritme lalu lintas komunikasi dan informasi publik di ruang digital menciptakan percepatan sekaligus kekacauan, di mana bahasa yang semula menjadi medium dialog berubah menjadi senjata verbal. 

Contoh ekstrem, di antaranya, dapat dilihat pada demonstrasi publik di Iran, ketika pemerintah memutus akses komunikasi daring untuk menekan kekacauan rasionalitas komunikasi publik. 

Peristiwa yang berujung pada kematian ribuan demonstran itu memperlihatkan bagaimana bahasa, ketika tidak dikendalikan, dapat menjadi pemicu chaos yang lebih luas.

Atau, dalam ilokusi ujaran seperti sering dipertontonkan Donald Trump di akunnya dan publik langsung kental dengan bahasa kekerasan simbolik ala kritik Bourdieu. 

Sebagai fenomena rekayasa sosial parsial atau piecemeal engineering, dan dalam konteks bahasa digital, Popper menyebut rekayasa dimaksud tampak dalam cara algoritme mengatur percakapan publik. 

Sementara, Dwight Bolinger dalam Language – The Loaded Weapon: The Use and Abuse of Language Today(1980; Cetak Ulang 2021) membahas bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai alat manipulasi, diskriminasi, dan kekuasaan, sehingga menjadi “senjata” dalam komunikasi publik.

Pokok bahasan Bollinger yang dirinci dari bukunya meliputi:

1/ Kebenaran dan “correctness”: 

bagaimana standar bahasa sering dipakai untuk menyingkirkan kelompok tertentu.

2/ Kelas sosial dan dialek: 

bahasa sebagai penanda kelas dan alat diskriminasi.

3/ Manipulasi melalui iklan dan propaganda: 

bahasa dipakai untuk membentuk opini publik.

4/ Diskriminasi seksual dan lainnya: 

bahasa memperkuat stereotip gender dan kelompok minoritas.

5/ Obfuscation resmi: 

pemerintah dan institusi menggunakan bahasa kabur untuk mempertahankan kekuasaan.

Mengutip Phillipson, melalui konsep “linguistic

imperialism” , bahwa bahasa dalam ruang digital

sering menjadi alat dominasi berkomunikasi.

Bahasa ini bisa memaksakan satu cara pandang atas yang lain, sehingga komunikasi publik kehilangan keseimbangan.

Lagi-lagi, cermati dan bandingkan “budi bahasa” Trump(79) dan Ali Khamenei(87) di tengah publik, entah daring maupun luring, menjadi cermin bagaimana rasionalitas komunikasi publik diperkeruh dari ilokusi keduanya? 

Selain itu, imperialisme bahasa — meski kritik Phillipson diarahkan pada para pengguna bahasa Inggris — sebagai pengingat bahwa rasionalitas komunikasi puitik berfungsi untuk mengembalikan bahasa pada makna yang lebih manusiawi, bukan sekadar alat dominasi sekaligus kekerasan verbal. 

Di sisi lain, dari Jonathan Culler melalui strukturalisme puitik mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sistem tanda yang kompleks membentuk makna. 

Ketika bahasa diperlakukan hanya sebagai instrumen politik atau senjata ideologis, maka dimensi puitiknya hilang, dan yang tersisa hanyalah kekerasan verbal. 

Rasionalitas komunikasi puitik hadir sebagai refleksi kritis untuk mengembalikan bahasa pada fungsi estetik dan etisnya.

Dengan demikian, rasionalitas komunikasi publik tidak sekadar menjadi arena pertarungan kata, melainkan ruang penciptaan makna yang lebih manusiawi.

Sejak Aristoteles menulis Poetika, rasionalitas komunikasi puitik telah menjadi acuan bahwa bahasa memiliki kekuatan membentuk imajinasi sekaligus etika. 

Ribuan tahun kemudian, Wittgenstein menghadirkan metode Sprachspiel untuk menunjukkan bahwa bahasa adalah permainan aturan yang mencegah rasionalitas komunikasi memburuk. 

Dengan demikian, rasionalitas komunikasi puitik bukan sekadar teori estetika, melainkan mekanisme pertahanan terhadap kekerasan bahasa. 

Wittgenstein, jika diacu dari Logica-Tractatus, menuntut agar komunikasi dan percakapan publik, baik daring maupun luring, tidak jatuh ke dalam imperialisme linguistik atau senjata verbal, melainkan kembali pada fungsi bahasa sebagai jembatan pengertian dan sarat makna.

Rasionalitas komunikasi puitik, jikapun direka ulang dari komunikasi ruang publik Habermas, bisa dipakai sebagai ilokusi ajakan untuk menata ulang komunikasi publik di era digital. 

Pandangan ini mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga medium untuk menjaga martabat manusia. 

Karena itu, rasionalitas komunikasi puitik, sejak Aristoteles dalam Poetika hingga Wittgenstein dengan Sprachspiel, menekankan bahwa bahasa adalah permainan makna yang bisa menjaga komunikasi publik dari kekerasan verbal.

Akan tetapi, tanpa dorongan kesadaran puitik(poetic funktion), bahasa akan terus melindas sebagai kekerasan verbal dan berpotensi menambah luka sosial percakapan publik dengan memperdalam jurang serta sesat komunikasi publik. 

Dengan rasionalitas komnikasi puitik, kita diajak untuk kembali melihat bahasa sebagai cahaya yang menuntun, bukan gelap yang menyesatkan.

#coversongs:

Light Language Soul Healing karya Ankaa Sound A dirilis pada 10 September 2025 melalui TuneCore. 

Musik penyembuhan berbasis “light language,” yaitu bahasa energi atau frekuensi suara yang diyakini mampu menembus pikiran logis dan berkomunikasi langsung dengan jiwa.

Untuk itu genre musik ini dapat menghadirkan ketenangan, keseimbangan, dan transformasi batin.

#credit foto diunggah dari Youtube bagaimana Ayatullah Ali Khamenei — setelah kerusuhan di Iran — tampil berkomunikasi dengan publik.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.